Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa kualitas dan keamanan info merupakan fondasi utama dalam melindungi masyarakat dari akibat kepintaran buatan (AI) nan bias alias dimanipulasi. Hal ini disampaikannya saat menyoroti ancaman data poisoning dalam aktivitas Data and AI Conference 2026 di Jakarta Pusat, Rabu.
Dalam forum tersebut, Nezar mengingatkan bahwa praktik manipulasi info alias data poisoning dapat merusak integritas sistem AI secara fatal. Dampaknya tidak hanya teknis, tetapi langsung menyasar publik melalui kesalahan keputusan otomatis hingga penyalahgunaan info pribadi. Menurutnya, penemuan AI nan berdaulat sangat berjuntai pada manajemen info nan disiplin.
“Kita butuh manajemen info nan kuat dan kudu menjadi injakan penting. Dan lantaran itu saya membujuk untuk kita semua konsentrasi pada tiga aspek,” ujar Nezar.
Isu ini menjadi krusial mengingat mengambil AI nan masif seringkali tidak dibarengi dengan pemahaman mengenai kebersihan data. Padahal, keamanan data nan jelek dapat menjadi celah fatal.
Bahaya Data Poisoning bagi Publik
Nezar menjelaskan bahwa AI sangat berjuntai pada kualitas dataset nan digunakan untuk melatihnya. Jika info nan diasup tidak bersih alias tidak terstandar, output nan dihasilkan bakal menyimpang dan merugikan masyarakat luas.
“AI sangat rawan untuk menjadi kacau jika terjadi data poisoning, misalnya info nan tidak bersih,” tegas Nezar.
Untuk memitigasi akibat ini, pemerintah menekankan perlunya izin nan adaptif. Pendekatan ini bermaksud melindungi privasi dan etika tanpa mematikan potensi inovasi. Nezar memandang izin kudu kokoh namun elastis untuk mendorong penelitian teknologi, sekaligus mencegah konsentrasi info nan dapat melemahkan kedaulatan digital nasional.
Lebih lanjut, Wamenkomdigi menyoroti perlunya standar manajemen info nan disusun secara kolaboratif antara sektor publik dan privat. Tujuannya agar dataset pengembangan AI di Indonesia bersih, relevan, dan representatif. Ia menyebut peran asosiasi seperti DAMA (Data Management Association) sangat vital dalam menjembatani kebutuhan ini.
Tantangan SDM dan Proses
Menariknya, Nezar menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam ekosistem AI saat ini bukanlah pada kecanggihan teknologi itu sendiri, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia (people) dan proses pengelolaan data.
“Problem dalam pemanfaatan teknologi terbaru ini bukan di teknologi nan terbesar, tapi pada people dan juga process. Tanpa talenta nan kompeten di bagian info dan AI, saya kira kedaulatan nan kita bicarakan hanya menjadi retorika saja,” kritiknya.
Pernyataan ini sejalan dengan temuan industri bahwa keamanan info digital seringkali bedah bukan lantaran sistem nan lemah, melainkan kesalahan manusia alias prosedur nan tidak tepat.
Kementerian Komunikasi dan Digital sekarang membuka ruang kerjasama nan lebih luas untuk membangun tata kelola info nasional. Langkah ini diambil untuk memastikan pengembangan AI di Indonesia melangkah aman, akurat, dan berorientasi pada perlindungan kepentingan publik, bukan sekadar adu sigap penemuan tanpa arah.
Sebagai langkah preventif tambahan bagi lembaga alias perusahaan, penggunaan solusi prasarana nan tepat seperti solusi Synology juga bisa menjadi opsi untuk memperkuat manajemen penyimpanan info agar terhindar dari manipulasi pihak luar.