Posisi Short Bitcoin Tertinggi Sejak Agustus 2024, Pasar Masuk Zona Rawan?

Sedang Trending 18 jam yang lalu

– Bitcoin (BTC) tampak semakin membikin para investornya pesimis, dengan tren nan terus menerus merah. Bahkan, info dari salah satu firma analitik on-chain Santiment, menunjukkan bahwa lonjakan posisi short Bitcoin di pasar futures perpetual mencapai tingkat nan paling ekstrem sejak Agustus 2024.

Dalam pembaruan X-nya, Santiment menyebut bahwa kondisi seperti ini biasanya muncul ketika sentimen pasar sedang berat sebelah, di mana banyak trader kompak bertaruh nilai bakal turun.

“Pada Agustus 2024 lalu, funding rate juga sempat jatuh dalam area negatif nan dalam,” ungkap Santiment.

Namun alih-alih lanjut jatuh, pasar justru berbalik arah. Ketika posisi short terlalu ‘padat’ dan nilai bergerak naik, sebagian posisi terpaksa ditutup secara paksa (likuidasi), dan pengaruh beruntun dari penutupan bisa mempercepat kenaikan.

“Setelah fase tersebut, Bitcoin sempat naik sekitar 83 persen dalam empat bulan berikutnya,” ujarnya.

Untuk memahami sinyalnya, Santiment mengingatkan kegunaan funding rate di perjanjian perpetual, ialah biaya mini nan dibayarkan antar trader untuk menjaga nilai perjanjian tetap dekat dengan harga spot.

Saat funding rate negatif, pihak short bayar pihak long. Ini biasanya terjadi ketika kebanyakan pasar menumpuk short. Jika kondisi ini makin ekstrem, artinya taruhan turun semakin ‘ramai’, dan itu menciptakan resiko pasar berbalik sigap lantaran posisi leverage rentan disapu.

“Kami memakai metrik Funding Aggregated By Exchange, nan menggabungkan info funding dari beragam bursa besar, sehingga pembacaan sentimen tidak berjuntai pada satu exchange saja,” kata Santiment.

Baca Juga: Gagal Bertahan di US$ 70.000, Bitcoin Masuk Fase Rentan Koreksi Lanjutan

Dengan langkah ini, Santiment menyatakan bisa memandang apakah tekanan short memang terjadi secara luas di pasar, bukan sekedar kejadian lokal.

Kendati demikian, platform analitik tersebut juga menekankan satu poin penting, ialah short nan menumpuk tidak otomatis berfaedah nilai bakal langsung naik. Mereka menjelaskan, nan terjadi adalah pasar masuk ke lingkungan beresiko tinggi, di mana tekanan posisi bisa berubah menjadi volatilitas ke atas nan sigap jika shorts mulai ‘dipaksa keluar’.

“Dalam situasi sentimen nan lemah, mini kemungkinan posisi short bakal menutup sendiri secara tertib. Karena itu, jika nilai justru bergerak naik, skenario nan lebih masuk logika adalah terjadinya rangkaian penutupan paksa, nan sering dikenal sebagai short squeeze,” paparnya.

Santiment juga mengaitkan perilaku ini dengan dinamika pasca-gejolak likuidasi nan sempat ramai dibahas pada 10 Oktober 2025. Setelah gelombang likuidasi long menekan harga, banyak trader beramai-ramai masuk short lantaran menganggap penurunan bakal berlanjut.

“Pola ‘ramai-ramai di satu sisi’ ini, sekarang kembali terbaca melalui funding rate agregat nan sangat negatif,” pungkas Santiment.

🤯 BREAKING: According to aggregated funding rate info across crypto exchanges, this latest wave of short positioning is the most extreme seen since August 2024, a period that marked a major bottom for Bitcoin. At that time, funding rates also fell deep into negative territory as… pic.twitter.com/Runwl3CE4D

— Santiment (@santimentfeed) February 12, 2026

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya