Dislokasi: Inilah Jenis-jenis Dan Cara Mengobatinya!

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Cedera pada sendi bisa terjadi pada siapa saja. Salah satu cedera nan paling menyakitkan adalah dislokasi—kondisi ketika tulang di dalam sendi bergeser dari posisi seharusnya.

Mengenal lebih jauh tentang dislokasi sangat krusial agar kita tahu kudu melakukan apa ketika menghadapinya.

Jika mau berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri dengkul dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Banner Zaskia dekstop

Banner Zaskia mobile

Apa Itu Dislokasi?

Dislokasi adalah kondisi ketika tulang-tulang nan membentuk sendi bergeser alias apalagi keluar dari tempatnya.

Bayangkan sendi seperti pintu nan terpasang pada engsel—dalam kondisi normal, pintu (tulang) tetap berada pada engselnya (sendi) dan bisa bergerak dengan lancar.

Namun saat terjadi tumbukan alias trauma nan kuat, tulang bisa “lepas” dari tempatnya, seperti pintu nan copot dari engselnya.

Istilah dislokasi sendi alias dislokasi tulang sebenarnya merujuk pada perihal nan sama.

Yang krusial dipahami adalah: dalam kondisi dislokasi, tulang tidak berada pada posisi nan betul di dalam sendi, dan ini menyebabkan rasa sakit nan luar biasa.

Berbeda dengan patah tulang, pada dislokasi struktur tulangnya sendiri tetap utuh—yang bermasalah adalah posisi tulang nan tidak pada tempatnya.

Meskipun begitu, dislokasi bisa terjadi berbarengan dengan patah tulang jika benturannya sangat keras.

Bagaimana Sendi Bekerja?

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita memahami sedikit tentang anatomi sendi dan pergerakan tulang.

Sendi adalah tempat bertemunya dua tulang alias lebih. Fungsinya ada dua: membikin tubuh kita bisa bergerak, sekaligus menjaga agar tulang-tulang tetap stabil pada posisinya.

Setiap sendi didukung oleh beberapa bagian penting:

  • Ligamen adalah seperti tali kenyal nan mengikat tulang satu dengan tulang lainnya. Ligamen inilah nan memberikan kekuatan dan stabilitas ligamen dan otot pada sendi kita.
  • Kapsul sendi membungkus seluruh area persendian dan menghasilkan cairan pelumas agar aktivitas sendi menjadi halus.
  • Otot-otot di sekitar sendi tidak hanya menggerakkan sendi, tapi juga membantu menjaganya tetap stabil.

Ketika terjadi sistem cedera pada sendi—misalnya lantaran trauma olahraga dan kecelakaan nan melibatkan tumbukan keras alias aktivitas memutar nan tidak wajar—bagian-bagian pendukung ini bisa meregang berlebihan alias apalagi robek.

Akibatnya, sendi kehilangan kestabilannya dan pergeseran tulang pun terjadi.

Jenis-Jenis Dislokasi nan Sering Terjadi

Meskipun dislokasi bisa terjadi di semua sendi tubuh, ada beberapa area nan lebih sering mengalaminya.

1. Dislokasi Bahu

Ini adalah jenis dislokasi nan paling umum terjadi. Kenapa? Karena sendi bahu dirancang untuk bisa bergerak ke segala arah—memutar, mengangkat, melempar.

Kebebasan aktivitas ini membikin sendi bahu kurang stabil dibandingkan sendi lainnya.

Dislokasi bahu terjadi ketika tulang lengan atas terlepas dari mangkuk sendi di tulang belikat. Biasanya tulang lengan terdorong ke depan (dislokasi anterior).

Cedera ini sering dialami oleh atlet alias orang nan jatuh dengan posisi tangan terentang.

2. Dislokasi Lutut

Sendi dengkul sebenarnya cukup kuat lantaran kudu menopang berat badan kita.

Dislokasi lutut lengkap—di mana tulang paha betul-betul terlepas dari tulang kering—sangat jarang terjadi dan biasanya hanya terjadi pada kecelakaan nan sangat parah seperti tabrakan mobil.

Yang lebih sering terjadi adalah dislokasi patella alias dislokasi tempurung lutut. Tempurung dengkul ini biasanya berada di dalam alur di ujung tulang paha.

