Xiaomi 17 Air Batal Rilis: Bodi 5,5mm Cuma Angan-angan?

Sedang Trending 13 jam yang lalu

Telset.id – Ambisi Xiaomi untuk mendobrak pemisah kreasi smartphone tampaknya kudu tertahan di meja gambar. Kabar terbaru menyebut bahwa proyek ambisius mereka, Xiaomi 17 Air, resmi dihentikan. Padahal, perangkat ini digadang-gadang bakal menjadi salah satu ponsel tertipis di bumi dengan ketebalan nan nyaris tidak masuk akal.

Berdasarkan info nan beredar, Xiaomi 17 Air awalnya dirancang dengan ketebalan hanya 5,5mm. Angka ini tentu sangat dahsyat jika dibandingkan dengan standar flagship masa sekarang nan rata-rata mempunyai ketebalan di atas 7mm hingga 8mm. Namun, angan untuk menggenggam perangkat setipis kertas karton tebal ini kudu dikubur dalam-dalam lantaran Xiaomi memutuskan untuk membatalkan proyek tersebut.

Keputusan ini tentu mengejutkan banyak pihak, terutama para fans teknologi nan sudah menantikan penemuan kreasi radikal dari raksasa teknologi asal China tersebut. Pembatalan ini memicu spekulasi mengenai tantangan teknis nan mungkin dihadapi tim insinyur Xiaomi dalam merealisasikan Xiaomi 17 Air.

Ambisi Desain vs Realita Teknis

Menciptakan smartphone dengan ketebalan 5,5mm bukanlah perkara mudah. Di kembali estetika nan menawan, terdapat mimpi jelek bagi para insinyur perangkat keras. Ruang internal nan sangat terbatas memaksa produsen untuk melakukan kompromi besar-besaran. Isu utama nan sering menjegal proyek semacam ini adalah kapabilitas baterai dan manajemen panas.

Dengan bodi setipis itu, menanamkan baterai berkapasitas standar (misalnya 5000 mAh) adalah perihal nan mustahil secara fisik, selain Xiaomi menemukan teknologi baterai baru nan revolusioner. Selain itu, sistem pendingin untuk Chipset Xiaomi kelas atas memerlukan ruang untuk sirkulasi udara alias vapor chamber nan memadai agar perangkat tidak melepuh saat digunakan.

Kasus pembatalan proyek ponsel “Air” alias ultra-tipis sebenarnya bukan perihal baru di industri ini. Tren mengejar ketipisan ekstrem seringkali berbenturan dengan durabilitas struktural. Kita tentu ingat kejadian bendgate nan pernah menghantui beberapa produsen besar. Sebuah perangkat dengan ketebalan 5,5mm mempunyai akibat melengkung alias patah nan jauh lebih tinggi saat diletakkan di saku celana, dibandingkan dengan ponsel berdesain konvensional.

Tampaknya, Xiaomi bukan satu-satunya nan mengalami hambatan ini. Kompetitor lain juga dilaporkan mengalami kesulitan serupa. Kabar mengenai Meizu 22 Air nan juga batal rilis memperkuat dugaan bahwa teknologi saat ini belum sepenuhnya siap untuk mengakomodasi kreasi ultra-tipis tanpa mengorbankan performa dan pengalaman pengguna secara signifikan.

Fokus pada Fungsionalitas

Pembatalan Xiaomi 17 Air bisa dilihat sebagai langkah logis dan dewasa dari Xiaomi. Daripada memaksakan merilis produk nan “cantik tapi rapuh” alias mempunyai daya tahan baterai nan menyedihkan, mereka memilih untuk menarik rem darurat. Ini menunjukkan pergeseran konsentrasi dari sekadar pamer keahlian kreasi menjadi prioritas pada fungsionalitas dan reliabilitas produk.

Meskipun Xiaomi 17 Air batal, penemuan Xiaomi di sektor lain tetap berjalan. Mereka terus memperluas ekosistem AIoT mereka dengan produk-produk nan lebih matang, seperti Xiaomi Watch 5 nan menawarkan efisiensi baterai, alias perangkat audio terbaru mereka.

Bagi konsumen nan mendambakan ponsel tipis, berita ini mungkin mengecewakan. Namun, setidaknya kita terhindar dari membeli perangkat mahal nan mungkin kudu diisi dayanya tiga kali sehari alias patah hanya lantaran kita lupa mengeluarkannya saat duduk. Xiaomi tampaknya belajar bahwa dalam bumi teknologi, menjadi nan paling tipis tidak selalu berfaedah menjadi nan terbaik.

Selengkapnya