Bayangkan Anda sedang menyetir dengan tenang di jalan pedesaan, tiba-tiba sebuah pesawat militer jatuh dan nyaris menabrak mobil Anda. Dalam hitungan detik, Anda sukses mengelak secara manual. Keesokan harinya, seluruh media sosial menyatakan mobil self-driving-lah nan menyelamatkan nyawa Anda. Inilah kisah nyata nan dialami Matthew Topchian, pengemudi Tesla nan menjadi pusat kontroversi teknologi otonom.
Insiden ini bermulai ketika sebuah pesawat propelan militer melakukan pendaratan darurat nan kandas di pinggiran Kota Oklahoma pada Kamis, 25 Oktober 2025. Pesawat nan biasa digunakan untuk menghancurkan tanaman koka di Amerika Selatan ini menabrak dua tiang listrik dan menimbulkan kebakaran. nan membikin situasi semakin dramatis, pesawat tersebut nyaris menabrak sebuah Tesla nan sedang melintas di jalan tersebut.
Kisah heroik menghindari tabrakan pesawat ini kemudian menyebar seperti virus di platform X milik Elon Musk. nan menarik, narasi nan berkembang justru mengarah pada keahlian super sistem Full Self-Driving (FSD) Tesla, padahal kenyataannya jauh lebih manusiawi dan sekaligus mengkhawatirkan.
Kebenaran di Balik Viral: Pengakuan Sang Pengemudi
Dalam euforia pujian terhadap teknologi Tesla, bunyi paling krusial justru datang dari orang nan paling memahami apa nan sebenarnya terjadi: Matthew Topchian sendiri. Melalui TikTok, Topchian dengan tegas menyatakan bahwa dia sedang menyetir secara manual ketika kejadian nyaris tabrakan dengan pesawat terjadi.
“Saya menyetir secara manual. FSD memang sangat bagus, tapi pasti bakal menabrak pesawat itu,” tulis Topchian dalam jawaban komentar di TikTok-nya. Pernyataan ini sekaligus membantah klaim David Bellow di X nan menyebut “WOW! Tesla full self driving dodges a freaking plane falling out of the sky!”
Yang lebih mengkhawatirkan, meskipun Community Note di X telah mengoreksi info keliru tersebut, Bellow tetap bersikeras dengan versinya. “Saya kudu mendengar langsung dari Matthew bahwa dia tidak menggunakan full self driving lantaran itu bukan cerita nan saya dengar,” tulis Bellow, apalagi menyebut kemungkinan akun TikTok Topchian adalah bot alias Topchian mengubah cerita lantaran mau dianggap sebagai pembalap.
Fenomena Blind Faith dalam Teknologi Otonom
Kasus ini mengungkap kejadian nan lebih dalam: blind faith alias kepercayaan buta terhadap teknologi otonom. Postingan Bellow nan telah dilihat jutaan pengguna memuat pernyataan menakutkan seperti “Mobil self-driving Tesla telah mencapai tingkat keamanan nan tidak saya pikir mungkin terjadi dalam satu dasawarsa lagi” dan “Autopilot menghindari pesawat. Itu bukan self-driving — itu kesadaran situasional beroda.”
Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Kemampuan mengelak datang dari refleks manusia nan tetap belum bisa disaingi oleh artificial intelligence. Matthew Topchian dengan sigap menggunakan tangan dan kakinya—yang terbuat dari daging dan darah—untuk mengambil tindakan evasif nan menyelamatkan situasi.
Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Integrasi teknologi AI seperti Chatbot Grok ke mobil Tesla memang menciptakan ekspektasi berlebihan di kalangan penggemar. Namun, kita perlu membedakan antara keahlian asisten AI dengan sistem keselamatan kritis seperti FSD.
Dampak Misinformasi terhadap Pengembangan Teknologi Otonom
Misinformasi semacam ini bukan hanya sekadar kesalahan faktual, tetapi berpotensi menghalang pengembangan teknologi otonom nan sesungguhnya. Ketika masyarakat mempunyai ekspektasi tidak realistis terhadap keahlian FSD, tekanan untuk meluncurkan teknologi nan belum sepenuhnya matang justru meningkat.
Sejarah telah membuktikan bahwa peluncuran terbatas robotaxi Tesla di Austin menunjukkan pendekatan nan lebih hati-hati dalam menguji teknologi otonom. Pendekatan berjenjang ini seringkali terancam oleh narasi-narasi bombastis di media sosial nan menciptakan tekanan publik untuk percepatan nan tidak realistis.
Lebih mengkhawatirkan lagi, misinformasi semacam ini dapat menciptakan false sense of security. Pengemudi nan percaya bahwa FSD bisa menghindari tabrakan dengan pesawat jatuh mungkin bakal terlalu mengandalkan sistem tersebut dalam situasi rawan nan sebenarnya tetap memerlukan kewaspadaan manusia.
Platform seperti X telah menjadi pedang bermata dua bagi perkembangan teknologi. Di satu sisi, mereka memungkinkan penyebaran info nan cepat. Di sisi lain, mereka menjadi sarang misinformasi nan susah dikendalikan, terutama ketika melibatkan figur seperti Elon Musk dan perusahaan sebesar Tesla.
Fitur Community Note di X sebenarnya telah berfaedah dengan baik dalam kasus ini dengan mengoreksi klaim tiruan tentang FSD. Namun, seperti nan kita lihat, koreksi ini seringkali datang terlambat setelah narasi salah telah menyebar luas. Postingan Bellow tetap mendapatkan jutaan view meskipun telah dikoreksi, menunjukkan sungguh sulitnya melawan narasi nan sudah terlanjur viral.
Ironisnya, support dari Maye Musk—ibu Elon Musk—terhadap klaim FSD menghindari pesawat justru memperkuat misinformasi ini. Sebagai figur publik dengan pengikut besar, dukungannya memberikan legitimasi tambahan pada narasi nan salah, meskipun mungkin dilakukan dengan niat baik sebagai corak support pada perusahaan putranya.
Perkembangan teknologi seperti penggunaan chip 3nm dari TSMC oleh Tesla memang menjanjikan peningkatan keahlian processing nan signifikan. Namun, hardware nan canggih tetap memerlukan software dan algoritma nan matang sebelum dapat diandalkan dalam situasi kritis seperti menghindari pesawat jatuh.
Pelajaran dari Insiden Oklahoma
Kisah Matthew Topchian dan pesawat militer ini memberikan pelajaran berbobot bagi kita semua. Pertama, bahwa teknologi otonom tetap memerlukan pengawasan manusia, terutama dalam situasi tak terduga. Kedua, bahwa kita kudu lebih kritis dalam menerima info di media sosial, apalagi ketika info tersebut datang dari sumber nan tampaknya terpercaya.
Yang terpenting, kejadian ini mengingatkan kita bahwa di kembali setiap kemajuan teknologi, tetap ada peran manusia nan tidak tergantikan. Refleks, intuisi, dan keahlian mengambil keputusan dalam tekanan nan dimiliki Matthew Topchian-lah nan betul-betul mencegah tragedi pada hari itu—bukan algoritma alias sensor canggih.
Sebagai konsumen dan masyarakat nan hidup di era teknologi, tanggung jawab kita adalah menjaga keseimbangan antara antusiasme terhadap penemuan dan realitas tentang keahlian teknologi saat ini. Hanya dengan demikian kita dapat betul-betul maju menuju masa depan transportasi nan lebih kondusif dan cerdas—tanpa mengorbankan kebenaran dan keselamatan di jalan raya.