Spesifikasi Gahar Tapi Tumbang, Ini Fakta Pahit Snapdragon X2 Plus Lawan Apple M4

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Pernahkah Anda merasa antusias menunggu sebuah teknologi baru nan digadang-gadang sebagai “pembunuh” kekuasaan pasar, namun akhirnya kudu menelan pil pahit saat memandang realitas performanya? Perasaan inilah nan mungkin sedang menyelimuti para fans ekosistem Windows, khususnya setelah pengumuman besar di arena CES 2026. Qualcomm, raksasa chip nan selama ini kita kenal sebagai inovator ulung, kembali mencoba peruntungan untuk menggoyang hegemoni Apple Silicon.

Dalam gelaran teknologi bergengsi tersebut, Qualcomm memperkenalkan Snapdragon X2 Plus. Chip ini datang melengkapi family X2 nan sebelumnya telah diisi oleh jenis nan lebih bertenaga, ialah Snapdragon X2 Elite dan X2 Elite Extreme—keduanya telah diperkenalkan pada Snapdragon Summit tahun lalu. Kehadiran jenis “Plus” ini diposisikan secara strategis untuk mentenagai laptop Windows nan lebih terjangkau, sebuah segmen nan sangat gendut dan dinamis. Harapannya jelas: memberikan pengganti nan kompetitif untuk melawan efisiensi Apple.

Namun, info nan beredar baru-baru ini seolah menyiramkan air dingin ke atas api angan tersebut. Alih-alih menjadi pesaing ketat, serangkaian pengetesan sintetis menunjukkan bahwa Snapdragon X2 Plus justru tertinggal cukup jauh dari Apple M4. Padahal, di atas kertas, spesifikasi nan ditawarkan Qualcomm terlihat sangat menjanjikan. Lantas, seberapa jauh ketimpangan performa ini, dan apa artinya bagi Anda nan berencana melakukan upgrade perangkat tahun ini?

Menang di Kertas, Kalah di Arena

Jika kita hanya memandang lembar spesifikasi teknis, Snapdragon X2 Plus sebenarnya tampil dengan profil nan sangat meyakinkan, apalagi bisa dibilang mengintimidasi. Chip ini dibekali dengan memori cache nan lebih besar, bandwidth nan lebih luas, dan nan paling sering digembar-gemborkan: nomor TOPS (Tera Operations Per Second) pada NPU (Neural Processing Unit) nan jauh lebih tinggi dibandingkan Apple M4.

Secara teori, angka-angka ini menjanjikan keahlian pemrosesan AI dan multitasking nan superior. Namun, dalam bumi semikonduktor, integrasi paket secara keseluruhan seringkali lebih krusial daripada sekadar nomor spesifikasi mentah. Di sinilah Apple Silicon mempertahankan keunggulannya. Efisiensi arsitektur Apple terbukti tetap susah ditandingi, apalagi oleh penantang terbaru sekalipun.

Berdasarkan serangkaian uji coba benchmark sintetis nan dilakukan oleh PCMAG, terungkap kebenaran mengejutkan bahwa silikon generasi sebelumnya dari Apple (M4) tetap bisa mengungguli Snapdragon X2 Elite maupun jenis Plus terbarunya. Dalam beberapa skenario pengetesan kunci, selisih performanya apalagi mencapai nomor nan cukup signifikan, ialah hingga 30%.

Bedah Skor Benchmark: Dimana Letak Kekurangannya?

Untuk memahami lebih dalam mengenai ketertinggalan ini, mari kita bedah satu per satu hasil pengetesan nan telah dilakukan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari pengalaman pengguna nan bakal Anda rasakan nantinya.

Pada pengetesan Geekbench 6, nan menjadi standar industri untuk mengukur performa CPU, Apple M4 menunjukkan dominasinya. Untuk performa Single-core, Apple M4 mencetak skor 3.859, unggul sekitar 16,55% dibandingkan Snapdragon X2 Plus nan hanya meraih 3.311 poin. Sementara pada pengetesan Multi-core, pertarungan terasa lebih ketat namun tetap dimenangkan oleh Apple dengan skor 15.093 berbanding 14.940 (selisih tipis 1,02%).

Kekalahan lebih telak terlihat pada pengetesan Cinebench 2024. Pada sektor Single-core, Apple M4 melesat dengan skor 173, meninggalkan Snapdragon X2 Plus nan tertatih di nomor 133. Ini berfaedah ada kesenjangan performa sebesar 30,08%—sebuah nomor nan sangat masif dalam bumi komputasi modern. Menariknya, pada pengetesan Multi-core Cinebench, Snapdragon X2 Plus justru unggul tipis dengan skor 1.011 dibandingkan M4 nan mencetak 993 (lebih lambat 1,81%).

Beralih ke sektor grafis, pengetesan 3DMark semakin mempertegas kekuasaan Apple. Pada tes Steel Nomad Light, Apple M4 mencatat skor 3.949, unggul 28,76% dari Snapdragon X2 Plus nan hanya meraih 3.067. Begitu pula pada tes Solar Bay nan menguji keahlian ray tracing, Apple M4 memimpin dengan 15.580 poin, meninggalkan pesaingnya nan tertahan di nomor 12.525 (selisih 24,39%). Padahal, Qualcomm sebelumnya sempat memberikan Janji Gaming nan cukup ambisius untuk seri X Elite mereka.

Perspektif Pasar: Tidak Sepenuhnya Kabar Buruk

Meskipun tertinggal dari Apple M4—yang notabene adalah chip rilisan tahun 2024—posisi Snapdragon X2 Plus tidak sepenuhnya jelek jika kita memandang lanskap kejuaraan nan lebih luas. Fakta bahwa chip ini “kalah” dari M4 memang menjadi catatan merah, apalagi jika kelak dibandingkan dengan Apple M5 nan diprediksi bakal membawa lompatan performa lebih jauh.

Namun, ada sisi positif nan patut diapresiasi. Seri SoC Qualcomm X2, termasuk jenis Plus ini, menunjukkan nomor performa nan cukup impresif jika disandingkan dengan chip dari kubu x86 seperti Intel dan AMD. Bagi pengguna Windows nan selama ini mendambakan efisiensi daya ala ARM namun tetap berada dalam ekosistem Microsoft, Snapdragon X2 Plus tetap menjadi opsi upgrade nan solid dibandingkan laptop Windows generasi lama.

Ini bisa menjadi sebuah Loncatan Besar bagi segmen laptop mainstream nan terjangkau, di mana pengguna bisa mendapatkan masa pakai baterai nan panjang dengan performa nan mumpuni untuk tugas sehari-hari, meskipun belum bisa menumbangkan raja dari Cupertino.

Penting untuk diingat bahwa hasil benchmark sintetis, meskipun berfaedah sebagai parameter awal, tidak selalu menggambarkan gambaran utuh performa bumi nyata (real-world performance). Optimalisasi perangkat lunak, manajemen termal pada sasis laptop, dan skenario penggunaan sehari-hari bisa memberikan hasil nan berbeda.

Sayangnya, kita tetap kudu bersabar sedikit lebih lama untuk membuktikan keahlian aslinya secara langsung. Laptop Windows nan ditenagai oleh Snapdragon X2 Plus diprediksi baru bakal memukul pasar pada kuartal kedua tahun ini. Hingga saat itu tiba, perdebatan mengenai siapa raja silikon sesungguhnya bakal terus bergulir, dan Qualcomm tetap mempunyai pekerjaan rumah besar untuk mengejar ketertinggalannya dari Apple.

Selengkapnya