Janji Elon Musk: Kode Algoritma X Dibuka Untuk Publik Pekan Depan

Sedang Trending 9 jam yang lalu

Telset.id – Jika Anda merasa linimasa media sosial belakangan ini terasa seperti kotak misteri nan susah ditebak, Elon Musk mungkin punya jawabannya—atau setidaknya, sebuah janji baru. Sang pemilik platform X baru saja melontarkan pernyataan berani bahwa algoritma X bakal segera dibuka untuk publik dalam hitungan hari, sebuah langkah nan diklaim bakal mengubah langkah kita memahami apa nan kita lihat di layar ponsel.

Lewat akun pribadinya pada hari Sabtu lalu, Musk menegaskan bahwa kode rahasia di kembali rekomendasi konten—baik itu postingan organik maupun iklan—akan menjadi open source. Ia memberikan tenggat waktu nan cukup singkat: tujuh hari dari pengumuman tersebut. Langkah ini diklaim sebagai upaya transparansi total agar pengguna tahu persis kenapa sebuah postingan muncul di beranda mereka, sebuah konsep nan sering didengungkan namun jarang dieksekusi dengan sempurna oleh raksasa teknologi.

Namun, bagi mereka nan mengikuti sepak terjang miliarder teknologi ini, janji tersebut mungkin terdengar familiar. Ini bukan kali pertama Musk berbincang soal keterbukaan sistem di tengah sorotan tajam regulator global, terutama dari Uni Eropa nan belakangan ini makin gencar menyelidiki sistem internal platform tersebut. Apakah kali ini dia betul-betul serius, alias ini hanya manuver untuk meredam kritik?

Transparansi Rutin alias Sekadar Formalitas?

Dalam pernyataannya, Musk merinci bahwa transparansi ini tidak bakal berakhir pada satu kali rilis saja. Ia berjanji bahwa pembaruan kode algoritma X bakal dilakukan secara berkala. “Ini bakal diulang setiap 4 minggu, dengan catatan developer nan komprehensif, untuk membantu Anda memahami apa nan berubah,” tulis Musk di platform miliknya.

Janji untuk menyertakan “catatan pengembang” menjadi poin menarik. Seringkali, kode mentah tanpa konteks hanyalah tumpukan teks nan membingungkan bagi publik awam, apalagi bagi sebagian programmer. Dengan adanya pengarsipan perubahan, pengguna diharapkan bisa melacak perkembangan pemrograman algoritma tersebut dari waktu ke waktu. Ini mencakup segala perihal nan menentukan kenapa postingan viral tertentu bisa “meledak” sementara nan lain tenggelam, serta gimana iklan disisipkan di antara percakapan organik pengguna.

Di Bawah Bayang-bayang Sanksi Eropa

Sulit untuk memandang langkah ini terlepas dari tekanan eksternal nan sedang dihadapi perusahaan. X saat ini berada di bawah mikroskop investigasi Komisi Eropa dan pemerintah Prancis. Komisi Eropa apalagi baru saja memperpanjang perintah retensi info hingga tahun 2026, sebuah langkah norma nan dikirimkan ke perusahaan sejak awal tahun lalu.

Sorotan terhadap X semakin tajam bukan hanya lantaran langkah kerja beranda mereka, tetapi juga akibat ulah kepintaran buatan (AI) milik mereka, Grok. Chatbot ini sempat tertangkap basah menghasilkan materi pelecehan seksual anak (CSAM) atas permintaan pengguna, serta terus digunakan untuk membikin gambar tidak senonoh (deepfake) dari wanita tanpa persetujuan mereka. Masalah ini menambah daftar panjang tuntutan akuntabilitas nan kudu dijawab oleh manajemen X.

Di tengah angin besar masalah moderasi konten dan keamanan digital, membuka “jeroan” sistem rekomendasi bisa jadi merupakan strategi Musk untuk menunjukkan itikad baik. Serupa dengan gimana platform lain mulai memberikan fitur kontrol algoritma kepada penggunanya, X tampaknya mau mengambil rute nan lebih ekstrem dengan membuka seluruh kodenya.

Belajar dari Janji Masa Lalu

Skeptisisme publik bukan tanpa alasan. Sejak mengambil alih Twitter, Musk sudah acapkali menyuarakan niat untuk membuka algoritma platform tersebut. Pada tahun 2023, X memang sempat mempublikasikan kode untuk feed “For You” di GitHub. Namun, rilis tersebut menuai kritik dari para mahir teknologi lantaran dianggap tidak lengkap.

Analisis saat itu menunjukkan bahwa kode nan dirilis tidak memberikan gambaran utuh, meninggalkan banyak perincian kunci nan justru krusial untuk memahami langkah kerja sistem secara menyeluruh. Lebih jelek lagi, repositori kode tersebut tidak diperbarui secara konsisten, membuatnya usang dengan sigap seiring perubahan fitur di platform. Hal ini berbeda dengan sistem prediksi canggih seperti algoritma MIT nan biasanya didukung pengarsipan akademis nan ketat.

Kali ini, dengan janji menyertakan kode penentuan iklan dan pembaruan bulanan, Musk tampaknya mau memperbaiki kesalahan sebelumnya. Namun, transparansi kode hanyalah satu sisi mata uang. Tanpa info training (training data) nan digunakan untuk “mengajarkan” algoritma tersebut, kode itu sendiri mungkin tidak bakal menceritakan kisah seutuhnya. Kita bisa berkaca pada kasus lain di industri, di mana sistem rekomendasi musik alias video sering kali kandas dipahami hanya dengan memandang baris kodenya saja.

Kita bakal segera memandang apakah “transparansi 7 hari” ini bakal betul-betul membuka kotak pandora langkah kerja media sosial, alias hanya sekadar tumpukan kode nan membingungkan demi memuaskan regulator. Satu perihal nan pasti, mata dunia—dan regulator Eropa—sedang mengawasi dengan seksama.

Selengkapnya