Perplexity Ai Tawarkan $34,5 Miliar Untuk Akuisisi Chrome Dari Google

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Telset.id – Dalam langkah berani nan bisa mengubah peta persaingan browser dunia, startup berbasis AI asal San Francisco, Perplexity AI, dikabarkan menawarkan $34,5 miliar tunai untuk mengakuisisi Chrome dari Google. Tawaran spektakuler ini muncul di tengah tekanan antitrust nan semakin menguat terhadap raksasa teknologi asal Mountain View tersebut.

Perplexity—yang baru saja meluncurkan browser berbasis AI berjulukan Comet—ternyata menyimpan ambisi lebih besar. Dengan valuasi $18 miliar dan support modal ventura, perusahaan ini berani membikin penawaran nan apalagi membikin industri terbelalak. Uniknya, mereka berjanji bakal mempertahankan Chromium sebagai open-source dan tetap menggunakan Google sebagai mesin pencari default—strategi nan jelas ditujukan untuk meredam kekhawatiran regulator.

Permainan Strategis di Tengah Badai Antitrust

Langkah Perplexity ini bukan tanpa alasan. Keputusan Departemen Kehakiman AS tahun 2024 nan memerintahkan Google untuk melepas Chrome menjadi momentum sempurna. “Ini seperti mengambil mahkota di saat sang raja sedang lemah,” ujar seorang analis nan enggan disebutkan namanya. Apalagi, sejumlah pemain lain seperti OpenAI dan Yahoo juga dikabarkan tertarik.

Dengan 3 miliar pengguna aktif, Chrome adalah aset strategis nan bisa mengubah peta persaingan AI. Sebelumnya, Perplexity sudah menunjukkan ketertarikannya pada platform besar dengan mencoba mengakuisisi operasi TikTok di AS—meski akhirnya gagal. Kini, dengan biaya $1 miliar nan sudah dihimpun dan janji investasi tambahan $3 miliar untuk pengembangan Chrome, mereka tampak serius.

Google Bertahan, Masa Depan Browser Dipertaruhkan

Google sendiri belum beriktikad melepas Chrome. Mereka sedang mengusulkan banding atas keputusan antitrust sembari berdasar bahwa pemisahan paksa bisa merugikan upaya intinya. Bagaimanapun, dengan pangsa pasar lebih dari 50% di AS, Chrome tetap menjadi raja tanpa mahkota pengganti nan jelas.

Jika tawaran ini diterima—meski peluangnya kecil—Perplexity bakal langsung menjadi pemain utama di kancah browser dan AI. Sebaliknya, penolakan Google bisa memicu perang baru di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan AI semakin garang menantang kekuasaan pemain mapan.

Apapun hasilnya, satu perihal nan pasti: pertarungan untuk menguasai gerbang internet kita baru saja memasuki babak baru nan lebih panas dari sebelumnya.

Selengkapnya