Keajaiban Medis: Pria Selamat Dari Serangan Lengan Robot Yang Hampir Memenggal Lehernya

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Bayangkan leher Anda nyaris terputus oleh lengan robot industri, tulang belakang hancur, dan arteri vital rusak parah. Itulah nan dialami seorang laki-laki di China pada 31 Mei lalu. Namun, berkah tim master nan berani dan teknologi medis mutakhir, nyawanya sukses diselamatkan dalam operasi nan disebut-sebut sebagai “keajaiban medis”.

Kasus ini menjadi perhatian dunia setelah diungkap oleh situs medis China Yixue Jie. Korban, nan tidak disebutkan namanya, mengalami kelumpuhan instan dan henti jantung setelah terkena pukulan keras dari lengan robot di tempat kerjanya. Pukulan tersebut memisahkan tulang lehernya (vertebra servikal) dan merusak arteri vertebralis—dua pembuluh darah kritis nan memasok darah ke otak.

Yang membikin kasus ini luar biasa adalah meskipun cedera sangat parah, saraf tulang belakang (spinal cord) pasien tetap utuh. Ini menjadi aspek penentu nan memungkinkan tim master di Shanghai Changzheng Hospital melakukan operasi pengamanan nyawa. “Kami telah meneliti beragam literatur medis, tetapi belum pernah menemukan kasus pemisahan vertebra servikal separah ini nan sukses diselamatkan,” ungkap Dr. Chen Huajiang, kepala departemen bedah tulang belakang rumah sakit tersebut.

Kondisi Kritis nan Menguji Batas Kedokteran

Pasien tiba dalam keadaan nan betul-betul mengkhawatirkan. Kedua arteri vertebralisnya tersumbat—satu pecah dan tersumbat pecahan tulang serta gumpalan darah, sementara nan lainnya teregang tipis dan nyaris tidak bisa mengalirkan darah. Tekanan darahnya ambruk ke level berbahaya, memaksa master memberikan obat dosis tinggi untuk mempertahankan sirkulasi.

Yang lebih menantang, kondisi pasien terlalu kritis untuk menjalani pemeriksaan standar. “Gerakan sekecil apa pun bisa membikin tekanan darahnya turun drastis, membikin tanda-tanda vital tidak stabil,” jelas Dr. Chen. Tim master kudu bekerja dengan info terbatas tentang letak cedera, siap menghadapi skenario terburuk termasuk kolapsnya sistem sirkulasi dan kurangnya aliran darah ke otak.

Operasi Tiga Jam nan Penuh Ketegangan

Pada 18 Juni, tim multidisiplin melakukan operasi berisiko tinggi selama tiga jam. Mereka kudu menghilangkan gumpalan darah, menyelaraskan kembali tulang leher, dan menstabilkan tulang belakang menggunakan dua plat bantu—sebuah teknik nan belum pernah dilaporkan digunakan pada kasus separah ini.

“Meskipun terlihat kami hanya memindahkan tulang, pembuluh darah dan saraf di sekitarnya juga ikut tertarik selama operasi. Kami kudu menghindari cedera sekunder sembari berupaya mencapai tingkat keberhasilan tinggi,” papar Dr. Chen tentang kompleksitas prosedur tersebut.

Operasi ini seumpama melangkah di atas tali tanpa jaring pengaman. Gumpalan darah nan lenggang bisa menyebabkan perdarahan katastropik—hingga 2 liter darah bisa lenyap dalam hitungan detik. Di sisi lain, akibat jangkitan mengintai lantaran kulit di belakang leher pasien rusak parah, membuka jalan bagi kuman untuk masuk ke cairan serebrospinal dan menyebabkan jangkitan otak nan fatal.

Perjalanan Pemulihan nan Panjang

Keajaiban terjadi ketika pasien sadar tak lama setelah operasi. Tanda-tanda vitalnya stabil, dan nan lebih menakjubkan, dia sudah bisa duduk dengan support serta menggerakkan lengan dan bahunya. Namun, master mengingatkan bahwa pemulihan penuh bakal menyantap waktu lama dan akibat komplikasi tetap ada.

Kisah ini tidak hanya menunjukkan ancaman kecelakaan industri tetapi juga kemajuan luar biasa dalam bedah trauma. Seperti perkembangan teknologi sarung tangan bionik nan membantu penyandang disabilitas, kasus ini membuktikan gimana penemuan medis terus mendorong pemisah apa nan mungkin.

Dr. Chen menekankan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerjasama erat antara mahir bedah ortopedi, ahli perawatan intensif, dan mahir anestesi. “Ini menunjukkan bahwa dengan kerja tim nan solid dan pendekatan multidisiplin, kita bisa menghadapi tantangan medis nan sebelumnya dianggap mustahil,” tutupnya.

Selengkapnya