Vivo Vision Explorer Edition: Headset Mr Pertama Yang Lebih Ringan Dari Apple Vision Pro

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Telset.id – Bayangkan memakai headset mixed reality nan nyaris separuh lebih ringan dari pesaing utamanya. Itulah nan coba ditawarkan Vivo dengan peluncuran perdana headset MR mereka, Vision Explorer Edition. Dalam langkah berani memasuki arena mixed reality, Vivo memilih pendekatan unik: biarkan pengguna mencoba dulu sebelum membeli.

Strategi ini bukan tanpa alasan. Di pasar nan tetap mencari bentuk, kepercayaan pengguna adalah kunci. Vivo mengerti betul bahwa mengambil teknologi baru memerlukan pengalaman langsung, bukan sekadar spesifikasi di atas kertas. Seperti nan terjadi pada era awal smartphone, nilai dan kenyamanan seringkali lebih menentukan daripada fitur-fitur canggih.

Dengan berat hanya 398 gram, Vision Explorer Edition jelas membikin pernyataan. Bandingkan dengan Apple Vision Pro nan bobotnya melampaui 600 gram – perbedaan nan cukup signifikan untuk penggunaan berkepanjangan. Rahasianya? Desain split dengan komponen magnesium alloy nan menjaga kekuatan tanpa mengorbankan bobot. Dimensinya pun terbilang kompak: 83mm untuk tinggi dan 40mm untuk ketebalan.

Vivo Vision Explorer Edition

Vivo tidak main-main dengan kenyamanan pengguna. Adjustable face masks, beragam pilihan busa padding, dan dual-ring strap nan bisa dilepas sigap menunjukkan perhatian terhadap detail. Bagi pengguna berkacamata, lensa optik magnetik tersedia untuk koreksi minus 100 hingga 1000 derajat tanpa mengganggu pengalaman visual.

Di kembali kreasi nan ringkas, tersimpan dual display Micro-OLED 8K dengan resolusi 3840 × 3552 per mata. Cakupan warna 94% DCI-P3 dan kecermatan warna nan impresif dijamin melalui kalibrasi pabrik untuk konsistensi antara kedua mata. Performa ditangani chip Snapdragon XR2+ terbaru Qualcomm nan diklaim 2.5x lebih powerful dari generasi sebelumnya.

Interface OriginOS Vision buatan Vivo menghadirkan beragam fitur seperti menonton movie imersif, replay olahraga spasial, dan setup produktivitas multi-window. Fitur passthrough-nya patut diacungi jempol dengan latency hanya 13ms untuk video berwarna penuh, membikin transisi antara bumi nyata dan virtual terasa mulus.

Interaksi didukung tracking mata dengan presisi 1.5 derajat dan pengenalan gesture tangan across 26 degrees of freedom dalam rentang vertikal 175 derajat. Konten eksklusif seperti “Drum Master” dan “Little V’s Journey” sudah siap, ditambah partnership dengan Migu untuk konten olahraga dan kompatibilitas dengan PC serta smartphone untuk streaming nirkabel.

Lalu kapan bisa membelinya? Inilah nan menarik. Mulai 22 Agustus, Vivo mendirikan station demo di 12 authorized store di kota-kota besar China seperti Beijing dan Shenzhen, dengan lebih banyak letak menyusul. Mereka mau orang mencoba dulu. Harga? Masih spekulatif, tapi pelaksana Vivo memberi hint sekitar 10,000 yuan (sekitar Rp 22 juta) alias kurang.

COO Vivo mengingatkan gimana smartphone mulai terkenal di China ketika harganya masuk dalam 20-30% dari nilai telepon dasar. Mereka jelas menargetkan sweet spot nan sama untuk mengambil MR. Strategi konsentrasi pada ringan dan terjangkau daripada memaksakan semua fitur mungkin justru kunci kesuksesan.

Dengan track record Vivo dalam penemuan teknologi dan keberhasilan seri flagship mereka, Vision Explorer Edition berpotensi menjadi game changer. Tapi seperti perangkat high-end lainnya, tantangan terbesarnya adalah membikin teknologi canggih ini bisa diakses dan dinikmati banyak orang.

Apakah pendekatan “coba dulu sebelum beli” ini bakal berhasil? Waktu nan bakal menjawab. nan jelas, Vivo tidak main-main dalam bersaing di arena mixed reality. Dengan konsentrasi pada pengalaman pengguna nan nyaman dan nilai nan masuk akal, mereka mungkin saja menemukan formula nan tepat untuk membawa MR ke mainstream.

Selengkapnya