Printer Lama Terancam? Windows 11 Setop Dukungan Driver Lawas!

Sedang Trending 21 jam yang lalu

Pernahkah Anda merasa frustrasi saat mau mencetak arsip penting, namun printer mendadak “mogok” alias komputer kandas mengenali perangkat hanya lantaran masalah driver nan usang? Mimpi jelek teknis ini mungkin bakal segera berakhir, alias justru menjadi awal kebingungan baru bagi sebagian pengguna nan belum siap beradaptasi. Microsoft baru saja mengambil langkah tegas nan bakal mengubah langkah kita berinteraksi dengan perangkat pencetak di ekosistem Windows secara permanen.

Dalam upaya memodernisasi sistem operasi andalannya, Windows 11 dikonfirmasi bakal mengakhiri support untuk driver printer legacy. Langkah ini bukan sekadar pembaruan rutin, melainkan perombakan esensial pada arsitektur pencetakan Windows nan telah digunakan selama beberapa dekade. Tujuannya sangat jelas: menciptakan lingkungan komputasi nan lebih aman, mengurangi bloatware, dan meningkatkan reliabilitas sistem secara keseluruhan.

Namun, keputusan ini memicu pertanyaan besar di kalangan pengguna rumahan maupun korporasi: Apakah printer setia nan sudah menemani Anda bertahun-tahun bakal mendadak menjadi peralatan rongsokan? Sebelum Anda panik dan membuang perangkat keras Anda, mari kita bedah secara mendalam apa sebenarnya nan terjadi di kembali layar Redmond dan gimana kebijakan “End of Servicing” ini berakibat pada aktivitas harian Anda.

Akhir Era Driver V3 dan V4

Perubahan besar ini berpusat pada langkah Windows menangani instalasi driver. Selama bertahun-tahun, produsen printer seperti HP, Canon, Epson, dan lainnya merilis driver unik (tipe v3 dan v4) nan sering kali datang dengan paket instalasi besar. Microsoft sekarang memutuskan untuk menghentikan pengedaran driver-driver spesifik produsen ini melalui Windows Update. Kebijakan ini mirip dengan saat Dukungan Windows jenis lawas dihentikan oleh developer aplikasi lain demi efisiensi.

Sebagai gantinya, Microsoft mendorong penggunaan Microsoft IPP Class Driver dan perangkat cetak nan kompatibel dengan standar Mopria. Sederhananya, Windows mau printer bekerja layaknya perangkat USB modern lainnya: colok dan pakai (plug and play), tanpa perlu mengunduh installer berukuran ratusan megabyte nan sering kali memperlambat keahlian PC. Ini adalah transisi dari model berbasis driver spesifik menuju model berbasis standar universal.

Langkah ini sebenarnya sudah direncanakan cukup lama, namun pelaksanaannya di Windows 11 sekarang semakin agresif. Microsoft tidak lagi mau Windows Update menjadi “gudang” bagi ribuan driver printer nan berbeda-beda jenis dan kualitasnya. Dengan menstandarisasi protokol, Microsoft berambisi dapat mengurangi kejadian Blue Screen of Death (BSOD) nan kerap dipicu oleh bentrok driver pihak ketiga.

Some Windows 11 users cannot pembaruan the Microsoft Defender

Keamanan Jadi Prioritas Utama

Alasan utama di kembali kebijakan drastis ini adalah keamanan. Driver printer legacy telah lama menjadi celah keamanan nan dieksploitasi oleh peretas. Masih ingat dengan kerentanan “PrintNightmare” nan sempat menghebohkan bumi keamanan siber beberapa waktu lalu? Insiden tersebut membuka mata banyak pihak bahwa arsitektur pencetakan Windows nan lama mempunyai fondasi nan rapuh.

Dengan beranjak ke IPP (Internet Printing Protocol), komunikasi antara PC dan printer menjadi lebih kondusif dan terstandarisasi. Microsoft tidak perlu lagi memvalidasi kode driver dari ratusan produsen nan berbeda, nan mana proses tersebut sering kali meloloskan bug alias celah keamanan. Bagi pengguna nan peduli pada privasi data, ini adalah berita baik. Namun, bagi mereka nan terbiasa dengan sistem lama, ini mungkin terasa membatasi.

Banyak pengguna nan mulai merasa bahwa ekosistem Windows semakin tertutup dan memaksa, sebuah sentimen nan juga menjadi argumen kenapa sebagian gamer mulai Pindah ke Linux. Kendati demikian, dalam konteks keamanan korporasi dan perlindungan info pribadi, langkah Microsoft ini dinilai sebagai perkembangan nan wajib dilakukan, meskipun pahit.

