Mengenal Zram Dan Kenapa Lebih Baik Dibanding Swap Biasa

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Didalam video nan dipublikasikan oleh Kepoin Tekno di Youtube, mungkin kita sering kali mendengar mengenai ZRAM nan dipakai mas febian untuk meningkatkan performa dari perangkat dengan RAM nan terbatas. Nah lantaran kebetulan saya juga pakai perangkat nan sama ialah GEEKOM A5 sekaligus juga pengguna Linux — meskipun saya pakai ElementaryOS dan bukan CachyOS, mari kita telaah sedikit mengenai apa itu ZRAM.

Baca Juga : Review GEEKOM A5 R7 – 5825U: Mini PC Powerful untuk Kerja & Gaming Ringan

Apa itu ZRAM?

ZRAM sendiri merupakan sebuah sistem kompresi memori nan memungkinkan sistem membikin swap virtual langsung ke dalam RAM, nah berbeda dengan swap biasa nan menggunakan media penyimpanan internal seperti HDD ataupun SSD, ZRAM ini bisa dibilang dia menyimpan info swap dalam corak terkompresi di RAM itu sendiri.

Jadi, saat RAM perangkat nyaris penuh, info nan jarang digunakan bakal dikompresi dan dipindahkan ke ZRAM ini guys, dimana itu membikin sistem seolah mempunyai RAM tambahan tanpa perlu mengakses storage bentuk nan ada.

Untuk langkah kerjanya sendiri, pertama sistem bakal membikin block device ZRAM di RAM, dimana info nan bakal diswap dikompresi menggunakan algoritma seperti LZ4 alias ZSTD dengan support CPU, kemudian info terkompresi disimpan di RAM, dan saat info dibutuhkan kembali, sistem mengekstraknya dengan sangat cepat, lantaran bagaimanapun, lantaran semua proses terjadi di RAM, latensinya jauh lebih rendah dibanding swap berbasis disk biasa.

    Cara Install ZRAM

    Beberapa distro mungkin sudah menyediakan ZRAM secara default sebagai pengganti swap konvensional, namun jika belum ada dan mau Anda pakai juga, Anda cukup install seperti biasa dengan perintah berikut :

    sudo apt update
    sudo apt install zram-tools

    Nah perintah tersebut bisa Anda coba pakai di linux berbasiskan Debian, Ubuntu dan semua familinya. Jika Anda pakai Arch silahkan disesuaikan, sementara linux based on Fedora harusnya sudah menghadirkan ZRAM secara preinstalled.

    Silahkan cek dengan perintah berikut untuk memandang apakah ZRAM sudah aktif dan terinstall di sistem.

    swapon --show

    Diatas bisa dilihat bahwa saya menggunakan dua swap, satu swap konvensional dan ZRAM nan tadi kita install, untuk priority-nya sendiri, ZRAM sebagai utama dan Swap Disk bakal dipakai untuk cadangan. Jadi jika RAM bentuk saya ini sudah penuh, ZRAM bakal membantu mengkompresi info di RAM, jika sudah betul benar darurat dan penuh banget, kelak Swap disk bakal mulai berjalan.

    Dengan kombinasi ini, jelas sangat ideal untuk sistem sebagai jaga jaga RAM bentuk saya betul benar terpakai semua, meskipun itu sangat jarang banget.

    Kenapa ZRAM Lebih Baik dari Swap Biasa

    Nah untuk ZRAM sendiri memang sering kali dikatakan dia lebih baik dari Swap biasa, dan ini bukan tanpa alasan, lantaran jelas performa pemrosesan info lebih baik dan responsif, akses RAM nan dikompresi tetap berkali kali lipat lebih sigap dibanding membaca info dari SSD, apalagi NVME sekalipun, apalagi jika dibandingkan dengan HDD,

    Selain itu, dengan support ZRAM, ini bakal mengurangi beban SSD nan bisa berakibat pada kesehatan jangka panjang SSD nan tidak selalu dipakai untuk write info terus menerus, imbasnya TBW jadi lebih kecil.

    Untuk Anda nan pakai RAM 16 GB, metode ini bisa berfaedah banget guys, apalagi jika Anda biasa melakukan multitasking dan belum ada biaya lebih untuk upgrade RAM ke ukuran nan lebih besar mengingat nilai RAM saat ini jauh lebih mahal.

    Baca Juga : Harga RAM Naik, Spesifikasi Smartphone Terancam Turun!

    Selain itu, penggunaan ZRAM sendiri sangat cocok untuk perangkat laptop lantaran daya nan dipakai bisa dibilang lebih mini jika dibandingkan dengan swap biasa, meskipun memang sih dalam penggunaan harian, ini nyaris tidak terasa

    Namun perlu diketahui bahwa efektifitas ZRAM ini tidak selalu bagus loh, lantaran ZRAM tetap menggunakan CPU untuk proses kompresi dan dekompresi. Jika CPU nan Anda pakai kurang kuat, mungkin dia bakal kurang maksimal, selain itu, jika Anda sudah pakai RAM besar, anggaplah sudah pakai 32GB +, maka mungkin penggunaan ZRAM nyaris sama sekali tidak terpakai.

    Apakah Windows punya metode ini?

    Jawabannya iya guys, meskipun namanya bukan ZRAM alias ada aplikasi serupa di Windows, namun saat ini Windows punya metode serupa ialah Memory Compression (yang bisa Anda lihat langsung di Task Manager).

    Jadi saat RAM mulai penuh, Windows mengompresi info aplikasi di RAM, dimana semua info terkompresi disimpan di RAM, bukan langsung dipindahkan ke pagefile, secara umum sih ini mirip konsep ZRAM, tapi bukan swap device terpisah.

    Untuk langkah kerjanya sendiri, di Windows sederhana saja guys, ketika RAM mencukupi, maka aplikasi bakal aktif pakai RAM bentuk seperti biasa, namun saat tekanan RAM mulai tinggi, Windows bakal mengkompresi hlamaan memory nan jarang dipakai, namun jika RAM betul benar tidak cukup, info terkompresi tersebut bakal dipindahkan ke pagefile di disk untuk jadi langkah terakhir.

    Nah apakah Anda pakai ZRAM juga? jika iya komen dibawah guys dan distro linux apa nan Anda gunakan? Jika ada kesalahan dalam pembahasan teknis di tulisan ini minta koreksi juga dibawah guys, terima kasih.


    Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

    Written by

    Gylang Satria

    Tech writer nan sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

    Post navigation

    Previous Post

    Selengkapnya