Bitcoin Tak Lagi Ikuti Pola Lama, Puncak Harga Kini Didorong Oleh Institusi

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

– Selama lebih dari satu dekade, pasar mata uang digital terutama Bitcoin mengikuti pola nan relatif dapat diprediksi, ialah siklus empat tahunan nan berpusat pada momen halving. Namun, analis sekarang menilai bahwa struktur pasar ini mulai berubah, terdampak oleh tekanan ekonomi makro seperti utang korporasi Amerika nan jatuh tempo dan suku kembang tinggi.

Melansir dari cryptopotato.com, prediksi terbaru menunjukkan bahwa puncak nilai Bitcoin selanjutnya kemungkinan besar bakal terjadi pada 2026, bukan 2024 alias 2025 seperti nan diperkirakan sebelumnya.

Siklus Tradisional Bitcoin

Siklus Bitcoin biasanya berpusat pada peristiwa halving, pemotongan bingkisan blok nan terjadi setiap empat tahun. Secara historis:

  • Setelah halving 2012, BTC naik ke sekitar US$ 1.000.
  • Setelah halving 2016, naik ke kisaran US$ 20.000.
  • Setelah halving 2020, menyentuh US$ 69.000.

Pola ini membentuk siklus nan mudah diikuti oleh trader dan investor, namun kali ini, permainannya mungkin berbeda.

Raoul Pal: Faktor Makro Ubah Ritme Siklus Bitcoin

Analis pasar Raoul Pal dari Altcoin Daily menjelaskan bahwa utang korporasi Amerika menjadi salah satu aspek utama dalam perubahan ini. Mayoritas obligasi korporasi mempunyai jangka waktu 4 hingga 5,4 tahun, nan berfaedah tekanan ekonomi akibat suku kembang tinggi menyebar secara perlahan, bukan seketika.

Efeknya? Puncak dan dasar siklus bisnis, termasuk pasar kripto, ikut terdorong mundur.

“Kenaikan suku kembang memang melemahkan daya beli konsumen, tapi mendorong lembaga lewat peningkatan imbal hasil obligasi dan fee trading,” ungkap Raoul Pal.

Baca Juga: Endgame Dimulai, Bitcoin Masuki 30 Hari Paling Brutal Siklus Bull Run

Bitcoin Lebih Tergantung pada Likuiditas Institusi

Ketidakseimbangan antara konsumen (Main Street) dan lembaga (Wall Street) menjelaskan kenapa nilai aset bisa naik, meski ekonomi riil sedang melemah. Di pasar kripto, arus modal lembaga dan kebijakan suku kembang jauh lebih memengaruhi nilai BTC daripada tekanan dari penanammodal ritel.

Dengan kata lain, selama likuiditas tetap mengalir dari institusi, pasar mata uang digital tetap punya potensi untuk naik, hanya saja dalam ritme nan lebih lambat.

2026 Bakal Jadi Tahun Puncak Baru Bitcoin?

Model siklus baru menunjukkan puncak nilai Bitcoin selanjutnya bisa terjadi pada 2026, seiring dengan selesainya tekanan dari pasar obligasi dan pulihnya siklus ekonomi global.

Beberapa sinyal ke arah ini sudah terlihat:

  • Cathie Wood’s ARK Invest baru saja membeli Bitcoin senilai US$ 37,7, menandakan kepercayaan jangka panjang tetap kuat.
  • Aksi akumulasi oleh whale juga menunjukkan optimisme pasar, meski volatilitas tetap tinggi.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya