Telset.id – Bayangkan mobil Anda bisa berpikir layaknya manusia saat menghadapi situasi jalan nan tak terduga. Bukan sekadar mengikuti algoritma kaku, tetapi memecah masalah, menganalisis pilihan, dan menjelaskan argumen di kembali setiap keputusannya. Itulah visi masa depan nan diusung Jensen Huang, CEO NVIDIA, dalam presentasi utama mereka di CES 2026. Meski banyak nan menganggap presentasi kali ini lebih sebagai penyegaran teknologi, dua pengumuman krusial justru mengisyaratkan langkah konkret NVIDIA menuju kekuasaan di dua ranah ekstrem: kepintaran di jalan raya dan kekuatan komputasi di pusat data.
Di tengah hiruk-pikuk Las Vegas, dengan jaket kulit ular hitamnya nan ikonis, Huang kembali menguasai panggung. Fokusnya jelas: mengonsolidasikan kepemimpinan NVIDIA dalam komputasi percepatan dan AI. Jika tahun-tahun sebelumnya dipenuhi kejutan besar, CES 2026 ini terasa seperti napas dalam sebelum lari sprint. NVIDIA sedang memastikan semua fondasi teknologi mereka sudah kokoh sebelum dilepas ke dunia. Dan dalam proses itu, mereka memberikan sekilas gambaran tentang masa di mana setiap kendaraan bisa berdikari dan setiap superkomputer mempunyai kekuatan nan nyaris tak terbayangkan.
Pengumuman pertama, dan mungkin nan paling relevan dengan kehidupan sehari-hari kita nantinya, adalah family model Alpamayo. NVIDIA menyebutnya sebagai model reasoning (penalaran) sumber terbuka nan dirancang unik untuk memandu kendaraan otonom melalui situasi berkendara nan sulit. Ini bukan sekadar sistem pengenalan objek alias jalur nan canggih. Alpamayo, dengan model andalannya Alpamayo 1, adalah sistem 10 miliar parameter nan mengangkat “chain-of-thought” alias alur pemikiran berantai.
Apa artinya? Sistem ini dirancang untuk mendekati masalah berkendara seperti manusia: memecah situasi tak terduga—katakanlah, pohon tumbang di tengah hujan angin besar alias kendaraan darurat nan melintas dari arah nan salah—menjadi serangkaian sub-masalah nan lebih kecil. Kemudian, langkah demi langkah, model ini mencari jalan teraman untuk maju. nan menarik, pada setiap langkahnya, Alpamayo 1 bisa menjelaskan argumen di kembali keputusannya. Transparansi ini bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga kunci untuk pengembangan dan audit sistem nan lebih aman.
Untuk melengkapi Alpamayo, NVIDIA juga memperkenalkan AlpaSim, model saudari nan memungkinkan developer melakukan training “closed-loop” untuk skenario mengemudi nan sangat jarang terjadi di kehidupan nyata. Pelatihan di bumi virtual nan super-realistis ini krusial untuk mengajari sistem menghadapi kejadian langka namun kritis tanpa kudu menunggu info bertahun-tahun dari jalanan sungguhan. Huang mengonfirmasi bahwa Mercedes Benz CLA 2025 bakal menjadi kendaraan pertama nan dilengkapi dengan seluruh tumpukan AV (Autonomous Vehicle) dari NVIDIA, termasuk Alpamayo. “Visi kami adalah suatu hari nanti, setiap mobil, setiap truk, bakal menjadi otonom,” tegas Huang. Pernyataan itu bukan lagi angan-angan, tetapi roadmap nan sedang dijalankan.
Setelah membahas masa depan transportasi, suasana panggung berubah menjadi lebih ringan sekaligus futuristik. Sepasang droid BD-1 dari game Star Wars Jedi: Fallen Order mendampingi Huang. Kehadiran mereka, nan salah satunya juga muncul di CES tahun lalu, mungkin terlihat seperti intermezo semata. Namun, di kembali itu, dia adalah pengingat elegan tentang gimana teknologi NVIDIA (seperti simulasi fisika dan skematis real-time) telah menghidupkan bumi virtual nan kita nikmati, dan gimana bumi itu semakin kabur batasnya dengan realitas.
