Tarik Lagu Di Spotify, Paramore Dan Hayley Williams Bergabung Dalam Boikot Musik Israel

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Telset.id – Dalam langkah politik nan berani, Paramore dan vokalisnya Hayley Williams secara resmi berasosiasi dengan aktivitas ‘No Music for Genocide’. Keputusan ini menandai babak baru dalam keterlibatan musisi internasional terhadap bentrok kemanusiaan di Gaza, sekaligus mengukuhkan posisi mereka sebagai artis nan tidak takut menyuarakan prinsip moral melalui karya seni.

Gerakan ‘No Music for Genocide’ nan digaungkan sejak September 2025 ini bukan sekadar pernyataan simbolis. Ini adalah tindakan nyata berupa boikot budaya nan mendorong artis dan pemegang kewenangan cipta untuk menarik musik mereka dari platform streaming di Israel. Tindakan ini merupakan respons terhadap apa nan mereka sebut sebagai genosida berkepanjangan di Gaza. Bagi Paramore dan Williams, ini adalah kelanjutan dari konsistensi mereka dalam isu-isu kemanusiaan nan telah dimulai sejak lama.

Paramore

Mekanisme boikot ini dilakukan dengan langkah nan cukup teknis. Para artis nan berasosiasi dalam koalisi ini mengedit wilayah rilis mereka alias mengirimkan permintaan geo-block kepada pemasok dan label. nan menarik, mereka secara aktif mendorong tiga raksasa label musik – Sony, UMG, dan Warner – untuk mengikuti jejak mereka. Permintaan ini bukan tanpa preseden. Ketiga label besar tersebut sebelumnya telah memblokir seluruh katalog mereka dan menutup operasi di Rusia hanya sebulan setelah invasi ke Ukraina.

Katalog solo Hayley Williams dan seluruh musik Paramore sekarang tercantum resmi di situs web kampanye ‘No Music for Genocide’. Mereka berasosiasi dengan deretan nama besar lain seperti Fontaines D.C., Amyl & The Sniffers, dan Kneecap. nan patut dicatat, kebanyakan artis nan berasosiasi berasal dari label independen, menunjukkan gimana aktivitas akar rumput bisa menggalang support signifikan di industri musik.

Daftar pendukung kampanye ini terus bertambah dengan nama-nama seperti Rina Sawayama, MIKE, Primal Scream, Faye Webster, Japanese Breakfast, Yaeji, King Krule, MJ Lenderman, Mannequin Pussy, Wednesday, Soccer Mommy, dan MØ. Keragaman aliran dan latar belakang artis nan terlibat membuktikan bahwa rumor kemanusiaan ini melampaui batas-batas musik.

Konsistensi Sikap Politik Paramore

Meskipun Paramore belum memberikan pernyataan resmi mengenai bergabungnya mereka dengan kampanye ini, tindakan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari sikap politik mereka nan konsisten. Pada Mei 2024, saat Israel mengintensifkan operasi militer di Rafah, band asal Tennessee ini telah menyerukan bantuan untuk mendukung support kemanusiaan ke Gaza.

Dalam pernyataan mereka saat itu, Paramore dengan tegas menyatakan: “Kami tidak percaya bahwa support untuk kawan dan family Palestina kami sama dengan anti-Semitisme. Kami mencintai kawan dan family Yahudi kami dan bermohon untuk kembalinya para sandera nan tetap tertahan. Namun demikian, kami tidak dapat mendukung genosida.” Pernyataan ini menunjukkan nuansa nan matang dalam menyikapi bentrok kompleks tersebut.

Komitmen kemanusiaan Paramore dan Williams memang telah lama terlihat. Mereka sebelumnya mendukung Save the Children dan mendorong bantuan untuk Dana Darurat Doctors Without Borders. Pada September 2024, mereka apalagi bekerja-sama dengan desainer fesyen Bug Girl untuk merchandise nan hasilnya disumbangkan kepada Medical Aid for Palestinians.

Dampak Lebih Luas dari Gerakan Boikot

Gerakan ‘No Music for Genocide’ tidak hanya berakhir pada penarikan musik dari platform streaming di Israel. Massive Attack, nan juga terlibat dalam kampanye ini, telah meminta label mereka, UMG, untuk menghapus musik mereka tidak hanya dari semua platform streaming di Israel, tetapi sepenuhnya dari Spotify.

Tuntutan ini mengenai dengan laporan bahwa CEO Spotify Daniel Ek telah melakukan investasi signifikan pada “perusahaan nan memproduksi drone amunisi militer dan teknologi AI nan terintegrasi ke dalam pesawat tempur”. Beberapa artis lain nan memboikot Spotify lantaran investasi militer Ek termasuk King Gizzard & The Lizard Wizard, Xiu Xiu, dan Deerhoof.

Para penggagas kampanye ‘No Music for Genocide’ menyatakan tujuan mereka adalah “menginspirasi orang lain untuk merebut kembali agensi mereka dan mengarahkan pengaruh mereka menuju tindakan nyata.” Dalam pernyataan resmi mereka, mereka menegaskan: “Kami sangat berterima kasih kepada semua artis, manajer, dan label nan telah berkomitmen pada langkah pertama ini, dan kami antusias untuk memperluas ini bersama-sama. Semakin banyak dari kita, semakin kuat kita. Ini baru permulaan.”

