Kemitraan Ai Lionsgate-runway Ternyata Tak Sesederhana Itu

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Telset.id – Bayangkan jika studio movie besar bisa mengubah waralaba andalannya menjadi anime hanya dalam hitungan jam, menggunakan kepintaran buatan, lampau menjualnya kembali sebagai movie baru. Itulah klaim ambisius nan dilontarkan Michael Burns, Wakil Ketua Lionsgate, awal tahun ini. Namun, realitas di kembali kemitraan AI dengan Runway rupanya jauh lebih rumit dan penuh tantangan daripada nan dibayangkan.

Gagasan untuk memanfaatkan AI dalam produksi movie bukanlah perihal baru. Banyak perusahaan, termasuk OpenAI nan juga merambah animasi, berupaya menemukan efisiensi. Namun, kasus Lionsgate dan Runway ini menjadi contoh nyata sungguh lembah antara visi dan eksekusi dalam teknologi generatif tetap sangat lebar. Lantas, apa nan sebenarnya menghalang rencana revolusioner ini?

Janji Manis nan Terkendala Realitas Teknis

Kemitraan “pertama di jenisnya” antara Lionsgate dan Runway AI diumumkan tahun lampau dengan gegap gempita. Inti kesepakatannya: Lionsgate memberikan akses penuh ke seluruh perpustakaannya—rumah bagi franchise seperti John Wick dan The Hunger Games—kepada Runway. Runway kemudian bakal menciptakan model AI eksklusif nan dapat digunakan Lionsgate untuk menghasilkan video berbasis AI. Impian Burns untuk membikin jenis anime dari movie mereka dalam beberapa jam pun seolah berada di depan mata.

Namun, laporan dari The Wrap mengungkapkan bahwa rencana ini menemui hambatan signifikan. Ternyata, perpustakaan Lionsgate—sebesar dan sekaya apapun—tidak cukup untuk menciptakan model AI nan betul-betul fungsional. Bahkan, dikabarkan bahwa perpustakaan raksasa seperti milik Disney pun tidak bakal memadai untuk tugas semacam ini. Ini adalah tamparan realitas bagi banyak nan mungkin mengira bahwa info dari satu studio sudah cukup.

Membangun model AI generatif nan andal memerlukan info dalam skala nan betul-betul masif. Sebagai perbandingan, model seperti Google Deep Think alias Veo dan OpenAI Sora, nan dilatih dengan info nyaris tak terbatas dari internet, tetap sering menghasilkan video penuh kesalahan, glitch, dan keanehan nan membikin penonton tidak nyaman. Bayangkan, jika model dengan akses info terbatas seperti milik Lionsgate saja sudah bermasalah, hasilnya tentu bakal jauh lebih terbatas lagi.

Misalnya, jika studio mau menggunakan Runway untuk menciptakan pengaruh pencahayaan tertentu dalam sebuah film, model tersebut hanya bakal bisa merender pengaruh itu jika mempunyai cukup titik referensi untuk dipelajari. Tanpa info nan memadai, AI tidak bisa “belajar” dengan baik. Ini seperti mencoba mengajari seseorang melukis pemandangan laut hanya dengan menunjukkan padanya tiga gambar pantai—hasilnya tentu tidak bakal mendekati realitas.

Belitan Masalah Hukum dan Hak Cipta

Selain hambatan teknis, ada ranah lain nan sama peliknya: hukum. Burns sendiri mengakui kepada Vulture bahwa untuk mewujudkan impiannya membikin jenis anime dari movie Lionsgate menggunakan AI, dia kudu bayar para tokoh dan pemegang kewenangan lainnya. Tapi pertanyaannya: siapa saja nan berkuasa mendapat kompensasi?

Apakah penulis skenario perlu mendapat bayaran? Bagaimana dengan sutradara? Atau apalagi kru pencahayaan (gaffer) untuk karya lighting mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab dengan jelas, menciptakan kabut norma nan menghalangi jalan menuju rilisnya movie nan sepenuhnya dihasilkan AI. Padahal, Lionsgate adalah pemilik intellectual property-nya sendiri.

Ini mengingatkan kita pada kompleksitas nan juga muncul dalam penggunaan AI di perangkat seperti Galaxy S25 Edge, di mana batas antara perangkat bantu dan pelanggaran kewenangan cipta menjadi semakin kabur. Industri imajinatif sedang melangkah di atas tali nan sama sekali tidak kokoh ketika berbincang tentang izin AI.

Pertanyaan mendasarnya: ketika sebuah AI “belajar” dari karya manusia, lampau menciptakan sesuatu nan “baru”, siapa sebenarnya pemilik karya tersebut? Apakah studio nan mempunyai info latih? Perusahaan AI nan mengembangkan model? Atau para pembuat original nan karyanya menjadi fondasi pembelajaran mesin tersebut? Ini adalah wilayah abu-abu nan belum dipetakan dengan baik oleh norma mana pun di dunia.

Antara Pengakuan Resmi dan Realitas di Lapangan

Menanggapi laporan-laporan nan beredar, Peter Wilkes, Chief Communications Officer Lionsgate, memberikan pernyataan resmi nan cukup diplomatis. “Kami sangat puas dengan kemitraan kami dengan Runway dan inisiatif AI lainnya, nan sedang melangkah sesuai rencana,” katanya kepada Gizmodo.

Wilkes menambahkan bahwa Lionsgate memandang AI sebagai perangkat krusial untuk melayani para kreator movie mereka, dan telah sukses menerapkannya dalam beberapa proyek movie dan televisi untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan menciptakan kesempatan bercerita nan baru. Dia juga menyebut penggunaan AI untuk mencapai penghematan biaya signifikan dan efisiensi nan lebih besar dalam lisensi perpustakaan movie dan televisi mereka.

Namun, nan menarik adalah pernyataan “berjalan sesuai rencana” ini agak bertolak belakang dengan laporan tentang hambatan teknis dan norma nan dihadapi. Mungkin nan dimaksudkan Lionsgate adalah mereka tetap menggunakan Runway, meski tidak melalui model eksklusif seperti nan semula direncanakan.

Faktanya, dalam tulisan Vulture nan sama awal tahun ini, disebutkan bahwa Lionsgate sedang mengerjakan pembuatan trailer nan dihasilkan AI untuk movie nan apalagi belum syuting. Tujuannya? Agar pelaksana bisa menjual movie berasas adegan-adegan nan difabrikasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa meski model eksklusif mungkin tidak terwujud, Lionsgate tetap mencari celah untuk memanfaatkan AI dalam proses kreatif—atau lebih tepatnya, proses bisnis—mereka.

Pertanyaan besarnya: apakah penonton dan para pembuat betul-betul diuntungkan oleh proses seperti ini? Ataukah ini sekadar langkah untuk memotong perspektif dan menghemat biaya dengan mengorbankan integritas artistik? Ketika trailer bisa dibuat sebelum filmnya ada, pemisah antara visi imajinatif dan manipulasi pemasaran menjadi semakin tipis.

Kisah Lionsgate dan Runway ini menjadi pelajaran berbobot bagi seluruh industri. Teknologi AI generatif memang menjanjikan revolusi, tetapi jalan menuju mengambil nan sukses rupanya dipenuhi dengan rintangan teknis, hukum, dan etika nan tidak terduga. Sebelum kita memandang John Wick jenis anime nan dibuat AI dalam waktu semalam, tetap banyak PR nan kudu diselesaikan—baik oleh para developer teknologi maupun kreator kebijakan.

Selengkapnya