Kode Ai As Diduga Gunakan Model China, Transparansi Dipertanyakan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Telset.id – Bayangkan Anda menggunakan perangkat coding AI terbaru nan diklaim sebagai buatan perusahaan Silicon Valley, namun rupanya dibangun di atas teknologi China. Itulah kontroversi nan sedang mengguncang bumi artificial intelligence saat ini, di mana dua startup AS dituding menggunakan model open-source China sebagai fondasi produk mereka.

Spekulasi ini bukan sekadar rumor belaka. Bukti-bukti mulai bermunculan, mulai dari performa nan mirip hingga jejak bahasa Mandarin dalam output sistem. nan lebih menarik, perusahaan China di kembali model tersebut justru memandang ini sebagai perkembangan positif untuk ekosistem AI global. Lantas, apa sebenarnya nan terjadi di kembali layar?

Dunia AI coding sedang mengalami revolusi besar-besaran. Tools seperti Google AI Studio Terbaru memungkinkan developer membikin aplikasi AI hanya dengan prompt sederhana. Namun, di kembali kemudahan ini tersembunyi kompleksitas etika nan mulai mengemuka.

Kecurigaan Terhadap Dua Startup AS

Cognition AI, startup San Francisco nan berbobot dahsyat $10,2 miliar, baru saja meluncurkan model SWE-1.5 nan disebut-sebut mempunyai performa coding mendekati state-of-the-art dengan kecepatan generasi rekor. nan membikin organisasi AI penasaran: perusahaan mengakui model ini dibangun “di atas model dasar open-source terkemuka” tetapi menolak menyebut secara spesifik model mana.

Spekulasi pun bergulir. Banyak nan menduga SWE-1.5 menggunakan GLM-4.6 dari Zhipu AI sebagai fondasinya. Model flagship China ini dirilis dengan lisensi MIT nan sangat permisif, memungkinkan siapa saja menggunakannya secara komersial tanpa kudu memberikan atribusi. Zhipu AI sendiri memberikan sinyal bahwa dugaan ini mungkin benar, meskipun Cognition AI memilih bungkam.

Bukan hanya Cognition AI nan menghadapi pertanyaan serupa. Startup San Francisco lainnya, Cursor dengan valuasi $9,9 miliar, menghadapi nasib serupa dengan asisten coding Composer-nya. Pengguna melaporkan menemukan jejak pemikiran berkata Mandarin dalam output tool tersebut, memicu spekulasi bahwa Composer juga mengandalkan model dasar China.

Ilustrasi kontroversi model AI coding antara perusahaan AS dan China

Cursor sejauh ini menolak berkomentar tentang klaim tersebut. Sikap tak bersuara kedua perusahaan ini justru memicu lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dalam industri nan semestinya mengedepankan transparansi, sikap tertutup seperti ini mengundang kecurigaan.

Dilema Etika dan Lisensi Open-Source

Inti persoalan ini terletak pada pertanyaan tentang penggunaan etis dan atribusi dalam AI. Banyak model China, termasuk GLM-4.6, dirilis dengan lisensi permisif seperti MIT nan mengizinkan perusahaan menggunakan dan memodifikasinya secara komersial tanpa tanggungjawab memberikan kredit.

Secara hukum, praktik ini sah-sah saja. Namun dari perspektif pandang etika, ini menimbulkan kekhawatiran tentang keadilan dan transparansi dalam pengembangan AI. Florian Brand, peneliti AI dari Universitas Trier, memberikan perspektif menarik: “fine-tuning adalah ‘saus’-nya”, nan berfaedah nilai sebenarnya sering kali datang dari kustomisasi dan reinforcement learning, bukan hanya dari model dasar itu sendiri.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika kita mempertimbangkan aspek keamanan dan privasi data. Seperti nan terjadi pada Character.AI nan membatasi pengguna remaja, pertanyaan tentang gimana info pengguna diproses dan disimpan menjadi semakin krusial.

Perspektif Unik dari Zhipu AI

Yang mengejutkan, Zhipu AI justru memandang perkembangan ini sebagai sesuatu nan positif. Daripada merasa dieksploitasi, perusahaan China tersebut menekankan akibat positif kerjasama open-source nan memperkuat ekosistem AI global.

Strategi ini rupanya membuahkan hasil nyata. Zhipu AI melaporkan peningkatan sepuluh kali lipat dalam jumlah pengguna berbayar dari luar China dalam beberapa bulan terakhir. Mereka apalagi meluncurkan paket berlangganan coding untuk ekspansi internasional, menunjukkan bahwa model upaya mereka justru diuntungkan oleh mengambil global.

Pendekatan Zhipu AI ini mengingatkan kita pada pentingnya perangkat seperti AI Stupid Meter nan memantau keahlian model AI secara transparan. Dalam ekosistem nan semakin terhubung, keahlian untuk memverifikasi klaim performa menjadi sangat berharga.

Implikasi untuk Pengguna Biasa

Bagi kita sebagai pengguna sehari-hari, kontroversi ini menyoroti kekhawatiran nan semakin besar tentang kepercayaan, transparansi, dan keamanan info dalam tools AI. Ketika perusahaan tidak mengungkapkan asal-usul model mereka, gimana kita bisa percaya info kita ditangani dengan benar?

Pertanyaan tentang standar privasi menjadi semakin relevan, terutama dengan maraknya jasa berlangganan AI seperti Opera Neon nan menawarkan peramban AI dengan biaya Rp333 ribu per bulan. Jika kita bayar untuk jasa premium, bukankah kita berkuasa tahu teknologi apa nan sebenarnya kita gunakan?

Isu ini juga mengangkat pertanyaan etis tentang penggunaan nan setara dan pemberian angsuran dalam AI open-source. Tools nan kita andalkan mungkin dibangun di atas karya orang lain tanpa pengakuan nan semestinya. Dalam jangka panjang, praktik seperti ini bisa menghalang penemuan jika kontributor open-source merasa tidak dihargai.

Pada akhirnya, kasus ini menunjukkan sungguh AI telah menjadi sangat dunia dan saling terhubung, mengaburkan batas-batas nasional dan membikin transparansi lebih krusial dari sebelumnya untuk membangun kepercayaan pengguna. Seperti halnya ketika memilih Mac terbaik untuk kebutuhan spesifik, memahami apa nan ada di kembali teknologi nan kita gunakan menjadi kunci dalam membikin keputusan nan tepat.

Masa depan AI tidak lagi tentang siapa nan membikin teknologi, tetapi tentang gimana teknologi tersebut dikembangkan, digunakan, dan diakui. Transparansi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan esensial dalam ekosistem AI nan sehat dan berkelanjutan.

Selengkapnya