Krisis Chip Memori 2026: Dell Peringatkan Kelangkaan Terburuk Sepanjang Sejarah

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Telset.id – Industri teknologi dunia sekarang tengah dihantui oleh bayang-bayang krisis pasokan komponen nan diprediksi bakal mencapai puncaknya pada tahun 2026. Di tengah hingar-bingar pameran CES nan semestinya menjadi arena pamer inovasi, para raksasa teknologi justru disibukkan dengan satu masalah krusial: kelangkaan memori DRAM nan parah. Situasi ini diperburuk oleh konsentrasi produsen chip nan beranjak total ke prasarana pusat info (data center) demi menopang tren kepintaran buatan (AI), meninggalkan pasar PC konsumen dalam kondisi kritis.

Kekhawatiran ini bukan sekadar rumor pasar. Laporan dari beragam pemasok laptop dan produsen komponen telah memberikan sinyal merah kepada para investor. Chief Operating Officer (COO) Dell, Jeff Clarke, apalagi tidak segan menyebut situasi ini sebagai tantangan rantai pasok terberat nan pernah dia hadapi selama berkecimpung di industri ini. Dampaknya tidak hanya bakal dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi juga konsumen nan berencana membeli laptop alias merakit PC dalam waktu dekat.

Gelembung AI dan Dampaknya pada Pasokan DRAM

Akar masalah dari kelangkaan ini bermuara pada satu hal: Artificial Intelligence (AI). Seorang ahli bicara dari produsen PC nan enggan disebutkan namanya secara gamblang menyatakan kepada media bahwa mereka sedang “menunggu gelembung AI pecah” untuk memandang pemulihan pasokan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan tren sebaliknya. Produsen laptop besar seperti Lenovo, Dell, Asus, dan HP, meskipun gencar memasarkan “AI PC”, sekarang kudu berjuang mati-matian untuk mengamankan stok DRAM (Dynamic Random Access Memory) mereka.

Jeff Clarke dari Dell menegaskan bahwa konsentrasi utama perusahaannya saat ini adalah mengamankan pasokan. “Saya sudah lama berkecimpung di bagian ini. Ini adalah kekurangan terburuk nan pernah saya lihat,” ujarnya. DRAM adalah jenis memori standar nan digunakan pada laptop dan ponsel pintar. Sayangnya, tiga produsen memori utama bumi sekarang memalingkan wajah dari DRAM standar demi memproduksi High-Bandwidth Memory (HBM) nan sangat dibutuhkan oleh info center AI.

Pergeseran prioritas ini menyebabkan ketimpangan suplai nan ekstrem. Permintaan prasarana AI nan meroket membikin kapabilitas produksi tersedot ke sektor enterprise, meninggalkan pasar konsumen dengan sisa stok nan terbatas. Akibatnya, nilai di pasar spot telah melonjak hingga lima kali lipat sejak September tahun lalu, sebuah kenaikan nan disebut Clarke bakal segera bermanifestasi pada nilai jual produk jadi.

Situasi ini menciptakan paradoks nan menarik. Di satu sisi, konsumen didorong untuk mengangkat teknologi AI, namun di sisi lain, prasarana nan mendukung teknologi tersebut justru mematikan pasokan komponen nan dibutuhkan perangkat konsumen untuk beraksi secara optimal. Tanpa memori nan memadai, PC tidak dapat menjalankan model AI secara lokal, memaksa pengguna untuk terus berjuntai pada cloud.

Harga Meroket, Konsumen Jadi Korban

Dampak langsung dari kelangkaan ini adalah kenaikan nilai nan tak terelakkan. Rumor mengenai lonjakan harga PC dan elektronik lainnya mulai membanjiri internet dan terbukti bukan isapan jempol belaka. Pada akhir tahun 2025, Asus menjadi nan pertama secara resmi mengumumkan kenaikan nilai dan penyesuaian konfigurasi pada produk-produk eksisting mereka. Langkah ini sejalan dengan arsip internal Dell nan bocor, nan memprediksi kenaikan nilai hingga 30 persen pada tahun 2026.

Analis dari Citrini Research mencatat bahwa nilai perjanjian DRAM telah meningkat sekitar 40 persen pada kuartal terakhir tahun 2025. Tren ini diprediksi tidak bakal melambat, melainkan semakin bereskalasi dengan perkiraan kenaikan tambahan hingga 60 persen pada kuartal pertama tahun ini. Ini adalah sinyal jelas bahwa masa-masa susah bagi konsumen teknologi baru saja dimulai.

Strategi menimbun memori nan dilakukan oleh pabrikan besar seperti HP dan Asus mungkin terlihat sebagai solusi jangka pendek, namun perihal ini justru memperburuk keadaan. Penimbunan hanya bakal meningkatkan nilai lebih tinggi lagi dan semakin memperketat suplai di pasar. Clarke mengakui bahwa permintaan saat ini jauh melampaui penawaran, dan ini didorong sepenuhnya oleh kebutuhan prasarana AI.

