Pernah merasakan nyeri persendian nan tidak hilang? Atau mungkin sendi terasa kaku, terutama saat bangun tidur di pagi hari? Bisa jadi itu adalah tanda dari rheumatoid arthritis.
Banyak orang mengira nyeri sendi hanya masalah orang tua alias akibat “pengapuran” saja. Padahal, rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit nan jauh lebih serius dan bisa menyerang siapa saja, termasuk usia muda.
Mari kita telaah dengan bahasa nan mudah dipahami tentang apa sebenarnya penyakit ini, gejalanya apa saja, kenapa bisa terjadi, dan gimana langkah mengatasinya.
Jika mau berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri dengkul dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!
Apa Itu Rheumatoid Arthritis?
Untuk memahami penyakit ini, kita perlu tahu dulu apa itu arthritis. Arthritis adalah istilah kedokteran untuk “radang sendi” alias peradangan nan terjadi pada persendian tubuh. Jadi, jika ada nan bilang “terkena arthritis”, artinya sendinya mengalami peradangan.
Nah, rheumatoid arthritis adalah jenis radang sendi nan khusus. Rheumatoid arthritis artinya peradangan sendi nan terjadi lantaran sistem pertahanan tubuh kita sendiri nan justru menyerang tubuh kita.
Kedengarannya aneh, ya? Bayangkan seperti tentara nan semestinya melindungi negara, malah menyerang penduduknya sendiri.
Dalam bahasa medis, kondisi seperti ini disebut penyakit autoimun. Artritis reumatoid masuk dalam kategori penyakit autoimun kronis lantaran berjalan dalam jangka waktu lama dan sistem kekebalan tubuh kita nan “salah sasaran” terus menyerang bagian sendi nan namanya sinovium.
Sinovium ini adalah lapisan tipis di bagian dalam sendi nan tugasnya menghasilkan cairan pelumas agar sendi bisa bergerak lancar.
Ketika sinovium diserang terus-menerus, terjadilah peradangan kronis nan membikin sendi bengkak, nyeri, dan lama-kelamaan rusak.
Yang membedakan Rheumatoid Arthritis (RA) dengan radang sendi biasa adalah sifatnya nan sistemik. Artinya, peradangan sendi sistemik ini tidak hanya menyerang satu alias dua sendi saja, tapi bisa menyebar ke banyak sendi sekaligus.
Bahkan dalam beberapa kasus, RA juga bisa mempengaruhi organ tubuh lain seperti mata, paru-paru, alias jantung. Inilah nan membikin RA termasuk dalam kategori penyakit rematik nan cukup serius.


Gejala Rheumatoid Arthritis
Mengenali indikasi rheumatoid arthritis sejak awal sangat penting. Semakin sigap diketahui, semakin baik hasilnya.
Masalahnya, indikasi RA sering muncul perlahan-lahan, jadi kadang diabaikan. Mari kita lihat ciri-ciri rheumatoid arthritis nan paling umum:
1. Nyeri Sendi nan Khas
Gejala paling utama adalah nyeri pada persendian. nan unik dari RA adalah nyeri sendi simetris—kalau sendi di tangan kanan sakit, biasanya sendi nan sama di tangan kiri juga ikut sakit. Ini berbeda dengan cedera biasa nan biasanya hanya di satu sisi saja.
Nyeri ini bukan nyeri sesaat nan langsung hilang. Ini adalah nyeri dan kekakuan sendi nan berjalan terus-menerus, kadang membaik kadang memburuk.
2. Kaku di Pagi Hari
Ini adalah tanda nan sangat khas. Penderita RA biasanya merasakan kekakuan sendi pagi hari nan luar biasa.
Begitu bangun tidur, sendi terasa sangat kaku dan susah digerakkan. Kekakuan ini bisa memperkuat lebih dari 30 menit, apalagi sampai berjam-jam.
Kenapa pagi hari? Karena saat tidur, cairan nan mengandung zat-zat peradangan menumpuk di sekitar sendi.
Jadi begitu bangun, sendi terasa sangat kaku. Setelah bergerak dan beraktivitas, biasanya kekakuan ini berkurang sedikit.
3. Sendi Bengkak dan Terasa Hangat
Pembengkakan sendi adalah tanda nyata dari peradangan nan terjadi. Sendi nan terkena tidak hanya terasa sakit, tapi juga terlihat bengkak, teraba hangat saat disentuh, dan kadang kulitnya tampak kemerahan.
Kalau dibiarkan terus tanpa pengobatan, peradangan nan tidak terkontrol ini bakal menyebabkan kerusakan sendi progresif.
