Godfather Ai Geoffrey Hinton Diputusin Pakai Chatgpt, Kok Bisa?

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Telset.id – Bayangkan, Anda adalah seorang perintis kepintaran buatan nan dijuluki “godfather AI”, meraih penghargaan Nobel Fisika, dan selama ini memperingatkan ancaman eksistensial AI bagi umat manusia. Lalu, gimana emosi Anda ketika mantan kekasih memutuskan hubungan dengan support ChatGPT—teknologi nan tak mungkin ada tanpa penelitian Anda? Itulah nan dialami Geoffrey Hinton, sang legenda AI nan baru-baru ini mengungkap pengalaman pahit-manisnya.

Hinton, intelektual berumur 77 tahun nan karyanya menjadi fondasi pengembangan AI modern, mempunyai hubungan kompleks dengan teknologi nan dia ciptakan. Di satu sisi, dia adalah salah satu pengkritik paling vokal terhadap akibat nan dibawa AI, apalagi menandatangani surat terbuka nan mendesak OpenAI untuk tidak meninggalkan akar nirlabanya. Di sisi lain, AI telah merasuk begitu dalam ke kehidupan pribadinya—hingga digunakan untuk mengakhiri hubungan asmaranya.

Dalam wawancara eksklusif dengan Financial Times, Hinton bercerita bahwa mantan kekasihnya menggunakan ChatGPT untuk menyampaikan keputusan putus. “Dia meminta ChatGPT untuk menunjukkan saya sungguh brengseknya saya,” ujarnya. Chatbot itu menjelaskan secara perincian gimana perilakunya dianggap buruk, dan hasilnya diberikan langsung kepada Hinton. Meski mengaku tidak merasa bersalah, pengakuan ini menunjukkan sungguh teknologi AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hubungan manusia sehari-hari—bahkan untuk sang penciptanya sendiri.

Pengalaman Hinton bukanlah kasus isolated. ChatGPT telah menjadi “teman” bagi banyak orang nan kesulitan mengungkapkan perasaan, termasuk dalam momen putus cinta. Terutama di kalangan generasi muda, chatbot besutan OpenAI ini kerap dijadikan perangkat untuk menyusun pesan putus, apalagi mendorong beberapa pengguna mengambil keputusan cerai. Meski tidak sebanding dengan skenario hariakhir AI nan sering Hinton peringatkan, kejadian ini tetap menarik untuk dicermati.

Peringatan Sang Godfather AI

Di kembali kisah personalnya, Hinton tetap konsisten menyuarakan kekhawatiran bakal masa depan AI. Ia mengibaratkan ancaman AI seperti invasi alien nan bisa dilihat dengan teleskop dan tiba dalam 10 tahun ke depan. “Apakah Anda bakal berbicara ‘Bagaimana kita tetap positif?’ Tidak, Anda bakal bertanya ‘Bagaimana kita menghadapi ini?'” tegasnya. Bagi Hinton, bersikap positif tidak berfaedah menutup mata pada kenyataan.

Hinton juga memperingatkan akibat ekonomi nan timbul dari mengambil AI masif. Menurutnya, AI bakal menciptakan “pengangguran besar-besaran dan peningkatan untung nan signifikan”. Teknologi ini bakal membikin segelintir orang semakin kaya, sementara kebanyakan masyarakat justru semakin miskin. “Itu bukan kesalahan AI, melainkan sistem kapitalis,” tandasnya. Pandangan ini selaras dengan tulisan sebelumnya di Telset.id tentang ancaman AI nan lebih mengerikan daripada perubahan iklim.

AI dalam Kehidupan Sehari-hari

Meski sering kali bersuara lantang tentang ancaman AI, Hinton mengakui bahwa dia sendiri menggunakan ChatGPT untuk keperluan sehari-hari. Mulai dari bertanya langkah memperbaiki peralatan rumah tangga hingga keperluan penelitian lainnya. Pengakuan ini menunjukkan sungguh AI telah menjadi teknologi dual-use—bermanfaat sekaligus berpotensi merugikan.

Fenomena penggunaan AI untuk urusan individual seperti ini semakin mengukuhkan bahwa teknologi telah menjadi bagian dari kultur modern. Seperti halnya lagu-lagu Didi Kempot nan melekat di hati penggemarnya, ChatGPT dan AI lainnya telah menyentuh nyaris setiap aspek kehidupan manusia.

Masa Depan AI dan Kemanusiaan

Hinton menegaskan bahwa kita kudu bertindak sekarang sebelum terlambat. Ia mendesak pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat dunia untuk serius mempertimbangkan izin dan pengawasan terhadap pengembangan AI. Tanpa langkah konkret, dia cemas teknologi ini bakal menyebabkan “outcome katastrofik” nan tidak terduga.

Namun, di tengah semua peringatan dan kekhawatiran tersebut, Hinton rupanya sudah move on dari pengalaman putusnya. “Saya berjumpa seseorang nan lebih saya sukai, Anda tahu gimana ceritanya,” ujarnya dengan ringan. “Mungkin Anda tidak tahu!” kelakarnya. Kisahnya mengingatkan kita bahwa di kembali teknologi canggih, manusia tetaplah manusia dengan cerita dan emosi nan kompleks—persis seperti alur dalam game Mafia: The Old Country nan penuh dinamika.

Jadi, apakah AI bakal menjadi penyelamat alias penghancur peradaban? Mungkin jawabannya terletak pada gimana kita sebagai manusia mengendalikan dan memanfaatkannya. Seperti kata Hinton, masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada sistem dan niat di kembali penggunaannya.

Selengkapnya