Saat dislokasi, tempurung ini bergeser keluar dari alurnya, biasanya ke samping. Kondisi ini sangat menyakitkan dan membikin dengkul terasa tidak stabil.

Hubungan dislokasi dengan nyeri lutut memang sangat erat, lantaran cedera ini bisa merusak permukaan sendi dan menyebabkan nyeri dengkul nan bersambung jika tidak ditangani dengan baik.

Penanganan dislokasi dengkul memerlukan perhatian unik lantaran melibatkan sendi nan menopang berat tubuh.

Proses pemulihannya biasanya lebih lama dan memerlukan program rehabilitasi nan lebih intensif dibandingkan dislokasi pada sendi lain.

3. Dislokasi Jari Tangan dan Jari Kaki

Dislokasi jari tangan dan dislokasi jari kaki termasuk nan paling sering terjadi. Jari-jari kita sangat rentan lantaran ukurannya mini dan sering terbentur dalam aktivitas sehari-hari.

Dislokasi kaki, khususnya pada jari-jari kaki, sering terjadi lantaran tersandung alias menendang sesuatu dengan keras.

Meskipun jari tergolong kecil, dislokasi di area ini sangat mengganggu lantaran kita menggunakan tangan dan kaki nyaris untuk semua aktivitas.

4. Dislokasi Siku dan Pergelangan Tangan

Sendi siku dan pergelangan tangan juga bisa mengalami dislokasi, terutama saat kita terjatuh dan secara refleks menggunakan tangan untuk menahan tubuh.

Benturan nan keras pada tangan dalam posisi terbuka bisa membikin tulang di sendi ini bergeser.

Tingkat Keparahan Dislokasi

Dislokasi ringan dan berat dibedakan berasas seberapa parah kerusakan nan terjadi.

  • Dislokasi ringan: Mungkin hanya membikin ligamen meregang tanpa robek besar, sehingga lebih mudah ditangani.
  • Dislokasi berat: Sebaliknya, dislokasi berat bisa merusak ligamen, tendon, apalagi saraf dan pembuluh darah di sekitar sendi—ini memerlukan penanganan nan lebih serius.

Apa Penyebab Dislokasi?

Penyebab dislokasi nan paling umum adalah trauma alias tumbukan keras. Berikut beberapa situasi nan sering menyebabkan dislokasi:

  • Cedera olahraga: Olahraga kontak seperti sepak bola, basket, alias bela diri mempunyai akibat tinggi. Benturan antar pemain alias aktivitas nan terlalu memaksa bisa menyebabkan cedera sendi.
  • Kecelakaan: Trauma olahraga dan kecelakaan lampau lintas adalah penyebab utama dislokasi nan serius. Benturan keras saat kecelakaan bisa membikin tulang bergeser dari tempatnya.
  • Jatuh: Terutama jatuh dari ketinggian alias jatuh dengan posisi tubuh nan tidak baik. Misalnya, jatuh dengan tangan terentang bisa menyebabkan dislokasi bahu alias siku.
  • Gerakan ekstrem: Gerakan tiba-tiba nan memaksa sendi bergerak melampaui pemisah normalnya, seperti memutar lengan terlalu keras, bisa menyebabkan instabilitas sendi dan pergeseran tulang.

Pada beberapa kasus nan jarang, ada orang nan mempunyai ligamen nan terlalu kendur sejak lahir, sehingga lebih mudah mengalami dislokasi.

Tanda-Tanda dan Gejala Dislokasi

Gejala dislokasi biasanya langsung terasa setelah cedera terjadi. Berikut adalah tanda-tanda nan perlu diwaspadai:

1. Nyeri nan Sangat Hebat

Nyeri akut adalah indikasi utama dislokasi. Rasa sakitnya sangat kuat dan muncul tiba-tiba di area sendi nan cedera.

Biasanya rasa sakit ini begitu dahsyat sampai membikin kita tidak bisa menggerakkan bagian tubuh nan cedera.

2. Pembengkakan dan Memar

Pembengkakan biasanya muncul dengan sigap di sekitar sendi nan cedera. Kulit juga bisa berubah warna menjadi kebiruan (memar) lantaran ada pendarahan di bawah kulit.