Artinya, tulang rawan dan tulang di dalam sendi perlahan-lahan terkikis dan rusak. Kalau sudah parah, corak sendi bisa berubah—ini nan disebut deformitas sendi.
4. Gejala di Seluruh Tubuh
Karena RA adalah penyakit inflamasi nan sistemik, gejalanya tidak terbatas di sendi saja. Banyak penderita nan juga merasakan:
- Badan terasa sangat lelah, meskipun sudah cukup istirahat
- Demam ringan nan hilang-timbul
- Nafsu makan menurun
- Berat badan turun tanpa karena jelas
Ada kalanya indikasi tiba-tiba memburuk dengan hebat—ini disebut flare rheumatoid arthritis. Fase flare bisa dipicu oleh stres, kelelahan, alias perubahan cuaca.
Setelah fase flare, biasanya ada periode di mana indikasi mereda. Naik-turunnya indikasi ini nan membikin penyakit ini dinamakan penyakit kronis.


Sendi Mana nan Paling Sering Kena?
Banyak nan bertanya: rheumatoid arthritis menyerang sendi apa sih? Pada tahap awal, RA biasanya mulai dari sendi-sendi kecil.
Sendi tangan adalah sasaran pertama, terutama sendi nan menghubungkan jari dengan telapak tangan. Sendi kaki juga sering terkena di awal.
Seiring waktu, penyakit ini bisa menyebar ke sendi nan lebih besar. Sendi dengkul adalah salah satu nan sering terkena, makanya rheumatoid arthritis dan nyeri lutut sering menjadi keluhan utama penderita RA nan sudah lama.
Selain itu, pergelangan tangan, siku, bahu, dan pergelangan kaki juga bisa terserang.
Yang perlu diingat: RA menyerang sinovial joint, ialah sendi nan punya lapisan sinovium. Dan pola serangannya nyaris selalu simetris—kiri dan kanan sama-sama kena.
Penyebab Rheumatoid Arthritis
Pertanyaan besar nan pasti muncul: kenapa saya bisa kena penyakit ini? Apa penyebab rheumatoid arthritis?
Sayangnya, sampai sekarang para master dan peneliti belum bisa menjawab dengan pasti. nan jelas, ini bukan lantaran satu perihal saja, tapi kombinasi dari beberapa faktor.
1. Sistem Imun nan “Berkhianat”
Penyebab utamanya adalah gangguan sistem imun. Seperti nan sudah dijelaskan tadi, rheumatoid arthritis autoimun terjadi lantaran sistem kekebalan tubuh kita mengalami “kesalahan program”.
Seharusnya sistem imun hanya menyerang bakteri, virus, alias unsur asing nan berbahaya.
Tapi pada penderita RA, sistem imun malah menganggap sinovium (lapisan sendi) sebagai musuh nan kudu diserang.
Serangan ini memicu reaksi berantai: sel-sel imun berkumpul di sendi, melepaskan zat-zat kimia nan menyebabkan peradangan, dan akhirnya merusak jaringan sendi.
Kalau tidak dihentikan, proses ini bakal terus berulang dan membikin kerusakan semakin parah.
2. Faktor Keturunan
Meskipun RA bukan penyakit keturunan langsung, tapi ada pengaruh genetik. Kalau di family Anda ada nan menderita RA alias penyakit autoimun lainnya, akibat Anda untuk terkena memang sedikit lebih tinggi.
Tapi bukan berfaedah pasti bakal kena, ya. Gen hanya membikin Anda lebih “rentan”, tapi butuh pemicu lain untuk penyakit ini betul-betul muncul.
3. Pemicu dari Lingkungan
Beberapa aspek lingkungan dan style hidup bisa jadi pemicu munculnya RA pada orang nan memang sudah punya talenta genetik:
- Merokok adalah aspek akibat terbesar nan sudah terbukti. Zat-zat kimia dalam rokok bisa memicu perubahan pada sistem imun nan akhirnya menyebabkan autoimmune disease.
- Infeksi tertentu juga diduga bisa jadi pemicu. Beberapa jenis virus alias kuman mungkin “membingungkan” sistem imun kita.
- Berat badan berlebih alias obesitas turut berkedudukan lantaran jaringan lemak menghasilkan zat-zat nan bisa memperparah peradangan dalam tubuh.
Kenapa Wanita Lebih Sering Kena?
Fakta menarik: rheumatoid arthritis pada wanita jauh lebih sering terjadi dibanding pada pria. Perbandingannya bisa 2-3 kali lipat lebih banyak.
Kenapa begitu? Para mahir menduga hormon berkedudukan di sini, khususnya hormon estrogen.
