Telset.id – Meta, raksasa teknologi di kembali FB dan Instagram, memilih jalur berbeda dalam eksplorasi robotika. Perusahaan tidak berencana mengembangkan robot humanoid seperti pesaingnya, melainkan konsentrasi pada pembuatan sistem operasi unik robot nan dapat dilisensikan ke perusahaan lain.
Strategi ini diungkapkan oleh Chief Technology Officer Meta Andrew Bosworth dalam percakapan dengan wartawan Alex Heath dari Sources. Bosworth menegaskan bahwa Meta tidak tertarik bersaing di bagian perangkat keras robot, tetapi berkonsentrasi pada pengembangan perangkat lunak berjulukan Metabot.
“Perangkat lunak adalah hambatannya,” jelas Bosworth mengenai tantangan dalam pengembangan robotika. Pendekatan Meta mirip dengan langkah Google mengembangkan Android untuk perangkat pandai – menciptakan platform nan dapat diadopsi beragam produsen.
Langkah ini menjadi perkembangan logis setelah kesuksesan Meta dengan kacamata Augmented Reality Project Orion, nan awalnya dianggap mustahil namun akhirnya menjadi produk nyata. Kini, perusahaan mengalihkan perhatiannya ke bagian robotika dengan filosofi nan sama: memecahkan masalah esensial melalui penemuan perangkat lunak.
Pengembangan Metabot telah dimulai dengan pembuatan “world model” – model artificial intelligence nan memungkinkan robot melakukan simulasi perangkat lunak kompleks. Model ini khususnya dirancang untuk membantu robot menggerakkan tangan dengan presisi tinggi, langkah awal menuju keahlian nan lebih canggih.
Tim robotika Meta nan dipimpin Marc Whitten bekerja sama dengan Superintelligence Labs untuk menciptakan solusi komprehensif. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan platform robotika nan powerful dan mudah diadaptasi.
Di tengah perkembangan pesat industri robotika global, dengan Chongqing mencatat produksi robot mencapai 60.000 unit pada 2024, pendekatan Meta menawarkan perspektif segar. Alih-alih menambah jumlah unit fisik, perusahaan konsentrasi pada kepintaran nan menggerakkan mesin-mesin tersebut.
Visi Masa Depan dan Kompetisi Robotika
Meta membayangkan sistem operasi robotika mereka bakal berkembang untuk menangani aktivitas dan tugas nan lebih kompleks di masa depan. Pada Februari 2025, perusahaan apalagi dilaporkan mempertimbangkan pengembangan robot nan bisa menangani pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan alias melipat pakaian.
Namun, Bosworth mengakui bahwa semua rencana ini tetap dalam tahap sangat awal dan jauh dari penyelesaian. “Mengingat semuanya terdengar tetap sangat awal, kemungkinan besar perihal itu tetap jauh dari selesai,” katanya.
Persaingan di bagian robotika semakin ketat. Apple dikabarkan mengembangkan robot rumah tangga nan dimulai dengan lengan terpasang di meja dan layar. Sementara Tesla rutin mendemonstrasikan robot humanoid Optimus-nya, meski dalam skenario nan sangat terkontrol.
Perkembangan ini sejalan dengan tren industri nan menunjukkan peningkatan mengambil robotika, seperti nan tercermin dalam armada robot Amazon nan mencapai 1 juta unit. Namun, Meta memilih jalur berbeda dengan menitikberatkan pada kepintaran buatan dan sistem operasi.
Inovasi di bagian robotika terus bermunculan, termasuk teknologi robot nan bisa menyembuhkan diri sendiri. Pendekatan Meta dengan Metabot dapat menjadi fondasi bagi perkembangan lebih lanjut dalam industri ini.
Meskipun Meta belum sukses mencapai tujuan sebelumnya menggantikan ponsel pandai dengan kacamata AR, perusahaan tampaknya serius mengalokasikan investasi besar untuk eksplorasi robotika. Keputusan konsentrasi pada perangkat lunak daripada perangkat keras menunjukkan pembelajaran dari pengalaman sebelumnya dan pemahaman mendalam tentang kompetensi inti perusahaan.
Seperti penemuan teknologi lainnya, termasuk teknologi penghasil bensin dari udara nan dikembangkan startup AS, kesuksesan Metabot bakal berjuntai pada eksekusi dan mengambil pasar. Meta mempunyai track record dalam mengembangkan platform nan digunakan miliaran orang, pengalaman nan berbobot untuk diterapkan di bumi robotika.