Pernahkah Anda membayangkan sebuah perusahaan nan dulunya dikenal sebagai perakit ponsel murah, sekarang menjelma menjadi raksasa teknologi nan bisa menciptakan “otak” perangkatnya sendiri? Langkah berani inilah nan baru saja diambil oleh Xiaomi. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengirimkan sinyal kuat kepada bumi bahwa masa depan teknologi tidak lagi hanya didominasi oleh pemain lama, tetapi juga oleh penemuan berdikari nan lahir dari ambisi besar.
Dalam sebuah seremoni penghargaan internal nan digelar di Tiongkok baru-baru ini, CEO Xiaomi, Lei Jun, memberikan panggung unik bagi tim-tim inovator di perusahaannya. Acara ini bukan sekadar pembagian bingkisan tahunan biasa, melainkan sebuah pernyataan publik nan tegas mengenai arah masa depan perusahaan. Dari 154 proyek nan diajukan oleh 10 departemen berbeda, persaingan mengerucut pada penemuan di bagian chip, pencitraan, AI, hingga material canggih.
Namun, sorotan utama malam itu jatuh pada tim developer chip XRING O1. Kemenangan ini bukan tanpa alasan, mengingat terobosan nan mereka capai dianggap sebagai tonggak sejarah baru bagi Xiaomi. Dengan pencapaian ini, Xiaomi seolah mau membuktikan bahwa mereka siap melepaskan ketergantungan pada pihak ketiga dan membangun ekosistem teknologi nan sepenuhnya berdikari dan terintegrasi.
Masuk Klub Elit Semikonduktor
Bintang utama dari pengumuman tersebut adalah XRING O1, sebuah chip seluler flagship nan diklaim Xiaomi dikembangkan dan dirancang secara independen di dalam perusahaan (in-house). Spesifikasinya pun tidak main-main. Chip ini menggunakan proses manufaktur 3nm generasi kedua dan mengusung arsitektur CPU deca-core dengan konfigurasi quad-cluster. Ini adalah spesifikasi kelas atas nan biasanya hanya kita temui pada produk dari produsen chip dunia ternama.
Kehadiran XRING O1 sekaligus menandai pencapaian simbolis nan sangat penting. Xiaomi menyatakan diri sebagai perusahaan pertama di Tiongkok daratan, dan hanya perusahaan keempat di dunia, nan sukses merilis chip seluler flagship kelas 3nm. Prestasi ini menempatkan Xiaomi dalam sebuah klub eksklusif di tengah persaingan ketat industri semikonduktor, nan belakangan ini kerap dibayangi rumor krisis chip global.
Ambisi “Grand Convergence” 2026
Lei Jun menegaskan bahwa chip hanyalah permulaan dari strategi jangka panjang mereka. Dalam pidatonya, dia memaparkan visi besar untuk tahun 2026 nan disebutnya sebagai “grand convergence” alias konvergensi agung. Rencananya, Xiaomi bakal mengintegrasikan tiga komponen kunci dalam satu perangkat: chip nan dikembangkan sendiri, sistem operasi buatan sendiri, dan model AI skala besar nan juga dikembangkan secara internal.
Strategi ini bermaksud untuk menciptakan pengharmonisan sempurna antara perangkat keras dan perangkat lunak. Jika visi ini terwujud, pengguna Xiaomi mungkin bakal merasakan pengalaman nan jauh lebih mulus dibandingkan sebelumnya. Hal ini juga menjadi sinyal bagi pengguna setia untuk mulai memperhatikan siklus perangkat mereka, terutama bagi Anda nan tetap menggunakan ponsel Xiaomi jenis lama nan mungkin tidak bakal mendukung teknologi masa depan ini.
Investasi Gila-gilaan Demi Riset
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Xiaomi tidak segan-segan merogoh kocek sangat dalam. Lima tahun lalu, perusahaan telah berjanji untuk menginvestasikan 100 miliar yuan dalam riset dan pengembangan (R&D) teknologi inti. Faktanya, mereka telah melampaui sasaran tersebut dengan pengeluaran mencapai sekitar 105 miliar yuan sejauh ini. Angka nan dahsyat untuk sebuah komitmen teknologi.
Tidak berakhir di situ, mulai tahun ini, Xiaomi berencana melipatgandakan taruhannya. Lei Jun mengumumkan rencana investasi tambahan sebesar 200 miliar yuan untuk lima tahun ke depan. Dana segar ini bakal difokuskan secara tajam pada pengembangan chip, kepintaran buatan (AI), dan sistem operasi. Langkah ini diambil untuk memastikan Xiaomi mempunyai kelebihan kompetitif jangka panjang nan susah ditiru oleh para pesaingnya.
Memperkuat Ekosistem “Manusia, Mobil, dan Rumah”
Semua investasi teknologi canggih ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: memperkuat ekosistem “People, Car, and Home” milik Xiaomi. Dengan pendekatan full-stack—menguasai teknologi dari hulu ke hilir—Xiaomi berambisi dapat memberikan pengalaman pengguna nan betul-betul terhubung. Bayangkan sebuah skenario di mana ponsel, mobil listrik, dan perangkat rumah pandai Anda beraksi dengan otak nan sama dan bahasa pemrograman nan seragam.
Strategi ini sejalan dengan langkah garang perusahaan dalam memperluas jangkauan bentuk mereka, seperti inisiatif terbaru untuk memperkuat ekosistem Xiaomi melalui pembukaan gerai-gerai baru. Pada akhirnya, Xiaomi mau memastikan bahwa penemuan teknologi nan mereka kembangkan di laboratorium betul-betul dapat dirasakan manfaatnya oleh pengguna dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi trofi di lemari penghargaan.