3. Tidak Bisa Digerakkan

Keterbatasan mobilitas adalah karakter unik dislokasi. Sendi nan cedera biasanya sama sekali tidak bisa digerakkan, alias sangat terbatas.

Ini berbeda dengan keseleo nan mungkin tetap bisa digerakkan sedikit meskipun sakit.

4. Bentuk Sendi Terlihat Aneh

Sendi nan dislokasi biasanya terlihat tidak normal jika dibandingkan dengan sisi tubuh nan sehat. Tulang mungkin terlihat menonjol alias berada di posisi nan tidak wajar. Ini adalah tanda visual nan paling jelas dari dislokasi.

5. Mati Rasa alias Kesemutan

Jika cedera merusak saraf di sekitar sendi, bisa timbul sensasi meninggal rasa, kesemutan, alias apalagi tidak bisa merasakan apa-apa di area nan terkena.

Bedanya Dislokasi dan Keseleo

Banyak orang nan tetap bingung membedakan antara dislokasi dan keseleo. Perbedaan dislokasi dan keseleo sebenarnya cukup jelas:

Keseleo

Adalah kondisi cedera pada ligamen (jaringan nan mengikat tulang ke tulang). Pada keseleo, ligamen meregang alias robek, tapi tulang tetap pada tempatnya.

Bayangkan seperti tali nan mengikat dua benda—talinya meregang alias putus, tapi kedua barang tetap berdekatan.

Dislokasi

Adalah kondisi cedera di mana tulang betul-betul bergeser dari posisi normalnya di dalam sendi.

Jadi bukan hanya ligamennya nan rusak, tapi tulangnya sendiri tidak pada tempatnya.

Secara umum, dislokasi lebih parah daripada keseleo dan memerlukan penanganan medis segera.

Namun, keseleo nan parah juga bisa sangat serius dan perlu ditangani dengan baik.

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Dislokasi?

Proses pemeriksaan cedera sendi dilakukan melalui beberapa tahap untuk memastikan kondisi nan tepat:

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter ortopedi bakal memeriksa sendi nan cedera dengan teliti. Mereka bakal memandang corak sendi, meraba area nan sakit dan bengkak, serta mencoba mengetes aktivitas sendi dengan hati-hati.

Dokter juga bakal memeriksa apakah ada kerusakan pada saraf alias pembuluh darah di sekitar cedera.

2. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi sangat krusial untuk memastikan diagnosis. Rontgen adalah pemeriksaan pertama nan dilakukan.

Dengan rontgen, master bisa memandang posisi tulang dengan jelas dan memastikan pemeriksaan dislokasi.

Pemeriksaan ini juga krusial untuk memandang apakah ada tulang nan patah berbarengan dengan dislokasi.

3. MRI (jika diperlukan)

Dalam beberapa kasus nan lebih rumit, master mungkin meminta pemeriksaan MRI.

MRI berfaedah untuk memandang kondisi jaringan lunak seperti ligamen ACL/MCL, tendon, dan tulang rawan nan tidak terlihat di rontgen.

Pemeriksaan ini membantu master mengetahui seberapa parah kerusakan nan terjadi.

Cara Mengobati Dislokasi

Cara mengobati dislokasi melibatkan beberapa tahap, mulai dari pertolongan pertama hingga pemulihan jangka panjang.

1. Pertolongan Pertama

Sebelum sampai ke dokter, ada beberapa perihal nan bisa dilakukan:

Metode RICE

  • Rest (Istirahat): Hentikan aktivitas dan jangan gerakkan area nan cedera
  • Ice (Es): Kompres dengan es nan dibungkus kain selama 15-20 menit untuk mengurangi pembengkakan
  • Compression (Penekanan): Balut dengan perban elastis dengan lembut jika memungkinkan
  • Elevation (Tinggikan): Posisikan area nan cedera lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi bengkak

Yang TIDAK boleh dilakukan: Jangan pernah mencoba memasang kembali tulang nan dislokasi sendiri!

Ini sangat rawan lantaran bisa merusak saraf, pembuluh darah, dan jaringan lainnya. Biarkan master nan melakukannya.

2. Penanganan di Rumah Sakit alias Klinik Patella

Reduksi Tertutup

Ini adalah prosedur utama untuk menangani dislokasi.