Gerakan boikot budaya semacam ini memang bukan nan pertama dalam sejarah. Namun, skalanya dalam industri musik modern patut diperhitungkan. Dengan kekuasaan platform streaming dalam konsumsi musik kontemporer, penarikan katalog musik dari wilayah tertentu dapat mempunyai akibat ekonomi dan kultural nan signifikan.

Konteks Karier Terkini Hayley Williams

Di tengah keterlibatan politiknya, Hayley Williams tetap produktif secara musik. Baru-baru ini, dia membantah rumor perpecahan Paramore dengan menyatakan bahwa band tersebut tidak bubar, tetapi sedang mengambil jeda. Pernyataan ini muncul berbarengan dengan rilis album solo terbarunya ‘Ego Death At A Bachelorette Party’.

Yang menarik, beberapa lirik kriptik dalam album tersebut diinterpretasikan fans sebagai petunjuk potensi perpisahan antara Williams dan gitaris Paramore Taylor York, nan dikonfirmasi pacarnya sejak 2022. Namun, seperti biasa, Williams memilih untuk membiarkan musiknya berbincang sendiri.

Rollout album ‘Ego Death At A Bachelorette Party’ memang cukup unik. Williams pertama kali mempreview 17 lagu di situs webnya untuk waktu terbatas sebagai proyek kejutan berjulukan ‘Ego’. Kemudian, dia merilis semua trek tersebut di platform streaming sebagai single individu. Akhirnya, akhir bulan lalu, dia secara resmi mengemas lagu-lagu tersebut sebagai ‘Ego Death At A Bachelorette Party’, berbareng dengan trek ke-18 baru berjudul ‘Paradise’. Album bentuk bakal dirilis secara resmi pada 7 November.

NME memberikan ulasan bintang lima untuk koleksi 17 lagu tersebut, dengan menyatakan: “Seperti nyaris setiap era pekerjaan Hayley Williams, rilis baru ini datang dengan pertanyaan tentang masa depan Paramore. Lirik nan penuh tekad pada lagu lembut ‘I Won’t Quit On You’ semestinya menjadi semua agunan nan dibutuhkan fans nan khawatir, tetapi jika itu tidak cukup, ada banyak perihal dalam babak baru nan brilian dan penuh style ini untuk dinantikan. Lagu-lagu ini mungkin tentang kesempatan kedua nan terlewat, tetapi Williams tentu memanfaatkan kesempatannya dengan maksimal.”

Keputusan Paramore dan Williams untuk berasosiasi dengan ‘No Music for Genocide’ terjadi dalam konteks industri musik nan semakin politis. Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan gimana musisi menggunakan platform mereka untuk menyuarakan isu-isu sosial dan politik, dari perubahan suasana hingga keadilan rasial.

Namun, boikot terhadap Israel menimbulkan kompleksitas tersendiri. Di satu sisi, ada tekanan dari aktivis kewenangan asasi manusia nan mendokumentasikan penderitaan penduduk Palestina. Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang anti-Semitisme dan dampaknya terhadap organisasi Yahudi. Paramore, melalui pernyataan mereka sebelumnya, telah berupaya menavigasi kerumitan ini dengan menekankan bahwa support untuk Palestina tidak sama dengan permusuhan terhadap Yahudi.

Pertanyaan nan muncul adalah: seberapa efektif boikot budaya semacam ini? Sejarah menunjukkan bahwa boikot terhadap Afrika Selatan selama era apartheid berkontribusi pada tekanan internasional nan akhirnya mengakhiri sistem rasis tersebut. Namun, konteks Israel-Palestina mempunyai dinamika nan berbeda, dengan support kuat dari Amerika Serikat dan sekutunya.

Yang jelas, keterlibatan artis sekaliber Paramore dan Hayley Williams memberikan amplifikasi signifikan bagi aktivitas ini. Dengan pedoman fans dunia nan loyal, keputusan mereka tidak hanya berakibat pada akses musik di Israel, tetapi juga pada kesadaran publik internasional tentang situasi di Gaza.

Dalam wawancara-wawancara sebelumnya, Williams sering berbincang tentang gimana musik dan aktivisme telah terjalin dalam perjalanan kariernya. Dari support untuk organisasi kemanusiaan hingga keterlibatan dalam isu-isu lingkungan, dia telah menunjukkan bahwa menjadi musisi tidak kudu terpisah dari menjadi penduduk dunia nan peduli.

Bergabungnya Paramore dan Williams dengan ‘No Music for Genocide’ mungkin bakal memicu beragam reaksi. Beberapa fans mungkin mendukung penuh, sementara nan lain mungkin kecewa dengan “politisasi” musik. Namun, dalam era di mana seni dan politik semakin susah dipisahkan, keputusan seperti ini menjadi gambaran dari tanggung jawab sosial nan dirasakan oleh para seniman.

Seperti nan dikatakan oleh para penggagas kampanye, ini baru permulaan. Dengan semakin banyaknya artis nan bergabung, tekanan terhadap industri musik dan pemerintah Israel kemungkinan bakal meningkat. nan pasti, Paramore dan Hayley Williams telah memilih posisi mereka – dan dalam melakukannya, mereka mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, seni terhebat adalah seni nan tidak hanya menghibur, tetapi juga membangkitkan kesadaran.

Selengkapnya