Telset.id – IG kembali mempertegas posisinya dalam perang dingin melawan platform video pendek pesaing. Algoritma IG Reels sekarang dilaporkan semakin garang dalam membatasi jangkauan (reach) konten video nan terdeteksi memuat watermark dari aplikasi pihak ketiga, khususnya CapCut. Langkah taktis ini menjadi sinyal keras dari Meta bahwa mereka tidak lagi mentolerir “daur ulang” konten mentah nan secara tidak langsung mempromosikan ekosistem pesaing di platform mereka.
Bagi para pembuat konten, ini adalah peringatan serius. Kebiasaan mengunggah ulang video nan diedit secara instan menggunakan template gratisan sekarang berpotensi mematikan pertumbuhan akun. Sistem kepintaran buatan (AI) IG telah dilatih untuk mengenali logo, watermark, dan komponen visual unik dari aplikasi editing populer, terutama akhiran video (outro) default dari CapCut nan sering kali luput dari perhatian pengguna.
Mekanisme “Hukuman” Algoritma Instagram
Instagram sebenarnya telah lama menyuarakan preferensi mereka terhadap konten orisinal. Namun, pembaruan algoritma terkini menunjukkan penegakan patokan nan jauh lebih ketat. Ketika sebuah video diunggah ke Reels, sistem IG melakukan pemindaian visual secara otomatis. Jika sistem mendeteksi adanya tanda air (watermark) dari TikTok alias logo CapCut di akhir video, konten tersebut bakal dikategorikan sebagai “konten daur ulang”.
Konsekuensinya tidak main-main. Video tersebut tidak bakal dihapus, namun bakal mengalami shadowban halus. Konten Anda tidak bakal dipromosikan di tab Reels (Explore) dan kemungkinan besar tidak bakal muncul di rekomendasi pengguna nan belum mengikuti Anda (non-followers). Artinya, visibilitas konten tersebut hanya terbatas pada pengikut setia Anda saja, menghalang potensi viralitas nan menjadi tujuan utama bermain Reels.

Langkah ini diambil Meta untuk menjaga kualitas pengalaman pengguna. Mereka tidak mau Reels hanya menjadi tempat pembuangan konten nan sudah viral duluan di TikTok. Selain itu, secara bisnis, membiarkan logo CapCut alias TikTok bertebaran di Reels sama saja dengan memberikan ruang iklan cuma-cuma bagi ByteDance, induk perusahaan pesaing mereka. Mengingat masalah privasi nan sempat membayangi ByteDance, Meta tampaknya semakin enggan diasosiasikan dengan platform tersebut.
CapCut: Teman Sekaligus Lawan
Tidak bisa dipungkiri, CapCut telah menjadi standar industri bagi pembuat konten pemula hingga menengah. Kemudahan penggunaan, fitur otomatisasi, dan ribuan template siap pakai membikin aplikasi ini sangat digemari. Banyak pembuat nan memanfaatkan template CapCut untuk memproduksi konten secara massal dan cepat. Namun, kenyamanan ini sekarang kudu dibayar mahal dengan penurunan performa di Instagram.
Masalah utamanya sering kali terletak pada ketidaktelitian pengguna. Versi cuma-cuma CapCut secara default menambahkan klip penutup berdurasi beberapa detik nan menampilkan logo aplikasi. Bagi algoritma Instagram, klip pendek ini adalah “bendera merah”. Meskipun video utamanya bersih, kehadiran logo di detik-detik terakhir sudah cukup untuk memicu pembatasan jangkauan.
Ironisnya, ketenaran CapCut justru menjadi bumerang bagi pembuat nan malas melakukan kurasi. Padahal, banyak pembuat nan sebenarnya tahu cara hasilkan uang dari konten video, namun terganjal oleh teknis sepele seperti watermark ini. IG menginginkan ekosistem di mana konten dibuat secara natif menggunakan fitur mereka, alias setidaknya terlihat “bersih” dan ahli tanpa embel-embel platform lain.
Fenomena ketergantungan pembuat pada aplikasi pihak ketiga ini membikin Meta gerah. Mereka menyadari bahwa selama perangkat editing terbaik ada di luar platform mereka, mereka bakal selalu menjadi “pemain kedua”. Oleh lantaran itu, selain menghukum konten ber-watermark, IG juga mulai mengembangkan solusi internal.
Rumor dan laporan terbaru menyebut bahwa IG sedang mempersiapkan senjata baru. Kabarnya, aplikasi editing berdikari nan mungkin diberi nama “Edits” sedang dalam pengembangan. Tujuannya jelas: menarik kembali para pembuat agar melakukan proses produksi dari hulu ke hilir di dalam ekosistem Meta, memutus ketergantungan pada perangkat buatan ByteDance.

Jika strategi ini berhasil, Meta tidak hanya bakal mendapatkan konten nan lebih orisinal, tetapi juga info perilaku pengguna nan lebih lengkap—mulai dari proses editing hingga publikasi. Namun, sampai perangkat tersebut betul-betul dirilis dan terbukti setangguh CapCut, pembuat tetap bakal terjebak dalam dilema: menggunakan perangkat nan mudah tapi berisiko kena penalti, alias berjuang dengan perangkat bawaan Reels nan fiturnya tetap terbatas.
Solusi Bagi Kreator Konten
Lantas, apa nan kudu dilakukan agar video tetap mendapatkan jangkauan maksimal meski diedit di luar Instagram? Jawabannya sederhana namun memerlukan sedikit upaya ekstra: hapus jejaknya.
Pertama, pastikan untuk selalu menghapus bagian ending default di CapCut. Fitur ini bisa dimatikan secara permanen melalui pengaturan aplikasi, alias dihapus manual setiap kali mengedit proyek baru. Kedua, hindari menggunakan fitur “Share directly to TikTok” nan otomatis menempelkan watermark bergerak di sepanjang video. Jika Anda mau mengunggah konten nan sama di TikTok dan Reels, biasakan untuk menyimpan video murninya terlebih dulu di galeri ponsel.
Selain itu, perhatikan rasio aspek dan kualitas video. Algoritma IG Reels juga condong memprioritaskan video dengan resolusi tinggi dan format vertikal penuh (9:16). Video nan terlihat buram alias mempunyai border hitam lantaran rasio nan salah juga berisiko dianggap sebagai konten berbobot rendah (low quality).
Bagi pembuat nan serius, mungkin ini saatnya mempertimbangkan untuk menggunakan aplikasi editing ahli di PC alias aplikasi mobile lain nan tidak memaksakan branding mereka secara agresif. Ingat, dalam bumi algoritma media sosial nan dinamis, adaptabilitas adalah kunci. Bersikeras menggunakan langkah lama nan sudah ditandai sebagai “spam” oleh platform hanya bakal membuang waktu dan daya Anda.
Perubahan ini menegaskan bahwa IG tidak main-main dalam menjaga eksklusivitas kontennya. Era “copy-paste” konten antar platform sudah berakhir. Kreator dituntut untuk lebih cerdas, lebih bersih, dan lebih orisinal jika mau tetap relevan di mata algoritma Reels nan semakin kritis.