Reduksi tertutup adalah tindakan di mana master ortopedi dengan hati-hati menggerakkan dan memanipulasi sendi untuk mengembalikan tulang ke posisi nan benar.

Prosedur ini dilakukan setelah pasien diberi obat pereda nyeri dan obat penenang agar otot-otot rileks dan tidak terlalu sakit.

Dokter menggunakan teknik unik nan berbeda-beda tergantung sendi mana nan cedera.

Setelah tulang kembali ke tempatnya, master bakal melakukan rontgen lagi untuk memastikan posisi tulang sudah benar.

Imobilisasi

Setelah tulang dikembalikan ke posisi normal, tahap selanjutnya adalah imobilisasi—artinya sendi tidak boleh digerakkan dulu untuk sementara waktu.

Ini krusial agar ligamen dan jaringan lunak nan rusak punya waktu untuk sembuh dengan baik. Alat nan digunakan untuk imobilisasi berbeda-beda:

  • Gendongan (sling) untuk dislokasi bahu
  • Splint alias belat untuk dislokasi jari alias pergelangan tangan
  • Penyangga unik (brace) untuk penanganan dislokasi lutut
  • Gips dalam beberapa kasus tertentu

Biasanya sendi kudu diistirahatkan selama 2-6 minggu, tergantung seberapa parah cederanya.

3. Rehabilitasi dan Fisioterapi

Ini adalah tahap nan sangat krusial dan sering menentukan apakah pemulihan bakal sempurna alias tidak.

Setelah periode istirahat, fisioterapis bakal membikin program latihan unik sesuai kondisi pasien.

Rehabilitasi dan fisioterapi pasca cedera biasanya dibagi dalam beberapa fase:

  • Fase awal: Fokusnya adalah mengurangi nyeri dan bengkak, serta mulai menggerakkan sendi secara perlahan.
  • Fase menengah: Latihan untuk meningkatkan aktivitas sendi, memperkuat otot-otot di sekitar sendi, dan melatih keseimbangan.
  • Fase lanjut: Latihan nan menyerupai aktivitas sehari-hari, melatih stabilitas ligamen dan otot, dan persiapan untuk kembali beraktivitas normal alias berolahraga.

Fisioterapi sangat krusial untuk mencegah akibat cedera berulang. Penelitian menunjukkan bahwa pasien nan giat fisioterapi mempunyai kemungkinan jauh lebih mini untuk mengalami dislokasi lagi.

4. Obat-Obatan

Dokter biasanya bakal memberikan obat untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan:

  • Obat pereda nyeri untuk mengatasi rasa sakit
  • Obat anti-inflamasi (anti-radang) untuk mengurangi bengkak
  • Obat pelemas otot jika ada tegang otot

Risiko dan Komplikasi Jangka Panjang

Risiko Dislokasi Berulang

Salah satu masalah nan paling umum setelah dislokasi adalah akibat dislokasi berulang.

Setelah sendi pernah dislokasi, bagian-bagian pendukungnya mungkin tidak sekuat dulu lagi, sehingga sendi menjadi lebih mudah cedera lagi di kemudian hari.

Risiko ini terutama tinggi pada dislokasi bahu. Pada orang muda nan aktif, kemungkinan mengalami dislokasi bahu lagi bisa mencapai 50-90% jika tidak ditangani dan direhabilitasi dengan baik.

Karena itu, program latihan penguatan melalui fisioterapi sangat penting.

Dari Cedera Akut Menjadi Masalah Kronis

Dislokasi adalah cedera akut—artinya terjadi tiba-tiba lantaran trauma. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, cedera akut ini bisa berkembang menjadi masalah kronis (jangka panjang):

Perbedaan cedera akut dan kronis adalah: cedera akut terjadi sekali akibat benturan, sementara masalah kronis adalah kondisi nan terus bersambung dalam waktu lama. Contohnya:

  • Sendi menjadi tidak stabil selamanya dan mudah cedera lagi
  • Nyeri nan tidak hilang-hilang dan mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Kerusakan pada permukaan sendi nan menyebabkan radang sendi (osteoartritis) lebih cepat
  • Gerakan sendi menjadi terbatas secara permanen

Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Dampak pergeseran tulang terhadap aktivitas sehari-hari bisa sangat mengganggu, terutama di awal-awal setelah cedera.