Gejala nan dialami wanita penderita RA juga condong lebih berat. Perubahan hormon saat hamil, setelah melahirkan, alias menjelang menopause bisa mempengaruhi aktivitas penyakit ini.
Tidak Hanya Orang Tua nan Kena
Banyak nan mengira RA adalah penyakit orang tua. Padahal, rheumatoid arthritis pada usia muda juga sangat mungkin terjadi.
Gejala pertama biasanya muncul pada usia 30-50 tahun, tapi tidak jarang juga menyerang usia lebih muda, apalagi remaja dan anak-anak (dalam kasus anak-anak disebut Juvenile Idiopathic Arthritis).
Munculnya RA di usia produktif tentu sangat mengganggu, lantaran penderita tetap aktif bekerja dan beraktivitas.
Makanya, penanganan nan sigap dan tepat sangat krusial agar kualitas hidup tetap terjaga.


Bedanya Rheumatoid Arthritis dengan “Pengapuran”
Banyak orang mencampur-adukkan antara rheumatoid arthritis dan osteoarthritis (yang sering disebut “pengapuran”). Padahal, perbedaan rheumatoid arthritis dan osteoarthritis sangat besar, loh!
Osteoarthritis
Kondisi ini adalah kerusakan sendi akibat pemakaian. Bayangkan seperti ban mobil nan aus lantaran dipakai bertahun-tahun.
Tulang rawan sendi terkikis lantaran usia alias lantaran terlalu sering dipakai (misalnya pada atlet alias orang dengan berat badan berlebih).
Osteoarthritis bukan penyakit autoimun, melainkan proses alami “keausan” nan memang lebih sering terjadi pada orang tua.
Rheumatoid Arthritis
Sebaliknya, RA adalah serangan dari sistem imun sendiri. Bisa terjadi pada usia berapa pun, apalagi pada orang muda nan sendinya tetap bagus.
Dari segi indikasi pun berbeda:
- Kekakuan pagi pada Osteoarthritis biasanya hanya sebentar, kurang dari 30 menit. Kalau RA, bisa berjam-jam.
- Osteoarthritis biasanya menyerang sendi-sendi besar nan banyak menahan beban seperti dengkul dan pinggul. RA dimulai dari sendi-sendi mini dengan pola simetris.
- Osteoarthritis jarang menyebabkan bengkak hebat. RA sering membikin sendi bengkak, hangat, dan merah.
Membedakan keduanya krusial lantaran langkah pengobatannya sangat berbeda.
Makanya, jika Anda punya keluhan sendi, jangan asal minum obat pengapuran. Sebaiknya periksa ke master dulu untuk memastikan.
Bisakah Rheumatoid Arthritis Sembuh Total?
Pertanyaan nan paling sering ditanyakan: apakah rheumatoid arthritis bisa sembuh? Jawabannya, sampai saat ini belum ada obat nan bisa menyembuhkan RA secara total.
Penyakit ini termasuk penyakit autoimun kronis nan bakal terus ada sepanjang hidup.
Tapi jangan putus asa dulu! Meskipun tidak bisa sembuh total, RA sangat bisa dikendalikan.
Dengan pengobatan nan tepat, banyak penderita nan bisa hidup normal, tetap bekerja, dan melakukan aktivitas sehari-hari tanpa halangan berarti.
Tujuan pengobatan adalah:
- Mengurangi rasa sakit dan kekakuan
- Menghentikan alias memperlambat kerusakan pada sendi
- Mencegah perubahan corak sendi
- Membuat penderita bisa hidup dengan nyaman
- Mencapai “remisi”—kondisi di mana indikasi minimal alias apalagi tidak terasa sama sekali
Jadi, meskipun tidak bisa lenyap 100%, dengan langkah mengatasi rheumatoid arthritis nan benar, penyakit ini bisa “tidur” dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.


Cara Mengobati Rheumatoid Arthritis
Kabar baiknya, sebagian besar kasus RA bisa ditangani dengan pengobatan rheumatoid arthritis tanpa operasi.
Pengobatan biasanya melibatkan kombinasi antara obat-obatan, terapi, dan perubahan style hidup.
1. Obat-obatan
Ada beberapa jenis obat nan biasa digunakan untuk mengatasi RA:
Obat DMARD
Ini adalah obat utama nan sangat penting. DMARDs adalah singkatan dari Disease-Modifying Antirheumatic Drugs.
Nama panjangnya memang ribet, tapi langkah kerjanya sederhana: obat ini bekerja “memperbaiki” sistem imun nan bermasalah tadi.
