Samsung: Tanpa Keamanan Privasi, Kecerdasan Buatan Tidak Ada Artinya

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Telset.id – Di tengah hiruk-pikuk pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas nan dipenuhi dengan janji-janji manis tentang kepintaran buatan (AI) nan bisa melakukan segalanya, Samsung memilih narasi nan sedikit berbeda. Bukan sekadar pamer kecanggihan, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini justru menekan tombol “pause” sejenak untuk membicarakan fondasi nan sering dilupakan: keamanan dan kepercayaan.

Dalam aktivitas Samsung The First Look 2026 nan digelar pada Selasa (6/1/2026), pesan nan disampaikan sangat jelas. Secanggih apapun algoritma nan ditanamkan dalam perangkat pandai Anda, semua itu tidak bakal berfaedah apa-apa jika pengguna tidak merasa kondusif saat menggunakannya. Ini adalah sebuah realitas pahit nan coba diingatkan oleh Samsung di tengah euforia industri nan sedang mabuk kepayang oleh AI generatif.

Keamanan Sebagai Pondasi Utama, Bukan Fitur Tambahan

Shin-chul Baik, Head of Security Governance Lab APC Samsung, menjadi salah satu tokoh sentral nan menyuarakan rumor krusial ini. Dalam forum tersebut, dia menegaskan bahwa di era nan serba terhubung alias hyper-connected world, celah keamanan bukan lagi sekadar akibat teknis, melainkan ancaman eksistensial bagi mengambil teknologi itu sendiri.

Bayangkan sebuah rumah di mana kulkas, TV, hingga mesin cuci saling berbincang satu sama lain melalui AI. Terdengar futuristik, bukan? Namun, tanpa protokol keamanan nan ketat, skenario ini bisa berubah menjadi mimpi jelek privasi. Samsung menyadari bahwa euforia AI seringkali membikin produsen lupa bahwa info pengguna adalah komoditas nan paling rentan disalahgunakan. Ini mengingatkan kita pada kasus di mana platform lain kudu melakukan Solusi Keamanan drastis demi melindungi integritas sistem mereka.

Dalam sesi diskusinya, Shin-chul Baik menekankan pentingnya tata kelola keamanan (security governance) nan tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif. Samsung tidak mau AI hanya menjadi “mainan baru” nan canggih tapi rapuh, melainkan sebuah ekosistem nan bisa diandalkan.

Head of Security Governance Lab. APC Samsung, Shin-chul Baik (kiri), dalam forum di aktivitas Samsung The First Look 2026 nan berjalan di CES 2026.

Kepercayaan: Mata Uang Baru di Era AI

Poin menarik lainnya nan mencuat dalam forum The First Look 2026 adalah konsensus para panelis mengenai “trust” alias kepercayaan. AI seringkali dianggap sebagai “kotak hitam” nan misterius. Pengguna memasukkan data, dan keajaiban terjadi. Namun, proses di kembali layar itulah nan sering memicu kecurigaan.

Para panelis sepakat bahwa kepercayaan adalah kunci utama agar AI bisa betul-betul “membumi” dan diterima secara luas tanpa rasa was-was. Tanpa kepercayaan, AI hanya bakal menjadi fitur gimmick nan dimatikan pengguna lantaran takut dimata-matai. Isu ini sangat relevan mengingat banyaknya perusahaan nan sekarang meminta akses ke Data Kerja Asli pengguna untuk melatih model mereka, nan seringkali memicu perdebatan etis.

Samsung tampaknya mau memposisikan diri sebagai “penjaga gawang” dalam industri ini. Dengan portofolio produk nan sangat luas, mulai dari smartphone hingga peralatan rumah tangga, tanggung jawab Samsung jauh lebih besar dibandingkan perusahaan software semata. Satu celah di smart TV bisa menjadi pintu masuk bagi peretas untuk mengakses info di ponsel nan terhubung dalam jaringan nan sama.

Dalam forum di Samsung The First Look 2026, Selasa (6/1/2026) para panelis sepakat bahwa kepercayaan adalah salah satu kunci AI bisa membumi.

Menjawab Tantangan Privasi Masa Depan

Diskusi di CES 2026 ini menyoroti pergeseran paradigma. Jika beberapa tahun lampau konsentrasi utama adalah “apa nan bisa dilakukan AI”, sekarang pertanyaannya berubah menjadi “apakah kondusif membiarkan AI melakukannya?”. Samsung, melalui bunyi Shin-chul Baik dan para panelis lainnya, menegaskan bahwa penemuan tanpa perlindungan adalah tindakan ceroboh.

Kepercayaan publik tidak bisa dibangun dalam semalam, apalagi di tengah skeptisisme dunia terhadap perusahaan teknologi besar. Langkah Samsung untuk mengangkat rumor keamanan sebagai topik utama di panggung sebesar CES menunjukkan kesungguhan mereka. Ini bukan lagi soal spesifikasi teknis semata, melainkan tentang membangun hubungan emosional berbasis rasa kondusif dengan konsumen. Di era di mana Enkripsi Kuat menjadi kebutuhan primer, strategi Samsung ini bisa dibilang langkah nan sangat logis dan krusial.

Pada akhirnya, pesan dari Las Vegas ini cukup sederhana namun menohok: Teknologi AI boleh saja melesat secepat kilat, namun tanpa rem keamanan nan pakem, kita semua hanya penumpang nan menunggu kecelakaan terjadi. Samsung berkomitmen untuk memastikan “rem” tersebut berfaedah dengan baik sebelum kita semua melaju lebih jauh.

Selengkapnya