Intel Core Ultra Series 3 Di Ces 2026: Awal Comeback Atau Sekadar Janji?

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Telset.id – Sebuah comeback selalu terdengar heroik. Tapi di bumi semikonduktor nan bergerak secepat cahaya, janji untuk bangkit kembali sering kali lebih banyak diucapkan daripada diwujudkan. Di CES 2026, Intel datang dengan senjata baru: family prosesor Core Ultra Series 3. Mereka menyebutnya penawaran performa “luar biasa”, dengan skematis handal dan daya tahan baterai nan lebih baik untuk perangkat mobile. Namun, di kembali spesifikasi nan mengkilap itu, ada sebuah narasi nan jauh lebih kompleks dan penuh tekanan. Apakah ini betul-betul titik kembali nan ditunggu-tunggu, alias sekadar babak baru dalam drama panjang perusahaan nan sedang berjuang?

Secara sekilas, Core Ultra Series 3—yang sebelumnya dikenal dengan kode nama Panther Lake—memang terlihat impresif. Chip flagship ini datang dalam jenis Core Ultra 7 dan 9, serta jenis performa lebih tinggi Core X7 dan X9. Hampir semua modelnya menawarkan 16 core dan thread total. Hampir semuanya juga dilengkapi dengan Neural Processing Unit (NPU) berkapasitas 50 PTOPS untuk percepatan AI. nan menarik, jenis X7 dan X9 membawa 12 core skematis Xe, sebuah lompatan signifikan dari standar empat core nan biasa ditemukan. Spesifikasi ini jelas ditujukan untuk merebut hati para pembuat dan gamer nan menginginkan semua dalam satu perangkat laptop tipis.

Tapi, dua klaim Intel inilah nan membikin peluncuran Core Ultra Series 3 bukan sekadar pembaruan generasi biasa. Pertama, Intel menyatakan bahwa ini adalah chip paling canggih nan pernah diproduksi di Amerika Serikat. Kedua, dan nan paling krusial, ini adalah produk pertama nan dibuat menggunakan proses manufaktur 18A (18 Angstrom) Intel. Angka 1.8 nanometer ini menempatkannya sejajar dengan proses paling mutakhir dari TSMC, N2. Bagi Intel, 18A bukan sekadar teknologi; ini adalah simbol. Ini adalah inti dari rencana pengamanan “IDM 2.0” nan dicanangkan mantan CEO Pat Gelsinger untuk mengembalikan Intel ke puncak bumi chip. Ironisnya, comeback nan diidamkan itu tidak datang cukup sigap untuk menyelamatkan posisi Gelsinger, nan digantikan pada akhir 2024.

Transisi ke 18A rupanya bukan jalan mulus. Kabar burung dari Agustus 2025 menyebut bahwa Intel tetap bergulat dengan hasil produksi (yield) nan rendah dan tingkat abnormal nan tinggi, meski telah menggelontorkan miliaran dolar. Itulah kenapa pernyataan CEO baru Intel, Lip Bu-Tan, di CES 2026 terdengar begitu penting. Ia menyatakan bahwa perusahaan sekarang “lebih sigap dari jadwal” dalam meningkatkan produksi 18A. Jika klaim ini terbukti, ini bukan sekadar kemenangan untuk Intel, tetapi bisa menjadi titik kembali bagi lanskap chip global, menawarkan pengganti nyata dari kekuasaan TSMC. Namun, kata “jika” di sini terasa sangat besar. Industri tetap menunggu bukti nyata di luar presentasi panggung.

Lalu, apa artinya semua ini untuk Anda sebagai konsumen? Intel mengatakan chip Core Ultra Series 3 bakal segera menghuni laptop-laptop dari semua merek ternama: HP, Acer, Lenovo, Dell, Samsung, dan lainnya sepanjang tahun 2026. Mereka bakal dipasarkan sebagai otak dari perangkat AI PC generasi berikutnya. Sertifikasi baru chip ini untuk penggunaan embedded dan industri—seperti robotika dan kota pintar—juga membuka ceruk pasar baru. Tapi pertanyaan besarnya tetap pada eksekusi. Apakah laptop-laptop tersebut bakal menawarkan daya tahan baterai nan betul-betul revolusioner? Apakah performa skematis 12 core Xe itu bakal mentransformasi gaming di laptop ultrathin? Ataukah ini bakal menjadi kisah familiar di mana janji di panggung CES sedikit terkikis oleh realitas di bumi nyata?

Peluncuran Core Ultra Series 3 terjadi dalam hiruk-pikuk CES 2026 di Las Vegas, di mana penemuan dan hiperbola adalah mata duit utamanya. Saat NVIDIA memamerkan kekuatan komputasi untuk mobil otonom dan LG mengubah TV menjadi kanvas digital, Intel datang dengan cerita nan lebih personal: cerita tentang kebangkitan. Namun, beban sejarah itu berat. Setiap klaim performa, setiap benchmark nan dipamerkan, bakal dibandingkan dengan lanskap kompetitif nan didominasi oleh kreasi ARM nan efisien dan fabrikasi TSMC nan mapan.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: Apakah Core Ultra Series 3 adalah awal comeback Intel? Jawabannya mungkin terletak di antara ya dan tidak. Keberhasilan 18A adalah prasyarat mutlak. Jika Intel sukses memproduksi chip ini dalam volume besar dengan kualitas tinggi, maka mereka telah membersihkan rintangan terberat. Namun, comeback sejati baru bakal terwujud ketika produk ini tidak hanya ada di katalog, tetapi menjadi pilihan pertama—bukan sekadar alternatif—di akal konsumen dan mitra. Untuk saat ini, Core Ultra Series 3 adalah sebuah janji nan tertulis di atas silikon. Tahun 2026 bakal menjadi tahun dimana janji itu kudu diuangkan, chip demi chip.

Selengkapnya