Obat DMARDs tidak sekadar menghilangkan rasa sakit, tapi betul-betul menghentikan proses peradangan dari dasarnya.
Contoh obat DMARDs nan sering dipakai adalah methotrexate, leflunomide, dan sulfasalazine.
Biasanya master bakal langsung meresepkan obat ini begitu pemeriksaan RA ditegakkan, lantaran semakin sigap dimulai, semakin baik hasilnya.
Memang, obat DMARDs butuh waktu beberapa minggu sampai bulan untuk bekerja maksimal. Jadi kudu sabar dan alim minum obatnya sesuai rekomendasi dokter.
Obat Biologis
Jenis ini adalah obat nan lebih canggih lagi. Kalau DMARDs biasa tidak cukup manjur, master mungkin bakal menambahkan obat biologis.
Obat ini sangat spesifik menargetkan bagian-bagian tertentu dari sistem imun nan menyebabkan peradangan.
Obat pereda nyeri dan antiradang
Contohnya seperti NSAIDs (obat antiinflamasi) dan kortikosteroid juga dipakai. Tapi ingat, obat-obat ini hanya untuk mengurangi indikasi saja.
Mereka tidak bisa menghentikan kerusakan sendi seperti nan dilakukan DMARDs. Jadi, obat pereda nyeri bukan pengobatan utama, melainkan hanya pelengkap.
2. Terapi dan Latihan
Selain obat, terapi untuk rheumatoid arthritis juga sangat membantu. Ada dua jenis terapi utama:
Terapi Fisik
Terapi ini dilakukan berbareng fisioterapis. Tujuannya untuk menjaga sendi tetap lentur, memperkuat otot-otot di sekitar sendi, dan meningkatkan kebugaran tubuh secara keseluruhan.
Fisioterapis bakal mengajarkan latihan-latihan nan kondusif dan tidak membahayakan sendi.
Terapi bentuk juga bisa menggunakan teknik-teknik lain seperti kompres hangat alias dingin untuk mengurangi nyeri dan kekakuan.
Ini semua bagian dari rehabilitasi dan terapi sendi nan krusial untuk mempertahankan kegunaan tubuh.
Terapi Okupasi
Jenis terapi ini membantu penderita menyesuaikan langkah melakukan aktivitas sehari-hari. Terapis okupasi bakal mengajarkan cara-cara nan lebih mudah dan tidak membebani sendi.
Misalnya, menggunakan perangkat bantu unik untuk membuka botol, mengenakan baju, alias memegang perangkat tulis.
Tujuannya agar penderita tetap bisa berdikari dan tidak terlalu berjuntai pada support orang lain, sekaligus melindungi sendi dari tekanan berlebihan.
3. Perubahan Gaya Hidup
Manajemen penyakit jangka panjang untuk RA juga melibatkan perubahan style hidup:
- Berhenti merokok adalah langkah wajib pertama
- Jaga berat badan ideal agar sendi tidak terlalu terbebani
- Olahraga teratur nan ringan seperti jalan kaki, berenang, alias yoga
- Kelola stres lantaran stres bisa memicu flare
- Istirahat cukup untuk membantu tubuh memulihkan diri
Dengan perubahan style hidup ini, gelombang flare bisa dikurangi dan kualitas hidup penderita RA bisa meningkat.


Dokter nan Tepat untuk Rheumatoid Arthritis
Kalau Anda berprasangka mengalami indikasi RA, ke master mana sebaiknya? nan paling tepat adalah master reumatologi.
Dokter reumatologi adalah ahli nan mahir menangani penyakit rematik dan penyakit autoimun seperti RA, Lupus, dan sejenisnya.
Dokter reumatologi bakal melakukan pemeriksaan menyeluruh, tes darah, tes rontgen, dan pemeriksaan lainnya untuk memastikan diagnosis.
Setelah pemeriksaan ditegakkan, mereka bakal merancang rencana pengobatan nan sesuai dan memantau perkembangan penyakit secara berkala.
Sementara itu, master ortopedi biasanya baru terlibat jika kondisi sudah sangat parah.
Misalnya, jika sendi sudah rusak berat dan bentuknya sudah berubah, mungkin diperlukan operasi seperti penggantian sendi.
Tapi dengan pengobatan nan baik sejak awal, biasanya kondisi tidak sampai perlu operasi.
Klinik unik seperti Klinik Patella menawarkan jasa terpadu nan menggabungkan master ahli ortopedi, master ahli kedokteran bentuk dan rehabilitasi, dan fisioterapis di satu tempat.
Hal ini memudahkan pasien mendapatkan perawatan lengkap.