Kondisi ini diperparah dengan kebenaran bahwa produsen laptop kudu menegosiasikan perjanjian jangka panjang untuk DRAM. Dengan nilai perjanjian nan terus naik, margin untung menipis, dan biaya tersebut akhirnya dibebankan kepada konsumen. Lonjakan harga ini diprediksi bakal berjalan selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam hitungan bulan, memaksa industri mencari solusi pengganti nan lebih imajinatif daripada sekadar menunggu angin besar berlalu.

Image may contain Computer Hardware Electronics Hardware and Computer

Inovasi Phison: Mengakali Keterbatasan DRAM

Di tengah keputusasaan tersebut, muncul solusi inovatif dari Phison, perusahaan teknologi asal Taiwan nan dikenal sebagai kreator kontroler memori flash. CEO Phison, Pua Khein-Seng, nan juga menyatakan sebagai penemu USB flash drive orisinal, menawarkan pendekatan berbeda melalui produk berjulukan aiDAPTIV. Pua memandang masalah kelangkaan ini dari perspektif pandang “storytelling” perusahaan memori nan mau meningkatkan valuasi saham mereka dengan konsentrasi pada AI.

Teknologi aiDAPTIV berfaedah sebagai cache SSD tambahan nan dapat “memperluas” bandwidth memori GPU pada PC. Secara teknis, memori flash (seperti pada SSD) biasanya digunakan untuk penyimpanan jangka panjang lantaran kecepatannya nan jauh di bawah DRAM. Namun, dengan kreasi SSD unik dan algoritma koreksi NAND nan canggih, Phison menyatakan bisa menggunakan flash memory untuk menangani tugas-tugas AI nan biasanya membebani DRAM.

Implikasi dari teknologi ini sangat signifikan. Produsen laptop dapat menurunkan kapabilitas DRAM fisik—misalnya dari 32 GB menjadi 16 GB—tanpa mengorbankan keahlian PC dalam menjalankan tugas AI. Solusi ini sejalan dengan rencana efisiensi nan memang sedang dipertimbangkan oleh Dell, HP, dan Lenovo. Keunggulan utamanya adalah aiDAPTIV dapat dipasang pada slot PCIe nan tersedia tanpa perlu mengubah arsitektur hardware internal secara drastis.

Dukungan awal dari raksasa seperti MSI dan Intel menunjukkan potensi besar teknologi ini. Jika klaim Phison terbukti, konsumen mungkin kudu menerima laptop dengan spesifikasi DRAM nan lebih rendah di atas kertas, namun dengan performa praktis nan tetap andal berkah support cache SSD pandai tersebut. Ini bisa menjadi jalan tengah untuk menekan DRAM langka nan harganya kian tak masuk akal.

Terobosan Pendingin Ventiva: Membuka Ruang untuk Memori

Selain Phison, solusi radikal lainnya datang dari Ventiva, sebuah perusahaan nan mengembangkan teknologi pendingin solid-state. CEO Ventiva, Carl Schlachte, memperkenalkan sistem pendingin ionik nan menggantikan kipas angin konvensional pada laptop. Teknologi ini tidak menggunakan bagian nan bergerak, melainkan mengionisasi udara untuk menciptakan aliran udara nan senyap dan efisien.

Relevansi teknologi pendingin ini dengan krisis memori terletak pada efisiensi ruang. Dengan menghilangkan kipas bentuk nan menyantap tempat, motherboard laptop dapat didesain ulang menjadi lebih kecil, memberikan ruang bentuk ekstra untuk modul memori tambahan. Schlachte menyebut “trinitas suci memori” nan terdiri dari kapasitas, bandwidth, dan topologi. Topologi, alias jarak antara modul RAM dan CPU, menjadi batas kritis pada laptop nan ruangnya sangat terbatas.

Schlachte beranggapan bahwa produsen memori saat ini terlalu terobsesi dengan info center, padahal secara ekonomi jangka panjang, memproduksi DRAM untuk pasar massal PC sebenarnya lebih menguntungkan dan lebih mudah diproduksi dibandingkan HBM. Dengan memberikan ruang lebih untuk DRAM melalui kreasi tanpa kipas, Ventiva berambisi dapat memicu kembali permintaan bakal memori on-device.

Visi besarnya adalah mengurangi ketergantungan pada cloud. Jika PC bisa menjalankan model bahasa besar (LLM) secara lokal, maka kebutuhan bakal info center raksasa bakal berkurang, dan produsen memori bakal kembali melirik pasar DRAM konsumen. Schlachte menekankan pentingnya privasi dan keamanan data, menunjuk lembaga finansial seperti Goldman Sachs nan memerlukan AI privat tanpa mengirim info sensitif ke cloud.

Pada akhirnya, baik Phison maupun Ventiva menawarkan angan untuk mengembalikan kekuatan komputasi ke tangan pengguna (on-device AI). Namun, keberhasilan visi ini berjuntai pada keahlian mereka meyakinkan produsen laptop, serta raksasa prosesor seperti Intel dan AMD, untuk berasosiasi melawan kekuasaan narasi cloud nan saat ini mengendalikan pasar memori global.

Selengkapnya