Tergantung sendi mana nan cedera, seseorang mungkin kesulitan untuk:

  • Bekerja, terutama pekerjaan nan memerlukan tangan alias kaki nan cedera
  • Melakukan pekerjaan rumah sederhana seperti mandi, berpakaian, alias memasak
  • Berolahraga alias melakukan hobi
  • Berkendara alias menggunakan kendaraan umum

Dukungan dari family dan penyesuaian lingkungan sangat membantu selama masa pemulihan.

Cara Mencegah Dislokasi

Meskipun tidak semua pergeseran tulang bisa dicegah, terutama nan terjadi lantaran kecelakaan, ada beberapa langkah untuk mengurangi risikonya:

1. Perkuat Otot di Sekitar Sendi

Cara paling efektif untuk mencegah pergeseran tulang adalah dengan memperkuat otot-otot di sekitar sendi.

Otot nan kuat memberikan perlindungan tambahan pada sendi dan bisa menyerap sebagian tumbukan nan mungkin menyebabkan cedera.

Ini sangat krusial bagi mereka nan pernah mengalami pergeseran tulang sebelumnya.

2. Berolahraga dengan Benar

Bagi nan aktif berolahraga:

  • Pelajari dan gunakan teknik nan benar
  • Lakukan pemanasan nan cukup sebelum berolahraga
  • Gunakan pelindung nan sesuai (misalnya pelindung lutut, siku, dll)
  • Hindari aktivitas nan terlalu memaksakan sendi

3. Latihan Keseimbangan

Latihan keseimbangan dan koordinasi bisa membantu tubuh lebih peka terhadap posisi sendi, sehingga bisa bereaksi lebih sigap untuk melindungi diri saat ada situasi berbahaya.

4. Konsultasi dengan Ahli

Jika Anda pernah mengalami pergeseran tulang alias merasa sendi Anda rentan cedera, sebaiknya berkonsultasi dengan master ortopedi alias fisioterapis.

Mereka bisa memberikan saran unik sesuai kondisi Anda.

Kapan Harus ke Dokter?

Pergeseran tulang adalah kondisi darurat nan kudu segera ditangani. Segera ke klinik ortopedi alias rumah sakit terdekat jika:

  • Merasakan nyeri nan sangat dahsyat dan tiba-tiba pada sendi setelah tumbukan alias jatuh
  • Sendi terlihat berubah corak alias tidak normal
  • Sama sekali tidak bisa menggerakkan sendi
  • Ada meninggal rasa, kesemutan, alias perubahan warna kulit di bawah area cedera
  • Area nan cedera membengkak dengan sangat cepat

Jangan menunda-nunda alias berambisi kondisi bakal membaik sendiri. Semakin sigap pergeseran tulang ditangani, semakin baik hasilnya dan semakin mini akibat komplikasi di kemudian hari.

Kesimpulan tentang Dislokasi

Dislokasi alias pergeseran tulang adalah cedera sendi nan serius di mana tulang bergeser dari posisi normalnya, menyebabkan nyeri akut, pembengkakan, dan ketidakmampuan menggerakkan sendi.

Pergeseran tulang bisa terjadi di beragam sendi, dengan pergeseran tulang bahu, lutut, dan jari-jari termasuk nan paling umum.

Memahami penyebab pergeseran tulang, indikasi pergeseran tulang, dan perbedaannya dengan cedera lain seperti keseleo sangat penting.

Yang paling krusial adalah: pergeseran tulang kudu segera ditangani oleh master dan tidak boleh dibiarkan sembuh sendiri.

Penanganan nan tepat—mulai dari reduksi sendi oleh dokter, rehat dengan imobilisasi, hingga program rehabilitasi nan lengkap—adalah kunci untuk pulih dengan sempurna dan mencegah akibat pergeseran tulang berulang.

Meskipun banyak nan bertanya “dislokasi bisa sembuh sendiri alias tidak” alias “apakah dislokasi kudu operasi”, jawabannya jelas: pergeseran tulang memerlukan penanganan medis profesional, dan sebagian besar kasus bisa ditangani tanpa operasi jika ditangani sigap dan diikuti rehabilitasi nan benar.

Dengan memahami anatomi sendi dan pergerakan tulang, sistem cedera pada sendi, serta pentingnya menjaga stabilitas ligamen dan otot melalui latihan nan tepat, kita bisa mengurangi akibat mengalami cedera nan menyakitkan ini.

