Bocoran Aplikasi Sora 2 Openai: Tiktok Ai Dengan Fitur Wajah Yang Kontroversial

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Telset.id – Bayangkan sebuah platform media sosial di mana setiap video nan Anda scroll sepenuhnya dibuat oleh kepintaran buatan. Tidak ada konten manusia asli, tidak ada momen spontan—hanya simulasi digital nan dipersonalisasi untuk Anda. Inilah nan sedang dipersiapkan OpenAI, menurut laporan eksklusif dari Wired. Aplikasi Sora 2 nan sedang dikembangkan dikabarkan bakal menjadi TikTok jenis AI murni, komplit dengan fitur pengenalan wajah nan menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Laporan ini muncul di tengah gelombang skeptisisme terhadap konten AI. Meta baru-baru ini meluncurkan feed unik AI di aplikasi Meta AI-nya, nan langsung menuai kritik pedas dari pengguna. Sekarang, OpenAI dikabarkan bakal melangkah lebih jauh dengan aplikasi berdikari untuk model pembuatan video Sora 2. nan membedakan? Platform ini bakal menggunakan algoritma rekomendasi personalisasi untuk menyajikan konten nan sesuai minat pengguna, mirip dengan langkah kerja TikTok, IG Reels, alias YouTube Shorts. Bedanya, semua konten di sini 100% buatan mesin.

Mekanisme Platform nan Mengusik Privasi

Yang paling kontroversial dari bocoran aplikasi Sora 2 ini adalah sistem verifikasi identitas melalui pengenalan wajah. Pengguna bakal diminta untuk mengonfirmasi kemiripan wajah mereka, dan setelah itu—inilah bagian nan mengkhawatirkan—wajah mereka dapat digunakan dalam video AI. Bahkan lebih mengganggu lagi: pengguna lain dapat menandai Anda dan menggunakan kemiripan wajah Anda dalam video buatan mereka sendiri. Setiap kali wajah Anda digunakan, Anda bakal mendapat notifikasi—bahkan jika video tersebut hanya disimpan sebagai draf dan tidak pernah diposting.

Di era ketika pemerintah federal AS baru mulai membahas izin terbatas untuk melindungi korban deepfake non-konsensual, fitur semacam ini terasa seperti langkah mundur. Apakah ini berfaedah Sora 2 pada dasarnya memfasilitasi manipulasi wajah oleh orang lain? Pertanyaan ini semakin menguat mengingat rekam jejak OpenAI dalam perihal keamanan konten. Meskipun perusahaan menyatakan telah menambahkan perlindungan ke model Sora original untuk mencegah generasi konten bugil dan eksplisit, pengetesan independen menunjukkan sistem tetap dapat menghasilkan konten terlarang—meski dalam tingkat nan rendah.

Batasan Teknis dan Implikasi Sosial

Dari segi teknis, video nan dihasilkan Sora 2 bakal dibatasi hingga 10 detik—jauh lebih pendek dari keahlian Sora jenis pertama nan bisa menghasilkan video 60 detik. Pembatasan ini kemungkinan besar mengenai dengan keterbatasan teknologi: setelah 10 detik, kualitas video AI mulai menurun dan “berhalusinasi” komponen aneh. Meskipun OpenAI melatih modelnya untuk menolak pelanggaran kewenangan cipta dan menerapkan filter untuk membatasi jenis video tertentu, pertanyaan tentang efektivitas perlindungan ini tetap menggantung.

Yang menarik, tidak ada langkah untuk mengunggah foto alias video langsung tanpa edit di platform ini. Semua konten kudu melewati proses “AI-fikasi” terlebih dahulu. Pendekatan ini sekilas terlihat seperti upaya untuk mengkarantina konten AI dalam ekosistem terpisah—sebuah konsep nan mungkin justru bijak di tengah banjirnya konten AI di platform konvensional. Namun, penerapan fitur sosialnya, khususnya nan melibatkan penggunaan wajah pengguna, justru menciptakan akibat privasi baru.

Bagi Anda nan tertarik dengan pengganti pembuatan konten video, tersedia beragam aplikasi untuk membikin video bokeh terbaik Android 2024 nan menawarkan produktivitas tanpa kompromi privasi. Sementara platform seperti X nan mirip Zoom dengan fitur video call mendemonstrasikan gimana fitur sosial dapat diimplementasikan dengan lebih transparan.

Masa Depan nan Masih Spekulatif

Hingga saat ini, OpenAI belum mengonfirmasi rencana pengembangan aplikasi Sora 2. Gizmodo telah menghubungi perusahaan tersebut tetapi belum menerima tanggapan pada saat publikasi. Spekulasi tentang peluncuran Sora 2 telah beredar selama berbulan-bulan, dengan beberapa pihak memperkirakan pengumuman bakal dilakukan berbarengan dengan peluncuran GPT-5. Untuk saat ini, aplikasi dan modelnya tetap berkarakter teoretis.

Namun, jika laporan Wired akurat, kita mungkin sedang menyaksikan kelahiran corak baru media sosial—atau mungkin “anti-sosial media”—di mana hubungan manusia digantikan oleh simulasi AI. Konsep feed AI eksklusif sebenarnya mengandung potensi positif: memisahkan konten AI dari platform konvensional, mirip gimana cara download video YouTube pakai aplikasi Telegram memisahkan kegunaan unduhan dari platform streaming. Namun, penerapan fitur sosial nan melibatkan info biometrik pengguna justru menimbulkan paradoks keamanan nan serius.

Pertanyaan terbesar nan tetap belum terjawab: akankah ada opsi opt-out alias keahlian untuk membatasi siapa nan dapat menggunakan kemiripan wajah kita? Jika tidak, kita mungkin sedang menuju ke era baru pelanggaran privasi digital—di mana wajah kita bisa menjadi konten viral tanpa persetujuan kita, di platform nan sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma.

Selengkapnya