Transisi dari droid game ke mesin komputasi paling perkasa di planet ini pun terjadi. Huang beranjak membahas Vera Rubin, arsitektur GPU nan pertama kali diumumkan NVIDIA pada 2024. Kini, berita besar datang: perusahaan telah memulai produksi superkomputer nan memanfaatkan teknologi baru ini. Spesifikasinya membikin kita tercengang. Satu CPU Vera dilengkapi dengan 88 inti kustom Olympus dan memori sistem 1,5TB, dengan total transistor mencapai 227 miliar. Sementara itu, satu GPU Rubin menampung 336 miliar transistor. Setiap superkomputer Vera Rubin mempunyai sepasang dari kedua komponen raksasa ini.
Mulai produksinya superkomputer Vera Rubin menandai babak baru dalam lomba komputasi eksaskala. Ini bukan sekadar peningkatan inkremental, tetapi lompatan generasi nan dirancang untuk menangani beban kerja AI generasi berikutnya, simulasi suasana nan lebih detail, alias penemuan material baru. Dalam narasi NVIDIA, kekuatan komputasi seperti inilah nan bakal menjadi mesin penggerak terobosan ilmiah dan industri dalam dasawarsa mendatang.
Lalu, gimana dengan para gamer nan setia menanti kartu skematis konsumen terbaru? Sayangnya, presentasi Huang di CES 2026 kali ini sama sekali tidak menyentuh segmen tersebut. Tidak ada bocoran tentang seri RTX 50 alias penerus Blackwell untuk desktop. Namun, jangan terlalu kecewa. CES tetap berlangsung, dan selalu ada kemungkinan pengumuman datang dari perspektif lain. Fokus NVIDIA di keynote utama jelas pada komputasi enterprise dan otomotif—dua pasar raksasa dengan nilai ekonomi nan sangat besar.
CES 2026 di Las Vegas, nan berjalan dari 4 hingga 9 Januari, tetap menyimpan banyak agenda. Setelah NVIDIA, tetap ada konvensi pers dari Sony Afeela dan AMD nan ditunggu-tunggu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pameran teknologi terbesar di bumi ini adalah tempat dimana masa depan dirancang, tidak hanya oleh NVIDIA, tetapi juga oleh raksasa-raksasa lain seperti Samsung dan LG nan juga memamerkan penemuan terbaru mereka. Dunia teknologi terus bergerak, dan apa nan hari ini terlihat seperti fiksi ilmiah, besok mungkin sudah ada di kandang mobil alias pusat info kita.
Jadi, apakah presentasi NVIDIA di CES 2026 membosankan lantaran kurang kejutan? Tergantung dari perspektif pandang Anda. Jika Anda mencari sensasi produk konsumen baru, mungkin iya. Namun, jika Anda melihatnya sebagai sebuah narasi strategis nan koheren, ini adalah pagelaran masterclass. NVIDIA dengan percaya diri sedang membangun dua pilar utama: AI nan bernalar di edge (tepi jaringan, seperti mobil) dan komputasi nan tak terbantahkan di cloud. Mereka tidak lagi sekadar menjual chip; mereka menjual prasarana untuk masa depan nan otonom dan cerdas. Dan dari panggung CES, pesannya jelas: masa itu sudah dimulai.
Perkembangan di CES 2026 menunjukkan gimana teknologi menjadi semakin tersebar dan terspesialisasi. Sementara NVIDIA konsentrasi pada otak komputasi, perusahaan lain menghadirkan penemuan nan lebih langsung terasa di rumah, seperti solusi berbagi layar tanpa Wi-Fi dari Belkin ConnectAir alias speaker wireless pandai nan dibocorkan sebelum pameran, seperti Samsung Music Studio. Semua ini adalah bagian dari mosaik besar dimana komputasi, AI, dan konektivitas menyatu untuk mendefinisikan ulang pengalaman hidup kita.