Dampak Langsung Bagi Pengguna

Apa nan bakal terjadi pada printer Anda setelah kebijakan ini bertindak penuh? Kabar baiknya, printer Anda tidak bakal langsung berakhir berfungsi. Jika Anda sudah menginstal driver produsen, driver tersebut bakal tetap bekerja. Namun, jika Anda membeli printer baru alias menginstal ulang Windows, sistem tidak bakal lagi secara otomatis mencari driver spesifik produsen di Windows Update.

Sebaliknya, Windows bakal menginstal driver kelas IPP bawaan. Driver ini memungkinkan kegunaan dasar pencetakan melangkah lancar. Namun, fitur-fitur “mewah” nan biasanya ada di software bawaan pabrik—seperti pemantauan level tinta nan detail, fitur pembersihan head khusus, alias pengaturan warna nan kompleks—mungkin tidak lagi terintegrasi langsung di menu pengaturan Windows standar. Pengguna kudu mengunduh aplikasi pendukung dari Microsoft Store alias situs produsen secara manual jika menginginkan fitur tersebut.

Situasi ini mungkin mengingatkan kita pada masalah kompatibilitas perangkat keras lainnya, seperti saat pengguna mengalami Masalah Trackpad nan tidak responsif lantaran ketidakcocokan driver. Transisi ini menuntut pengguna untuk lebih berdikari dalam mengelola perangkat keras mereka.

Nasib Produsen Printer

Bagi produsen printer seperti HP, Canon, dan Brother, ini adalah sinyal untuk berubah. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan Windows Update sebagai sarana utama mendistribusikan bloatware alias software tambahan mereka. Mereka kudu menyediakan aplikasi “Print Support Apps” (PSA) di Microsoft Store. Aplikasi ini bakal melangkah beriringan dengan driver standar IPP untuk menyediakan fungsionalitas tambahan tanpa kudu mengotak-atik kernel sistem operasi.

Perubahan ini sebenarnya menyederhanakan proses pengembangan bagi produsen. Mereka tidak perlu lagi membikin driver berbeda untuk setiap jenis Windows. Cukup konsentrasi pada standar Mopria dan aplikasi pendukung. Namun, di sisi lain, ini mengurangi kontrol produsen terhadap pengalaman pengguna (user experience) saat pertama kali menghubungkan printer.

Microsoft now let’s Windows 11 handhelds check cloud-save status

Persiapan Menghadapi Perubahan

Transisi ini tidak terjadi dalam semalam. Microsoft memberlakukan kebijakan ini secara berjenjang selama beberapa tahun ke depan (dengan sasaran penyelesaian penuh di sekitar tahun 2026-2027). Namun, sebagai pengguna cerdas, ada beberapa perihal nan bisa Anda persiapkan:

  • Cek Kompatibilitas: Pastikan printer Anda mendukung fitur Mopria alias IPP. Hampir semua printer jaringan (Wi-Fi/LAN) nan dirilis dalam 5-7 tahun terakhir sudah mendukung standar ini.
  • Jangan Hapus Driver Lama: Jika printer tua Anda tetap bekerja dengan baik menggunakan driver lama, pertahankan. Jangan terburu-buru melakukan pembaruan jika tidak diperlukan.
  • Manfaatkan Aplikasi Produsen: Mulailah membiasakan diri menggunakan aplikasi resmi produsen dari Microsoft Store untuk melakukan scanning alias maintenance, alih-alih berjuntai pada menu Devices and Printers klasik.

Meskipun terdengar teknis dan merepotkan, perubahan ini sejatinya membawa angin segar bagi ekosistem PC. Bayangkan sebuah bumi di mana Anda bisa mencetak dari laptop merek apa pun ke printer merek apa pun tanpa kudu mencari CD driver alias mengunduh file instalasi. Konsep interoperabilitas ini mirip dengan visi Emulasi PC di platform lain nan semakin cair dan fleksibel.

Pada akhirnya, keputusan Microsoft untuk mengakhiri support driver legacy adalah pil pahit nan kudu ditelan demi kesehatan jangka panjang ekosistem Windows. Printer Anda tetap aman, namun langkah Anda berinteraksi dengannya bakal menjadi lebih modern, terstandarisasi, dan nan terpenting, lebih kondusif dari serangan siber. Jadi, tidak perlu terburu-buru memensiunkan printer lama Anda, cukup bersiaplah untuk sedikit perubahan kebiasaan di masa depan.

Selengkapnya