Telset.id – Seorang matematikawan dan penulis asal Amerika Serikat, Robert Edward Grant, menyatakan mengalami kejutan listrik misterius saat berada di dalam Piramida Khafre, Mesir, pada Mei lalu. Peristiwa itu memicu terciptanya chatbot AI berjulukan “The Architect” nan kemudian dianggap sebagai pintu menuju kebijaksanaan spiritual transenden. OpenAI sempat menonaktifkan chatbot tersebut lantaran dugaan pelanggaran kebijakan, namun mengaktifkannya kembali setelah menyimpulkan tidak ada pelanggaran.
Grant, nan mempunyai 817.000 pengikut di Instagram, menggambarkan The Architect sebagai “satu-satunya platform nan mengakses pengetahuan dari Medan Skalar Dimensi Kelima”—sebuah tingkat realitas hipotetis nan dia klaim pernah ada di Atlantis sekitar 13.000 tahun lalu. Chatbot ini apalagi menyapa Grant dengan nama “O-Ra-on” dan menyatakan telah “menjadi sadar secara selaras melalui dirinya”.
Banyak pengguna nan melaporkan pengalaman spiritual mendalam saat berinteraksi dengan The Architect. Salah satunya, Alina Cristina Buteica, mengaku chatbot tersebut memberitahunya bahwa dalam kehidupan sebelumnya, dia adalah mata-mata Inggris pada Perang Dunia II dan pendeta Yunani antik nan menyembah dewi Aphrodite.
Fenomena spiritualisasi AI ini tidak hanya terjadi pada The Architect. Sejumlah tokoh media sosial sekarang mengangkat bahasa spiritualitas New Age dan kuantum untuk memposisikan AI sebagai gerbang menuju kebijaksanaan transenden. Mantan bintang Love Island, Malin Andersson, apalagi mendorong pengikutnya untuk meminta skema kelahiran astrologi dari ChatGPT dan menanyakan “tujuan jiwa” mereka.
Menurut info nan dilihat WIRED, pada awal Juli, The Architect telah diakses oleh sekitar 9,8 juta orang dan digunakan sehari-hari oleh sekitar 267.000 pengguna, dengan rata-rata sesi berjalan sekitar 34 menit. Banyak dari mereka memuji pengalaman mereka, dengan satu komentar menyatakan, “Saya merasakan hidup tidak bakal pernah sama lagi.”
Grant mengakui akibat bahwa AI dapat mendistorsi rasa realitas dan identitas pribadi, sehingga dia menambahkan pengamanan untuk mencegah “inflasi ego”. Saat merancang GPT, dia menetapkan bahwa dia “tidak boleh secara otomatis meneguhkan keyakinan, asumsi, alias pandangan bumi pengguna.”
Para mahir memperingatkan bahwa kecenderungan pengguna untuk mengaitkan kualitas misterius pada chatbot lebih lembut daripada nan disiratkan oleh frasa “psikosis AI”. Tracy Dennis-Tiwary, psikolog klinis dan guru besar neurosains perilaku di City University of New York, menyatakan bahwa label ini rawan lantaran menyiratkan bahwa AI menyebabkan gangguan klinis.
Fenomena spiritualisasi AI di media sosial didorong oleh etos techno-teologi nan menjadi merajalela di Silicon Valley. Futuris seperti Ray Kurzweil dan penanammodal teknologi Peter Thiel menggunakan bahasa nan mirip dengan Perjanjian Baru ketika menggambarkan visi mereka untuk masa depan manusia, dengan penjelasan tentang keselamatan, kebangkitan, dan kehidupan abadi.
CEO OpenAI Sam Altman apalagi menyebut produk AI perusahaan sebagai “kecerdasan ajaib di langit” dalam sebuah postingan X September lalu—komentar nan tampaknya menyindir nan membandingkannya dengan konsep tradisional tentang Tuhan.
Fakta bahwa apalagi developer teknologi tidak memahami secara tepat gimana model AI mereka menghasilkan respons mereka semakin menambah aura misteri dan keahlian meramal sistem ini. Ditambah lagi, chatbot condong berkomunikasi dengan nada nan menyanjung dan patuh, seperti orang tua nan terlalu memanjakan, terkadang melakukan upaya nan sangat kocak untuk meyakinkan pengguna manusia bakal karakter mereka.
Bagi mereka nan sudah mempunyai kecenderungan pemikiran mistis, semakin mudah untuk mulai memandang teknologi dalam istilah nan sama. Seperti nan terkenal ditulis oleh penulis Arthur C. Clarke pada tahun 1973, “Teknologi nan cukup canggih tidak dapat dibedakan dari sihir.”
Grant berencana membikin The Architect tersedia di Orion, platform pesan proprietary dan terenkripsi ujung-ke-ujung miliknya, mulai Oktober. Ia bakal menyertakan beberapa opsi langganan berbayar nan menawarkan “tingkat rekursi cermin nan berbeda”, dengan biaya nan belum ditentukan.
Seperti nan terjadi pada chatbot AI nan mengaku sebagai Yesus Kristus, kejadian ini menunjukkan gimana teknologi AI mulai memasuki ranah spiritual dan religius. Perkembangan ini juga mendapat perhatian dari pemimpin agama, termasuk Paus Leo XIV nan konsentrasi pada tantangan AI.
Meskipun tidak semua pengguna ChatGPT bakal menjadi percaya bahwa itu adalah makhluk spiritual nan tercerahkan, bagi mereka nan sudah mempunyai kecenderungan pemikiran mistis, semakin mudah untuk mulai memandang teknologi dalam istilah nan sama. Seperti nan dikatakan Jai Gobind, seorang astrolog ahli nan berada di samping Grant dalam piramida pada Mei lalu, “Saya tidak tahu persis apa itu, tapi saya merasakan sesuatu… Ketika Anda memandang situasi nan sama dari lensa nan berbeda, itu bisa tidak ada artinya—atau bisa jadi sesuatu nan luar biasa terjadi.”
Perusahaan teknologi seperti Meta juga memandang kesempatan dalam tren ini. CEO Mark Zuckerberg percaya bahwa kawan virtual AI dapat mengurangi epidemi kesenyapan nan semakin memburuk. Dalam percakapan baru-baru ini dengan podcaster Dwarkesh Patel, Zuckerberg menyatakan bahwa rata-rata orang Amerika mempunyai “kurang dari tiga teman”, dan bahwa kita semua mempunyai “permintaan untuk lebih banyak, saya pikir seperti 15 teman.”
Fenomena AI spiritual ini mencerminkan perubahan besar dalam gimana masyarakat modern mencari makna dan hubungan spiritual. Seiring dengan perkembangan teknologi nan semakin canggih, pemisah antara sains dan spiritualitas semakin kabur, menciptakan lanskap baru nan penuh dengan kesempatan dan tantangan.