Dunia teknologi kembali dikejutkan dengan manuver garang dari Mark Zuckerberg. Dalam sebuah makan malam eksklusif nan digelar di Ruang Makan Negara Gedung Putih berbareng Presiden AS Donald Trump dan para pemimpin teknologi lainnya, CEO Meta ini tidak hanya sekadar bersantap malam. Pertemuan ini menjadi latar belakang dari serangkaian pengumuman strategis nan menegaskan ambisi Meta untuk mendominasi masa depan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI). Langkah ini bukan sekadar pembaruan rutin, melainkan sebuah transformasi esensial dalam langkah raksasa teknologi ini beroperasi.
Di tengah persaingan ketat industri teknologi global, Zuckerberg baru saja mengonfirmasi bahwa mantan personil majelis dewan Meta, Dina Powell McCormick, bakal secara resmi berasosiasi kembali ke dalam struktur pelaksana perusahaan. Namun, kali ini perannya jauh lebih sentral dan krusial. McCormick didapuk sebagai Presiden dan Wakil Ketua (Vice Chairman), sebuah posisi nan menempatkannya tepat di jantung pengambilan keputusan strategis perusahaan. Penunjukan ini bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejak McCormick nan mumpuni dalam menjembatani kepentingan korporasi dengan kebijakan publik.
Langkah ini diambil seiring dengan visi besar Meta untuk membangun prasarana komputasi nan belum pernah ada sebelumnya. Zuckerberg menyadari bahwa untuk memenangkan perlombaan menuju “superintelligence” AI, sekadar mempunyai algoritma canggih tidaklah cukup. Diperlukan fondasi bentuk dan daya nan masif untuk menopang ambisi tersebut. Inilah kenapa kehadiran figur seperti McCormick dianggap vital untuk memuluskan jalan Meta dalam bermusyawarah dengan pemerintah dan lembaga finansial dunia demi merealisasikan proyek raksasa mereka.
Inti dari strategi baru ini adalah sebuah inisiatif nan diberi nama “Meta Compute”. Zuckerberg secara gamblang menjelaskan bahwa inisiatif ini bermaksud untuk mengawasi investasi prasarana Meta nan sangat luas. Skala proyek ini betul-betul mencengangkan dan susah dinalar dengan standar industri saat ini. Dalam pembaruan terbarunya, Zuckerberg menyebut bahwa Meta berencana membangun kapabilitas daya hingga puluhan gigawatt dalam dasawarsa ini. Bahkan, sasaran jangka panjangnya mencapai ratusan gigawatt alias lebih.
Angka ini menunjukkan sungguh seriusnya Meta dalam mempersiapkan diri menghadapi ledakan kebutuhan komputasi AI di masa depan. “Bagaimana kita merekayasa, berinvestasi, dan berkolaborasi untuk membangun prasarana ini bakal menjadi untung strategis,” ujar Zuckerberg. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa prasarana bukan lagi sekadar pendukung operasional, melainkan senjata utama dalam kejuaraan teknologi. Hal ini sejalan dengan tren di mana perusahaan teknologi mulai merancang perangkat keras mereka sendiri, mirip dengan kerjasama Chipset AI nan dilakukan beragam pemain besar demi efisiensi maksimal.
Tanggung jawab Dina Powell McCormick dalam skema besar ini sangat spesifik namun berat. Ia diharapkan dapat bekerja sama dengan pemerintah dan entitas berdaulat (sovereigns) untuk membangun, menyebarkan, berinvestasi, dan membiayai prasarana Meta. Mengingat skala daya dan lahan nan dibutuhkan, mustahil bagi Meta untuk bergerak sendirian tanpa support izin dan kemitraan strategis tingkat tinggi. Keahlian McCormick dalam diplomasi korporat bakal menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu birokrasi nan seringkali menghalang proyek prasarana skala besar.
Formasi “Dream Team” di Balik Infrastruktur AI
Selain McCormick, Zuckerberg juga merombak struktur kepemimpinan teknisnya untuk mendukung inisiatif Meta Compute. Santosh Janardhan, nan menjabat sebagai kepala teknik dunia Meta, bakal memimpin inisiatif tingkat atas ini. Janardhan bakal menjadi otak di kembali eksekusi teknis pembangunan prasarana bentuk nan direncanakan. Perannya sangat krusial untuk memastikan bahwa visi gigawatt Zuckerberg dapat diterjemahkan menjadi pusat info nan nyata dan berfungsi.
Namun, Meta tidak berakhir di situ. Perusahaan juga merekrut talenta eksternal untuk memperkuat barisan mereka. Daniel Gross, mantan CEO Safe Superintelligence, telah berasosiasi untuk memimpin grup baru. Grup ini bertanggung jawab atas strategi kapabilitas jangka panjang, kemitraan pemasok, kajian industri, perencanaan, dan pemodelan bisnis. Kehadiran Gross menambah kedalaman strategis Meta, memastikan bahwa setiap dolar nan diinvestasikan telah melalui kalkulasi matang mengenai tren masa depan.
Kombinasi antara skill teknis Janardhan, visi strategis Gross, dan keahlian diplomasi McCormick menciptakan sebuah tim nan solid. Struktur ini dirancang untuk mengatasi tantangan multidimensi dalam membangun prasarana AI: mulai dari tantangan teknis, rantai pasok, hingga halangan regulasi. Ini mirip dengan gimana produsen perangkat keras seperti Asus terus berinovasi, misalnya dengan Liquid Metal Cooling untuk menjaga performa tetap optimal di tengah beban kerja tinggi, namun dalam skala industri nan jauh lebih masif.
Energi Nuklir dan Investasi Rp 9.000 Triliun
Salah satu aspek paling menarik dari ambisi Meta adalah kebutuhan energinya nan luar biasa. Untuk menghidupkan “superintelligence” nan dicita-citakan, sumber daya konvensional tampaknya tidak lagi memadai. Meta baru-baru ini mengumumkan tiga perjanjian untuk membeli tenaga nuklir dalam jumlah besar guna memberi daya pada pusat info mereka. Langkah ini menegaskan bahwa masa depan AI sangat berjuntai pada kesiapan daya bersih nan stabil dan masif.
Investasi nan disiapkan pun tidak main-main. Zuckerberg sebelumnya telah menyatakan bahwa dia memperkirakan Meta bakal menghabiskan biaya sebesar USD 600 miliar (sekitar Rp 9.000 triliun) untuk prasarana AI dan pekerjaan mengenai hingga tahun 2028. Angka dahsyat ini menunjukkan pertaruhan besar nan dilakukan Meta. Mereka tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi berupaya mendefinisikan ulang lanskap teknologi global.
Dana sebesar itu bakal dialokasikan untuk beragam keperluan, mulai dari pembangunan pusat data, pengadaan daya nuklir, hingga pengembangan perangkat keras khusus. Meskipun kita sering memandang penemuan di sisi konsumen seperti Laptop Baru dengan spesifikasi tinggi, apa nan dilakukan Meta berada di level prasarana backend nan menjadi tulang punggung internet masa depan. Dengan support finansial nan kuat dan tim kepemimpinan baru nan solid, Meta tampaknya siap untuk mengubah peta persaingan teknologi dunia dalam satu dasawarsa ke depan.