Bagi nan pernah mengalami pergeseran tulang, komitmen untuk menjalani rehabilitasi dan fisioterapi pasca cedera dengan sungguh-sungguh adalah investasi krusial untuk kesehatan sendi jangka panjang.

Jika mau berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri dengkul dengan master mahir Klinik Patella dapat menghubungi melalui WA di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda berbareng Klinik Patella!

Pertanyaan Seputar Dislokasi

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan nan muncul seputar topik pergeseran tulang.

Apa perbedaan dislokasi dengan keseleo?

Keseleo adalah cedera pada ligamen (jaringan pengikat tulang) nan meregang alias robek, tetapi tulang tetap pada posisinya.

Sementara pergeseran tulang adalah kondisi di mana tulang betul-betul bergeser alias keluar dari posisi normalnya di dalam sendi.

Pergeseran tulang umumnya lebih serius daripada keseleo dan memerlukan penanganan medis segera.

Bagaimana langkah mencegah dislokasi berulang setelah pulih?

Kunci mencegah pergeseran tulang berulang adalah menjalani program rehabilitasi dan fisioterapi secara komplit untuk memperkuat otot-otot di sekitar sendi. Selain itu:

  • Lakukan pemanasan nan cukup sebelum berolahraga
  • Gunakan pelindung nan sesuai saat beraktivitas
  • Hindari aktivitas nan terlalu memaksakan sendi
  • Konsultasikan dengan master ortopedi alias fisioterapis untuk program latihan nan tepat.

Apakah Dislokasi Harus Operasi?

Tidak selalu. Sebagian besar pergeseran tulang bisa master tangani tanpa operasi, terutama jika ini adalah dislokasi pertama kali dan tidak ada kerusakan nan terlalu parah.

Operasi ortopedi biasanya baru diperlukan jika:

  • Pergeseran tulang terus berulang, menunjukkan sendi sudah tidak stabil
  • Ada kerusakan besar pada ligamen alias struktur sendi lainnya
  • Ada potongan tulang alias tulang rawan nan terlepas dan menghalangi aktivitas sendi
  • Penanganan tanpa operasi tidak berhasil
  • Tulang tidak bisa dikembalikan ke posisi normal dengan langkah biasa

Jadi sebagian besar kasus pergeseran tulang bisa sembuh dengan baik tanpa perlu operasi, asalkan ditangani dengan sigap dan benar.

Dislokasi Bisa Sembuh Sendiri alias Tidak?

Ini pertanyaan krusial nan kudu dijawab dengan tegas: dislokasi tidak bisa dan tidak boleh dibiarkan sembuh sendiri.

Meskipun tubuh kita mempunyai keahlian untuk menyembuhkan luka, tulang nan bergeser kudu dikembalikan ke posisi nan betul oleh master alias tenaga medis nan terlatih.

Kenapa tidak boleh dibiarkan? Karena jika tulang dibiarkan dalam posisi nan salah:

  • Sendi bakal sembuh dalam posisi nan tidak normal
  • Sendi bakal tetap tidak stabil selamanya
  • Risiko pergeseran tulang berulang bakal sangat tinggi
  • Bisa merusak saraf dan pembuluh darah nan tertekan
  • Bisa menyebabkan radang sendi (artritis) lebih cepat

Jadi segera cari pertolongan medis jika mengalami pergeseran tulang.

Berapa Lama Pemulihan Dislokasi?

Waktu pemulihan sangat bervariasi tergantung beberapa hal:

  • Lokasi cedera: Pergeseran bahu ringan biasanya butuh 3-12 minggu untuk pulih. Pergeseran dengkul nan lebih rumit bisa menyantap waktu 3-4 bulan alias apalagi lebih lama.
  • Tingkat keparahan: Pergeseran tulang ringan dan berat tentu berbeda waktu pemulihannya. Cedera nan lebih parah memerlukan waktu lebih lama.
  • Kepatuhan terhadap program terapi: Pasien nan giat mengikuti fisioterapi dan mengikuti rekomendasi master biasanya pulih lebih cepat.
  • Usia dan kesehatan umum: Orang nan lebih muda dan sehat condong lebih sigap pulih.

Selengkapnya