Analis Fidelity Klaim Level Ini Jadi Garis Hidup Bitcoin

Sedang Trending 3 jam yang lalu

– Harga Bitcoin (BTC) menghadapi fase krusial nan dapat menentukan arah jangka penjangnya, terutama jika 2026 berkembang menjadi tahun bear market penuh. Analisis terbaru dari Jurrien Timmer, selaku Direktur Global Macro di perusahaan Fidelity Investements menyoroti area US$ 65.000 sebagai level ‘hidup alias mati’ bagi Bitcoin dalam siklus berikutnya.

Menurut Timmer, setelah bergerak relatif dekat dengan garis power law selama fase bull market terakhir, Bitcoin sekarang beresiko menguji kembali area support nan lebih rendah. Garis power-law, nan sering digunakan untuk memperkirakan ‘nilai wajar’ jangka panjang Bitcoin, saat ini berada di sekitar US$ 45.000, level nan secara historis kerap bertepatan dengan dasar siklus besar.

“Dinamika nilai Bitcoin sekarang mulai menyerupai kurva S internet, bukan lagi mengikuti power law secara ketat,” ungkap Timmer.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa Bitcoin semakin mendekati fase pertumbuhan nan lebih matang, di mana kenaikan eksponensial mulai melambat dan digantikan oleh konsolidasi nan lebih panjang.

Dia menilai untuk saat ini, garis pemisah bagi Bitcoin ada di US$ 65.000, nan merupakan puncak nilai sebelumnya. Di bawahnya, ialah level US$ 45.000 menjadi support utama berasas power law.

“Meskipun level tersebut tetap relatif jauh, perlu diingat bahwa jika Bitcoin bergerak datar sepanjang tahun ke depan, garis power law bakal terus naik dan berpotensi mendekati US$ 65.000,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam skenario itu level tersebut bisa menjadi titik penentuan nan sesungguhnya bagi tren jangka panjang Bitcoin.

Analis ini sekaligus mempertanyakan relevansi siklus empat tahunan nan selama ini identik dengan Bitcoin. Timmer menilai bahwa pengaruh siklus halving terhadap nilai semakin berkurang seiring matangnya pasar. Namun demikian, dia menegaskan bahwa fase bear market tidak semerta-merta bakal hilang.

Baca Juga: Expert Klaim Bitcoin Bakal Tembus US$ 180.000, Berikut Proyeksinya

Pandangan tersebut diamini oleh pelaksana Fidelity lainnya, David Eng nan menilai bahwa dugaan Bitcoin telah ‘lulus’ ke fase tanpa bear market adalah kesalahpahaman tentang langkah nilai terbentuk.

“Bitcoin bukan sekedar aset teknologi nan mengikuti kurva mengambil seperti internet, melainkan aset langka dengan pasokan tetap nan sekarang terintegrasi dalam sistem finansial global,” kata Eng.

Kondisi tersebut, lanjutnya, justru Bitcoin tetap rentan terhadap siklus naik-turun, meskipun dengan volatilitas nan lebih rendah dan lama siklus nan lebih panjang.

Eng menambahkan bahwa seiring kedewasaan pasar, pergerakan nilai Bitcoin condong “terkompresi.” Namun, kompresi ini tidak berfaedah stagnasi permanen. Sebaliknya, tekanan tersebut kerap berujung pada pergerakan tajam ketika nilai akhirnya menyesuaikan diri dengan tren pertumbuhan jangka panjangnya.

Perdebatan mengenai siklus empat tahunan kembali mencuat setelah 2025 berhujung dengan keahlian negatif, sesuatu nan belum pernah terjadi sebelumnya dalam tahun pasca-halving. Hal ini mendorong sebagian organisasi mempertanyakan apakah teori siklus klasik tetap relevan.

Kendati demikian, Eng beranggapan bahwa kondisi nilai Bitcoin nan sekarang berada di bawah garis pertumbuhan jangka panjang justru membuka kesempatan reli pelepas tekanan.

“Sejarah menunjukkan resolusi biasanya datang dari nilai nan kembali mengejar tren pertumbuhan, bukan dari runtuhnya tren itu sendiri,” pungkas Eng.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya