Telset.id – Psikiater asal Denmark, Søren Dinesen Østergaard, mengeluarkan peringatan serius mengenai akibat jangka panjang penggunaan kepintaran buatan (AI) terhadap keahlian intelektual manusia. Dalam sebuah surat kepada penyunting nan diterbitkan di jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica, Østergaard menyebut bahwa para intelektual dan intelektual bumi sekarang mulai menumpuk apa nan disebutnya sebagai “utang kognitif” alias cognitive debt.
Peringatan ini muncul setelah sebelumnya Østergaard menyoroti ancaman hubungan obsesif dengan chatbot AI nan dapat memicu krisis kesehatan mental, apalagi berujung pada kasus bunuh diri. Kini, fokusnya beranjak pada gimana AI mengikis keahlian dasar manusia dalam menulis dan melakukan riset ilmiah.
Menurut Østergaard, meskipun AI bisa mengotomatisasi beragam tugas ilmiah dengan langkah nan memukau, kemudahan ini tidak datang tanpa akibat negatif bagi penggunanya. Ia menegaskan bahwa penalaran ilmiah—dan penalaran secara umum—bukanlah keahlian bawaan sejak lahir, melainkan keahlian nan dipelajari melalui pengasuhan, pendidikan, dan latihan terus-menerus.
Kekhawatiran utamanya adalah penggunaan perangkat generatif nan asal-asalan dapat menggantikan “otot mental” nan semestinya dilatih oleh para pelajar dan ilmuwan, sebuah pandangan nan juga didukung oleh mahir saraf Universitas Monterrey, Umberto León Domínguez.
Sebagai contoh konkret dari akibat jangka panjang nan dikhawatirkan, Østergaard merujuk pada pencapaian Demis Hassabis dan John Jumper, peneliti AI nan memenangkan Hadiah Nobel Kimia 2024. Keduanya sukses mendemonstrasikan potensi AI dalam penemuan ilmiah menggunakan AlphaFold2, sistem besutan Google DeepMind nan bisa memprediksi struktur tiga dimensi protein secara akurat.
Namun, Østergaard berdasar bahwa terobosan tersebut tidak muncul begitu saja. Prestasi Hassabis dan Jumper dibangun di atas fondasi training ilmiah nan intensif selama bertahun-tahun. Ironisnya, Østergaard meragukan apakah sosok selevel mereka bakal bisa mencapai tingkat Nobel jika perangkat AI generatif—yang mereka kembangkan sendiri—sudah tersedia sejak awal pekerjaan alias saat mereka tetap duduk di bangku sekolah dasar.
“Alasannya adalah mereka mungkin tidak bakal mendapatkan cukup latihan penalaran dengan kesiapan alat-alat ini,” tulis Østergaard. Ia menambahkan bahwa jika penggunaan chatbot AI betul-betul menyebabkan utang kognitif, bumi pengetahuan pengetahuan mungkin berada dalam situasi nan mengerikan.
Fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading alias pelimpahan beban kognitif ke mesin. Beberapa perusahaan teknologi besar mulai menyadari akibat ini, apalagi ada nan merekrut mahir untuk menangani dampak AI tersebut. Namun, Østergaard memprediksi bahwa dalam jangka panjang, perihal ini bakal mengurangi kesempatan munculnya ilmuwan-ilmuwan brilian seperti Hassabis dan Jumper dari generasi mendatang.
Peringatan ini menambah daftar panjang akibat penggunaan teknologi nan tidak terkontrol, nan sebelumnya juga dikaitkan dengan penelitian kesehatan mental mengenai media sosial. Tanpa keseimbangan antara penggunaan perangkat bantu dan latihan intelektual mandiri, keahlian manusia untuk menghasilkan penemuan orisinal mungkin bakal tergerus secara perlahan.