Hidup Berkualitas dengan Rheumatoid Arthritis
Meskipun RA adalah penyakit kronis, bukan berfaedah kehidupan penderita kudu penuh penderitaan.
Dengan manajemen nan baik, banyak penderita RA nan tetap produktif, bekerja normal, dan menikmati hidup. Kuncinya adalah:
- Deteksi dan pengobatan dini – semakin sigap ditangani, hasilnya semakin baik
- Patuh pada pengobatan – jangan skip minum obat meskipun sudah merasa enakan
- Kontrol rutin ke dokter – untuk memantau perkembangan dan menyesuaikan pengobatan jika perlu
- Jaga style hidup sehat – ini sama pentingnya dengan minum obat
- Dukungan keluarga – sangat membantu secara mental dan emosional
Setiap orang berbeda responnya terhadap pengobatan. Ada nan sigap membaik, ada nan butuh penyesuaian obat berkali-kali. nan penting, tetap sabar dan jangan putus asa.
Dengan ketekunan dan kerja sama nan baik dengan dokter, kualitas hidup penderita RA bisa tetap terjaga dengan baik.
Kesimpulan tentang Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis memang penyakit nan serius, tapi bukan akhir dari segalanya.
Dengan pemahaman nan betul tentang apa itu rheumatoid arthritis, gejala-gejalanya, penyebabnya, dan langkah pengobatannya, kita bisa menghadapi penyakit ini dengan lebih baik. Ingat tanda-tanda pentingnya:
- Nyeri sendi nan simetris
- Kaku pagi hari nan lama
- Bengkak pada sendi
Kalau Anda mengalami gejala-gejala ini, jangan tunda untuk periksa ke dokter, terutama master reumatologi.
Meskipun RA tidak bisa sembuh total, penyakit ini sangat bisa dikendalikan dengan kombinasi obat DMARDs, terapi fisik, perubahan style hidup, dan pemantauan rutin.
Dengan penanganan nan tepat dan konsisten, penderita RA tetap bisa menjalani hidup nan produktif dan bahagia.
Jangan biarkan rasa takut menghalangi Anda untuk mencari pertolongan medis.
Semakin sigap ditangani, semakin besar kesempatan untuk menghentikan kerusakan sendi dan mempertahankan kualitas hidup nan baik.
Jika mau berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri dengkul dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!


Pertanyaan Seputar Rheumatoid Arthritis
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan nan muncul seputar topik rheumatoid arthritis.
Apa perbedaan utama rheumatoid arthritis dengan pengapuran biasa?
Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sendi sendiri dan bisa terjadi pada usia berapa pun.
Sementara pengapuran (osteoarthritis) adalah kerusakan sendi akibat proses pemakaian alami nan lebih sering terjadi pada orang tua.
RA ditandai dengan kekakuan pagi hari lebih dari 30 menit dan nyeri sendi nan simetris, sedangkan pengapuran kekakuannya lebih singkat dan biasanya tidak simetris.
Apakah rheumatoid arthritis bisa disembuhkan total?
Sampai saat ini, rheumatoid arthritis belum bisa disembuhkan secara total. Namun, dengan pengobatan nan tepat menggunakan obat DMARDs, terapi fisik, dan perubahan style hidup, penyakit ini sangat bisa dikendalikan.
Banyak penderita nan mencapai kondisi remisi, ialah kondisi di mana indikasi minimal alias apalagi tidak terasa sama sekali, sehingga tetap bisa hidup produktif dan berkualitas.
Sendi apa saja nan biasanya diserang rheumatoid arthritis?
Pada tahap awal, RA biasanya menyerang sendi-sendi mini seperti sendi tangan (terutama nan menghubungkan jari dengan telapak tangan) dan sendi kaki.
Seiring perkembangannya, penyakit dapat menyebar ke sendi nan lebih besar seperti sendi lutut, pergelangan tangan, siku, bahu, dan pergelangan kaki.
Yang khas, pola serangannya nyaris selalu simetris—jika sendi kanan terkena, sendi kiri nan sama juga bakal terpengaruh.
Ke master ahli apa sebaiknya jika berprasangka terkena rheumatoid arthritis?
Dokter nan paling tepat untuk menangani rheumatoid arthritis adalah master reumatologi. Dokter reumatologi adalah ahli nan mahir dalam mendiagnosis dan mengobati penyakit autoimun dan penyakit rematik seperti RA.
Mereka bakal melakukan pemeriksaan menyeluruh, tes darah, dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk memastikan diagnosis, kemudian merancang rencana pengobatan nan sesuai dengan kondisi Anda.

